Fattana memaparkan konsep awal seragam 'Nurul Hayat'. Ia menjelaskan anatomi kain yang tidak menerawang (laa yashifu), tidak membentuk siluet tubuh (laa yashifu al-jism), serta breathable untuk iklim tropis. Arganata yang memiliki latar belakang manajemen industri dan material Turki menguji setiap detail ketahanan kain dan efisiensi biaya. Keduanya menemukan kecocokan intelektual yang luar biasa.
"Busana yang syar'i tidak pernah membatasi ruang gerak; ia justru membebaskan jiwa dari rasa khawatir akan pandangan yang tak pantas."— Cuplikan Mutiara
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BABAK 01: TIRAI KACA LANTAI TIGA PULUH DUA
Penyisihan Lima Belas Nama dan Tirani Kemewahan Semu
─ 🌹 ─
Hujan bulan November menghantam kaca tempered lantai tiga puluh dua Menara Nurul Hayat dengan dengung yang monoton dan dingin. Di luar, bentang cakrawala Sudirman tenggelam dalam kabut kelabu pekat, menyerupai raksasa beton yang membisu di bawah murka langit. Di dalam ruangan seluas dua ratus meter persegi itu, hanya ada hening yang mencekam, diiringi desah pendingin udara sentral dan aroma pahit double espresso yang telah mendingin di atas tatakan porselen hitam.
Arganata Danudirja tidak menoleh sedikit pun ketika pintu kayu aras Turki bergeser pelan. Pria berusia tiga puluh empat tahun itu berdiri tegak, membelakangi ruangan. Jas abu-abu arang potongan Savile Row membalut bahunya yang kokoh, namun jika ada yang berani mengamati lekuk lehernya dari dekat, ketegangan urat di sana memperlihatkan kelelahan purba yang disembunyikan dengan disiplin militer.
"Lima belas desainer, Pak Arga," suara Rayhan memecah kesunyian dengan nada hati-hati. Asisten eksekutif sekaligus orang kepercayaannya itu meletakkan sebuah map kulit beludru hitam di atas meja marmer marquina yang licin tanpa sebutir debu pun. "Semua nama teratas di asosiasi mode nasional. Tiga di antaranya pemenang penghargaan di Milan dan Tokyo. Seluruh portofolio purwarupa seragam perawat divisi trauma dan ruang isolasi terpadu sudah kami susun rapi."
Arganata membalikkan badannya perlahan. Gerakannya presisi, nyaris dingin tanpa emosi. Tatapan matanya laksana pisau bedah bermata dua—tajam, menyelidik, dan menuntut ketelitian mutlak. Ia melangkah menuju meja, menarik map itu dengan dua jari, lalu membukanya satu per satu.
Halaman pertama: sketsa gaun perawat bernuansa putih gading dengan potongan pinggang menyempit (tapered waist) dan belahan samping tersembunyi berbahan satin sutra sintetis. Arganata membalik halaman itu dalam waktu kurang dari dua detik.
Halaman kedua: setelan celana poliester mengilap dengan kerah rebah terbuka dan manset ketat berpola renda modern. Arganata mendengus pelan—dengusan yang membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Halaman kelima, kesepuluh, hingga kelima belas.
Hanya butuh waktu satu menit bagi sang CEO untuk menutup kembali map beludru itu. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia menggesernya hingga meluncur di atas marmer dan jatuh berdebam ke lantai karpet wol.
"Sampah," ucap Arganata dingin. Suaranya rendah, bariton yang tidak memerlukan intonasi tinggi untuk menanamkan rasa gentar.
Rayhan menarik napas pendek, menahan keterkejutan yang sebenarnya sudah ia duga. "Pak Arga, mereka adalah perancang dengan bayaran termahal di industri ini. Tren rumah sakit swasta premium di Singapura dan Dubai mengarah pada siluet yang mempertegas kesan modern, ramping, dan energik—"
"Modern? Ramping?" potong Arganata. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertumpu di bibir meja. Matanya berkilat dengan intensitas gelap yang sulit dipahami akal sehat korporat. "Sejak kapan ketelanjangan yang disamarkan menjadi tolok ukur profesionalitas medis? Mereka merancang pakaian untuk perempuan muslimah yang akan membungkuk mengangkat pasien stroke, menahan muntahan darah, dan berlari dua belas jam di bangsal intensif. Dan orang-orang dungu di portofolio ini justru memikirkan bagaimana caranya agar lekuk pinggul dan pinggang mereka tampak menggoda di bawah sorotan lampu neon?"
