Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

Sumpah di Balik Tabir Sutra

Rayhan dipanggil ke meja sang CEO dingin. Arganata memberikan instruksi tegas namun tenang: mencari perancang busana muslimah terbaik tanah air yang menguasai kaidah fiqih aurat sekaligus memiliki cita rasa adibusana internasional. Rayhan menyodorkan puluhan portofolio desainer ternama, namun Arganata menolak desainer yang hanya mengejar tren serba ketat. Hingga sampailah pandangannya pada profil Fattana Fathiyah, desainer lulusan Paris sekaligus putri Kyai pesantren.

"Cari perancang yang mengerti bahwa pakaian adalah pelindung kehormatan, bukan sekadar penutup raga yang memperlihatkan lekuk tubuh." Cuplikan Mutiara

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 01 : Menara Kaca dan Hujan Sudirman ===

Waktu: 23:42 WIB | Lokasi: Lantai 42 Dewangga Tower, Sudirman Central Business District | Suasana: Klaustrofobik, Mencekam, Melankolis

─ 🌹 ─

Malam di langit Jakarta luruh dalam amarah yang dingin. Hujan akhir musim menghantam dinding kaca tempered lantai empat puluh dua Dewangga Tower tanpa ampun, membiaskan gemerlap lampu jalanan Sudirman menjadi lelehan prisma jingga yang carut-marut. Di dalam ruangan seluas dua ratus meter persegi itu, pendingin udara mendesing teramat lirih, hampir mati tercekik oleh hening yang terlalu padat. Tidak ada alunan jazz, tidak ada gemerincing cangkir porselen. Hanya ada aroma tembakau cerutu tua yang tak dinyalakan dan kepedihan terselubung kayu cendana yang merayap lambat dari sudut meja marmer hitam Nero Marquina.


Arganata Raditya Dewangga berdiri membelakangi pintu ganda berlapis kulit rusa. Tubuhnya yang tegap dibalut jas wol bespoke berpalet arang gelap—potongan Savile Row yang tanpa cacat, kaku, dan tak menyisakan ruang bagi kelemahan manusiawi. Kedua tangannya tertanam di dalam saku celana, namun jika seseorang memperhatikan pantulan bayangannya pada kaca basah itu, jemari kirinya sesungguhnya tengah meremas sebuah robekan kain katun putih berukuran lima sentimeter. Kain lusuh berbercak darah kering kecokelatan yang telah mengeras selama lima tahun.

Kain itu adalah robekan kemeja terakhir milik Rania.

Setiap kali petir menyambar di kejauhan, membakar cakrawala malam di atas jembatan Semanggi, ingatan itu kembali menikam ulu hati Arganata dengan ketajaman belati berkarat. Suara derap sepatu hak tinggi di atas panggung runway megah lima tahun silam; kilatan ratusan blitz kamera fotografer mode yang lapar; lalu tawa menjijikkan para pemodal di ruang VIP usai pertunjukan busana bertajuk 'Sensual Modernity'. Malam terkutuk ketika adiknya—gadis belia berumur sembilan belas tahun yang polos dan bercita-cita menjadi peragawati muslimah—dipaksa mengenakan gaun sutra transparan yang melekat vulgar pada tubuhnya, dijadikan umpan investasi, hingga akhirnya marwahnya direnggut di balik pintu kamar hotel berbintang.

Dua jam setelah malam kehancuran itu, Rania melompat dari lantai delapan belas apartemennya. Yang tersisa di tangan Arganata hanyalah robekan kain katun basah bersimbah darah di aspal dingin, serta rasa bersalah tak terampuni yang mengutuk denyut nadinya seumur hidup.

Ketukan tiga kali di daun pintu kayu eboni memecah kuburan ingatan itu. Kering, terukur, namun sarat getaran kecemasan yang tak mampu disembunyikan sang pengetuk.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 02 : Pengadilan Dingin dan Lima Belas Lembar Aib

Waktu: 23:48 WIB | Lokasi: Meja Marmer Nero Marquina, Ruang Eksekutif | Suasana: Tegang, Konfrontatif, Menghakimi

─ 🌹 ─

"Masuk, Rayhan,"

Suara Arganata terdengar rendah, tenang bagai permukaan danau beku yang menyimpan palung kematian di dasarnya. Ia bahkan tidak membalikkan badan.

Pintu terbuka dengan gesekan engsel peredam suara. Rayhan Ramadhan melangkah masuk dengan langkah kaki yang tertahan. Langkah seorang prajurit yang sadar sedang memasuki ruang interogasi tanpa perisai. Di kedua lengannya, Rayhan mendekap map folio tebal berlapis kulit buaya Italia bertatahkan monogram emas Dewangga Haute Couture. Keringat dingin merembes tipis di pelipis sang Chief Creative Officer, membasahi kerah kemeja linen mahalnya.

