Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Gurat Benang Ilahi

Fattana menerima surat resmi berlogo emas dari Gemeling Shakti Creation. Ia sempat terkejut karena konglomerasi sebesar itu ingin merombak seluruh pakaian karyawannya menjadi syar'i. Di tengah tawaran proyek luar negeri yang mewah, batin Fattana tergerak oleh surat Arganata yang mengutip pentingnya menjaga kehormatan kaum wanita pekerja. Fattana memohon petunjuk ayahnya di Jawa Timur sebelum memutuskan menerima pertemuan awal.

Kutipan: "Bila pena desainku bisa membantu seorang saudari muslimah menutup auratnya dengan terhormat, maka itu lebih berharga dari tepuk tangan panggung Paris."

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 01 : Hujan di Kaca Menteng dan Segel Emas Gemeling

Atmosfir Atelier dan Ketukan Awal Takdir

─ 🌹 ─

Hujan bulan November jatuh mencambuk kaca jendela lantai tiga atelier di kawasan Menteng itu tanpa ampun, membiaskan gemerlap lampu jalanan Jakarta menjadi garis-garis emas yang lebam dan bergetar. Di dalam ruang kerja seluas empat puluh meter persegi tersebut, hanya terdengar gesekan teratur pisau pemotong kain di atas matras penyembuh-mandiri serta dengung halus pendingin ruangan yang berbau lavender samar dan debu katun.

Fattana Nuha mematung di sisi meja kayu jati tuanya. Tangannya yang biasanya lentur dan tenang saat menggoreskan grafit di atas kertas sketsa kini menggantung kaku di udara. Di hadapannya, tergeletak sebuah map tebal dari kulit katsura cokelat gelap dengan cap timbul berlapis foil emas murni sembilan puluh sembilan karat: lambang surya bertakhtakan trisula abstrak milik Gemeling Shakti Creation.

Konglomerasi itu adalah monster baja dan modal. Gurita korporasi yang menguasai jaringan ritel lintas pulau, galangan logistik, hingga menara-menara perbankan di koridor Sudirman. Surat resmi yang berada di dalam map itu bukan sekadar undangan makan malam amal atau permohonan rancangan kebaya resepsi para istri pemegang saham mayoritas. Itu adalah dokumen bertaraf Memorandum of Understanding setebal tujuh puluh delapan halaman, dengan klausul yang sanggup membuat jantung setiap perancang mode di Asia Tenggara melonjak copot.

Gemeling Shakti Creation berniat melakukan reformasi total terhadap seluruh seragam kerja karyawan perempuannya—mencakup empat puluh dua ribu pekerja di delapan belas anak perusahaan—menjadi busana kerja syar'i yang anggun, berwibawa, menutup lekuk tubuh secara sempurna tanpa mereduksi ketangkasan gerak profesional. Dan nama Fattana Nuha tertera di baris pertama sebagai Konsultan Tunggal dan Perancang Kepala.

Fattana menarik napas panjang. Udara yang terhirup terasa dingin dan berpasir di kerongkongannya. 'Mengapa aku?' bisiknya pada kesunyian yang basah. Jari telunjuknya menyentuh segel emas itu. Teksturnya dingin, kaku, dan menyimpan aroma khas kertas linen Belgia bercampur wangi kayu cedar yang angkuh. Gemeling Shakti bukanlah entitas yang dikenal memiliki kepekaan religius. Publik mengenalnya sebagai raksasa tanpa wajah yang memuja efisiensi laba dan angka-angka kuartalan di Bursa Efek.

Lalu, mengapa tiba-tiba seorang Arganata Gemeling—pucuk pimpinan muda yang terkenal dingin, sukar dijangkau media, dan berdarah dingin dalam akuisisi bisnis—menuliskan sebuah catatan pengantar pribadi dengan tulisan tangan miring yang tegas di halaman pembuka?