Arganata melangkah mendekat, auranya memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan. Kalimat berikutnya ia ucapkan dengan penekanan kata demi kata yang terukir layaknya prasasti baja:
"Cari perancang yang mengerti bahwa pakaian adalah pelindung kehormatan, bukan sekadar penutup raga yang memperlihatkan lekuk tubuh. Jika kau membawa satu lagi desainer yang menganggap kain syar'i sebagai beban estetika, kau sendiri yang akan saya gantikan sebelum matahari terbenam besok."
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BABAK 02: GARIS TAKDIR DARI RUE SAINT-HONORÉ
Dossier Fathiyah Modest dan Penjaga Tabir Pesantren
─ 🌹 ─
Keringat dingin membasahi punggung kemeja Rayhan. Selama empat tahun mengabdi pada Arganata Danudirja, ia tahu persis bahwa sang CEO tidak pernah menggertak. Di balik gelar Master Teknik Material dari Middle East Technical University di Ankara dan kesuksesannya membesarkan Nurul Hayat Healthcare Group menjadi imperium bernilai triliunan rupiah, Arganata adalah enigma yang kejam terhadap ketidaksempurnaan.
Namun Rayhan tidak panik. Sebagai tangan kanan yang telah melewati puluhan krisis manufaktur, ia telah menyiapkan kartu truf terakhirnya. Dari dalam tas kulitnya, Rayhan menarik sebuah berkas tipis bersampul linen kasar warna pasir gurun. Tanpa logo emas berkilau. Tanpa embel-embel stempel agensi kehumasan.
"Ada satu nama yang tidak masuk dalam daftar asosiasi komersial, Pak Arga," ujar Rayhan tenang, meletakkan berkas itu tepat di depan cangkir espresso dingin. "Namanya Fattana Fathiyah. Putri sulung Kyai Haji Manshur dari Pondok Pesantren Al-Bayan, Temanggung."
Alis Arganata terangkat sepersekian milimeter. Gerakan mikro yang menunjukkan minat langka.
"Putri Kyai?" gumam Arganata datar. "Kita sedang membangun fasilitas medis kelas dunia, Rayhan. Kita bukan sedang memesan seragam pengajian majelis taklim."
"Jangan terburu-buru menilai, Pak. Buka halaman ketiga," sahut Rayhan dengan keyakinan penuh. "Fattana menyelesaikan pendidikan sarjananya di Institut Français de la Mode di Paris dengan predikat summa cum laude. Selama tiga tahun di Paris, ia menolak tawaran magang di rumah mode papan atas Champs-Élysées hanya karena mereka menuntutnya menandatangani klausul larangan berhijab di ruang pameran. Ia mendirikan label independen bernama 'Fathiyah Modest'."
Arganata membuka halaman ketiga berkas linen tersebut. Pandangannya terpaku pada sketsa-sketsa tangan yang ditarik dengan tinta cina hitam di atas kertas bebas asam. Gambar-gambar itu tidak memamerkan pose model yang meliuk artifisial. Itu adalah diagram teknik tekstil yang sangat teliti: rincian sudut jatuhnya kain (*draping ratio*), pola sambungan tanpa jahitan di bawah ketiak untuk mobilitas lengan 180 derajat, serta catatan mikron benang.
Dan di sudut kanan bawah setiap lembar sketsa, tertulis sebuah catatan kaligrafi Arab yang anggun beserta terjemahan Latinnya:
*Al-Itqan: Kesempurnaan amal adalah manifestasi tertinggi dari iman seorang hamba.*
Arganata terdiam cukup lama. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es marmer perlahan menggelap oleh badai emosi yang tak terduga. Jari telunjuknya menyentuh sehelai sampel kain kecil yang disematkan dengan jarum pentul di sudut berkas. Sentuhan itu membuat ujung jarinya gemetar halus—getaran yang segera ia hentikan dengan mengepalkan tangannya di balik saku celana.
"Hubungi dia sekarang," desis Arganata, suaranya tercekat sesaat sebelum kembali mengeras. "Jadwalkan presentasi malam ini juga pukul delapan. Dan pastikan dia membawa seluruh data uji mekanis materialnya. Saya tidak akan memberinya kemudahan hanya karena dia anak seorang ulama besar."
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BABAK 03: ANATOMI SERAT DAN PERTARUNGAN INTELEKTUAL
Ketika Standar Fiqih Bertemu Rigoritas Tekstil Anatolia