Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Wibawa Yang Tertunduk

Arganata dan Rayhan berkunjung langsung ke butik Fattana. Di sana tidak ada musik yang memekakkan, melainkan lantunan instrumen petikan gambus yang teduh dan aroma harum kayu gaharu. Saat Fattana keluar menyapa didampingi staf seniornya, Arganata secara spontan menundukkan pandangan (ghaddul bashar). Suara lembut dan tutur kata Fattana yang sarat adab menyentuh sisi batin Arganata yang selama ini beku bagai kutub.

Sebuah perjumpaan di mana tatapan yang menolak memandang justru menelanjangi kepalsuan dunia korporat, menuntun langkah seorang putra yang terluka menuju gerbang taubat sang ayah. "Ada wibawa yang tak bersuara saat dua insan saling menundukkan pandangannya karena takut kepada Allah."— Cuplikan Mutiara

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


BAGIAN 01: AMBANG KAYU JATI DAN HEMBUSAN GAHARU

Ketika roda metropolitan terhenti di depan ketenangan yang asing

─ 🌹 ─

Hujan gerimis yang menyapu jalanan protokol ibu kota menyisakan kubangan minyak tipis di atas aspal kelabu. Di dalam sedan hitamnya, Arganata Danuarta mematikan mesin, namun jemarinya masih mencengkeram lingkar kemudi berlapis kulit dengan buku-buku jari yang memutih. Napasnya terhela berat, memecah kesenyapan kabin yang kedap. Di sampingnya, Rayhan memeriksa arloji Rolex-nya untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit—sebuah kegelisahan halus yang tak luput dari pengamatan mata elang Arganata, meski saat itu ia memilih memendam rasa curiganya di balik kebisuan.

Di seberang trotoar basah itu, berdirilah Butik Fattana. Tidak ada papan reklame akrilik raksasa yang menyala mencolok dengan lampu neon menyilaukan mata, tidak ada poster model berparas menor dengan bibir dipoles gincu menyala yang lazim dipajang oleh butik-butik adi busana di kawasan Menteng. Bangunan dua lantai itu berbalut bata ekspos berwarna terakota hangat, dipayungi kisi-kisi kayu jati bermotif arabeska sulur tanaman yang saling bertaut tanpa ujung—sebuah bahasa arsitektur yang menyiratkan ketakterbatasan Ilahi dalam kesahajaan duniawi.

Ketika daun pintu jati yang kokoh itu didorong pelan, tiada denting lonceng kuningan murahan yang mengagetkan. Yang menyambut langkah kaki Arganata justru aroma kayu gaharu—Aquilaria yang dibakar di atas bara arang batok kelapa dalam bejana tembaga di sudut serambi. Harumnya berat, dalam, menelusup ke lorong-lorong rongga dada, membuyarkan sisa aroma kopi pekat dan nikotin yang seharian mengerak di tenggorokannya. Dan di udara yang sejuk itu, mengalun petikan dawai gambus tunggal berirama bayati; nada-nada oud yang lirih, teduh, merayap bagai embun subuh yang jatuh di atas daun kering. Tiada musik pop bervolume bising yang menuntut telinga untuk berdosa. Di sini, kesunyian diperlakukan sebagai tamu kehormatan.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


BAGIAN 02: GALERI TENUN DAN FALSAFAH TABIR

Menyaksikan busana yang diciptakan bukan untuk menjual tubuh, melainkan menjaga marwah

─ 🌹 ─

Arganata melangkah lambat di atas lantai kayu yang berderit teredam karpet tenun Bukhara. Matanya yang terbiasa menakar nilai saham dan laporan rugi-laba kini menyusuri deretan manekin kayu tanpa kepala. Busana-busana syar'i yang tergantung di sana bukanlah potongan kain biasa. Tidak ada sutra berkilau murahan yang menempel ketat membentuk lekuk pinggul, tidak ada belahan dada yang diperdagangkan demi decak kagum, dan tiada taburan kristal berkilauan yang memekakkan mata dengan arogansi kekayaan.