Catatan itu berbunyi: 'Kehormatan seorang perempuan pekerja di lantai pabrik dan di balik meja kasir kami tidak boleh lagi dikompromikan oleh tuntutan estetika yang memperdaya. Saya membutuhkan nurani Anda, Nona Fattana, bukan sekadar ketajaman gunting Anda.'

Kalimat itu tidak sekadar menggetarkan batin Fattana; kalimat itu menghantamnya tepat pada luka lama yang belum sepenuhnya mengering.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 02 : Bayang-Bayang Paris dan Gema Sumpah yang Retak

Retrospeksi Panggung Mode Eropa dan Harga Sebuah Integritas

─ 🌹 ─

Pandangan Fattana terlempar ke arah rak kayu di sudut ruangan, tempat bertumpuknya map-map berkas internasional berstempel kurir udara dari Paris dan Milan. Tiga hari lalu, Maison de L’Ombre—salah satu rumah mode prestisius di Place Vendôme—resmi memperbarui tawaran residensi artistik untuknya. Tawaran yang mencakup anggaran tak terbatas, peliputan eksklusif majalah Vogue Paris, dan akses ke panggung pekan mode musim gugur mendatang.

Dunia barat menawarkan apa yang diimpikan oleh setiap anak manusia yang memegang jarum jahit: pemujaan duniawi, nama yang diabadikan dalam kamus haute couture global, dan sorak-sorai selebritas kelas satu. Namun, ingatan Fattana seketika ditarik mundur dua puluh empat bulan silam, ke sebuah malam musim dingin yang menusuk di Paris.

Malam itu, di belakang panggung Grand Palais yang dipenuhi aroma hairspray menyengat dan kepanikan para asisten perancang, Fattana menyaksikan seorang gadis magang keturunan Aljazair bernama Amina. Amina menangis terisak di lorong sempit dekat tangga darurat, seraya meremas hijab hitamnya yang dipaksa lepas oleh direktur artistik pementasan. Sang direktur membentak dengan bahasa Prancis yang sinis: 'Kain di kepalamu ini menghancurkan kemurnian siluet leher gaun ini! Ini seni, bukan tempat ibadah pinggiran!'

Fattana saat itu berdiri mematung hanya beberapa meter dari sana. Jantungnya berdentam seperti genderang perang, darahnya mendidih hingga pelipisnya berdenyut ngilu. Ia melihat bagaimana Amina gemetar menutupi rambutnya dengan kedua telapak tangan yang kedinginan, sementara para model kurus berwajah pualam melenggang acuh tak acuh melewatinya menuju gemerlap lampu sorot panggung utama.

Malam itu juga, Fattana mengemas seluruh sketsanya dari apartemen sewaan di Rue Saint-Honoré. Di hadapan cermin kecil kamar mandinya, dengan air mata yang menetes membasahi kerudung voal yang ia kenakan, ia mengikrarkan janji suci yang mengunci jalan hidupnya:

'Bila pena desainku bisa membantu seorang saudari muslimah menutup auratnya dengan terhormat, maka itu lebih berharga dari tepuk tangan panggung Paris.'

Kini, sumpah itu seperti berdiri tegak menatapnya dari balik kaca atelier Menteng. Tawaran Paris masih terbuka di laci kanannya, menjanjikan ketenaran personal yang bersih dari komplikasi sosial. Sementara di laci kirinya, terhampar proposal Gemeling Shakti—sebuah palung tak terduga yang sarat intrik, kecurigaan, dan potensi komodifikasi agama yang amat licin.

Fattana menggigit bibir bawahnya. Bagaimana jika Arganata Gemeling hanya seorang pedagang oportunis yang melihat gelombang kesalehan publik sebagai ceruk pasar baru? Bagaimana jika busana syar'i yang ia rancang dengan darah dan air mata nantinya hanya dijadikan etalase pemanis untuk menutupi eksploitasi jam kerja atau skandal ketenagakerjaan di anak-anak perusahaan raksasa itu?

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀

Lihat selengkapnya