"Duduk,"

Perintah itu jatuh singkat. Arganata berputar perlahan. Wajahnya yang berpahat tegas, dengan rahang persegi dan sorot mata elang yang temaram, memancarkan aura dominasi mutlak yang sanggup mencekik nyali siapa pun di dewan direksi. Tidak ada kehangatan di sana. Arganata telah mengebiri emosinya sejak liang lahat Rania ditutup tanah merah.

Rayhan menarik napas perlahan, meletakkan map tebal itu tepat di hadapan Arganata. "Saya telah mengumpulkan seluruh kurasi akhir, Pak Arga. Lima belas nama perancang papan atas Indonesia. Delapan di antaranya peraih medali emas Jakarta Fashion Week, empat jebolan Milan Fashion Institute, dan tiga desainer langganan para menteri serta selebritas metropolitan. Setiap portofolio disertai kalkulasi proyeksi pasar untuk peluncuran lini busana muslimah kuartal pertama tahun depan."

Arganata melangkah mendekat. Derap sol sepatu kulit buatannya menghujam lantai parket dengan ritme metronom yang menakutkan. Ia menarik kursi kulit berkancing perak, lalu duduk. Matanya menyapu sampul berkas itu tanpa sedikit pun antusiasme.

Dengan gerakan jemari yang santai namun dingin, Arganata membuka halaman pertama: Julian Vance. Desainer kondang yang diagung-agungkan majalah gaya hidup papan atas. Sketsa yang terpampang menampilkan abaya modern dengan bahan sifon sutra melayang, belahan paha setinggi lutut, dan potongan dada berkerah V rendah yang ditutupi manset sewarna kulit.

Sebuah seringai tipis, sarat racun dan kehinaan, tersungging di sudut bibir Arganata.

"Julian Vance..." gumam Arganata. Suaranya serupa bilah baja yang digesekkan pada batu asahan. "Dia menyebut rancangan ini 'Eksotisme Padang Pasir Kontemporer'. Rayhan, jelaskan padaku dengan akal sehatmu: sejak kapan kain kasa tembus pandang yang menjiplak lekuk pinggang dan menonjolkan lekukan payudara disebut busana muslimah?"

Rayhan menelan ludahnya yang mendadak terasa pahit bagai empedu. "Julian berargumen bahwa wanita karier urban membutuhkan fleksibilitas gerak, Pak. Siluet pas badan memberi kesan ramping dan berwibawa di ruang rapat internasional..."

Arganata membalik halaman berikutnya tanpa mendengar. Kali ini karya Clarissa Lim: gamis satin mengkilap dengan potongan korset ketat di bagian pinggang yang membentuk siluet jam pasir secara dramatis. Lalu lembar ketiga, keempat, hingga kesepuluh—karya-karya adibusana berbanderol ratusan juta rupiah yang dipenuhi ornamen swarovski mencolok, punggung terbuka tersamar renda tipis, dan jilbab instan mini yang bahkan tak menutup pangkal leher sang peragawati.

Amarah yang membatu di dada Arganata perlahan memanaskan pembuluh darah di pelipisnya. Dadanya bergemuruh. Baginya, setiap garis pensil di atas kertas manila itu bukan karya seni, melainkan dokumen pelacuran moral berselubung komersialisasi agama. Mereka tidak sedang merancang pakaian; mereka sedang membedah tubuh wanita untuk disajikan di atas etalase kapitalisme.

BRAKKK!

Arganata menghantamkan map tebal itu ke permukaan marmer. Suara benturannya meledak di dalam ruangan, meredam deru halilintar di luar jendela. Rayhan tersentak mundur, punggungnya menegang kaku di sandaran kursi.

Arganata bangkit berdiri, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. Sorot matanya menyala dalam kegelapan temaram, menghunus tepat ke manik mata Rayhan dengan intensitas yang nyaris meremukkan tulang.

"Kalian semua buta, atau memang sengaja menukar nurani kalian dengan lembaran cek kosong?!" desis Arganata, suaranya bergetar menahan amuk yang purba. "Kalian memanggil para pembuat aib ini sebagai maestro mode? Mereka memperdagangkan siluet erotis dengan dalih modernitas! Mereka menipu para wanita untuk percaya bahwa mereka sedang menutup aurat, padahal mereka hanya sedang membungkus ketelanjangan dengan kain tipis yang membangkitkan syahwat para bajingan!"

Napas Arganata memburu. Suaranya tiba-tiba merendah, tetapi bobot kata-katanya menekan udara ruangan hingga terasa menyesakkan:

"Cari perancang yang mengerti bahwa pakaian adalah pelindung kehormatan, bukan sekadar penutup raga yang memperlihatkan lekuk tubuh!"

Lihat selengkapnya