Warna-warna yang dipilih bernapas dengan alam: hijau lumut yang menua di tebing batu, kelabu debu gurun, hitam jelaga yang pekat bagai malam tanpa bintang, dan rona pasir basah sesudah diterpa ombak samudra. Kain wol kashmir halus, tenun katun madinah bertekstur rapat, serta sifon arabika berlapis tiga jatuh menjuntai anggun, menutupi tanpa memenjarakan tubuh sang pemakai.

Arganata mengulurkan jemarinya, menyentuh tepian keliman sehelai abaya berwarna zaitun tua. Sentuhan serat kain itu terasa sejuk di kulit tangannya yang dingin. Ada sesuatu yang menghunjam ulu hatinya: seumur hidupnya, ia mengendalikan rantai pasok fesyen modern yang memeras wanita menjadi pajangan etalase. Baginya, pakaian wanita di ruang publik metropolitan adalah komoditas rangsangan visual yang dikapitalisasi demi angka miliaran rupiah. Namun kain yang kini tersentuh di ujung jarinya berbicara dengan bahasa yang sama sekali berlainan.

Busana di butik ini hadir sebagai perisai, bukan jerat. Kain ini dirancang untuk membebaskan wanita dari kewajiban melelahkan untuk selalu tampak menggoda di depan mata laki-laki asing. 'Menakjubkan,' gumam Rayhan di belakang pundaknya, namun ada nada sumbang dalam getar suara sang konsultan. Arganata menoleh sekilas; Rayhan sedang merapikan dasi sutranya dengan gerakan kikuk, sementara tangan kirinya mendekap erat sebuah map kulit hitam tebal berlambang segel notaris.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


BAGIAN 03: RETROSPEKSI KUTUB JIWA YANG RETAK

Mengapa hati Arganata membeku terhadap dunia dan wanita

─ 🌹 ─

Di hadapan selembar kain yang bersahaja itu, bendungan ingatan Arganata mendadak jebol. Kenangan lima tahun silam menyeruak bagai pecahan kaca yang ditancapkan paksa ke pelipisnya. Pesta gala tahunan Danuarta Corporation di lantai tiga puluh empat hotel bintang lima; denting gelas sampanye, tawa artifisial para pemegang saham, dan Clarissa—wanita yang pernah ia percayai sepenuh jiwanya—berdiri di sampingnya dengan gaun merah beludru yang terbuka hingga pangkal punggung.

Malam itu, Arganata mengira gaun Clarissa yang memikat adalah simbol kemenangan dan kebanggaan. Namun di balik kecantikan yang dipamerkan ke sekeliling ruangan, jemari lentik itu sedang menyelundupkan flashdisk berisi data tender rahasia kepada konsorsium pesaing. Tiga hari kemudian, kerajaan bisnis ayahnya, Danuarta, dihantam badai kebangkrutan massal. Tuan Danuarta tersungkur di atas lantai marmer ruang kerjanya, mencengkeram dada kirinya saat surat sita eksekusi pengadilan tiba. Ayahnya meninggal dalam kehinaan utang, sementara Clarissa lenyap ke luar negeri bersama direktur konsorsium yang memenangkan tender berdarah itu.

Sejak detik pemakaman ayahnya di bawah guyuran hujan lebat, Arganata mematikan seluruh kompas perasaannya. Ia bersumpah takkan pernah lagi mempercayai kelembutan wanita, menganggap segala bentuk senyum dan kesantunan sebagai topeng kalkulatif kaum oportunis. Ia membungkus dirinya dalam setelan wol Savile Row yang kaku dan mahal, mengubah matanya menjadi mata elang pemangsa korporat yang dingin tanpa ampun. Baginya, dunia adalah rimba tak bertuhan di mana manusia saling memakan.

Kedatangannya ke Butik Fattana sore ini sejatinya dipicu oleh satu hal: audit portofolio aset macet peninggalan ayahnya yang baru saja selesai diverifikasi oleh Rayhan. Butik ini, menurut berkas yang disodorkan Rayhan sepekan lalu, memiliki tunggakan kewajiban historis yang dapat dieksekusi untuk menutup likuidasi proyek properti Danuarta. Namun mengapa melangkah ke dalam butik ini justru membuat dadanya nyeri bagai ditikam jarum halus?

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


BAGIAN 04: WIBAWA YANG TAK BERSUARA (GHADDUL BASHAR)

Lihat selengkapnya