Kabar tentang proyek perombakan seragam syar'i bocor ke kalangan staf. Sebagian karyawati yang terbiasa dengan rok span dan blazer ketat mulai cemas dan menganggap CEO mereka terlalu kaku dan puritan. Rayhan mencatat setiap keresahan karyawan dan melaporkannya kepada Arganata. Di sisi lain, Arganata meminta Fattana untuk tidak mengubah standar syariat demi kompromi sesaat, melainkan menghadirkan desain yang membuat pemakainya merasa bangga dan berwibawa.
π₯ βββ πΉ βββ π₯
BAGIAN 01 : DENTANG SENDOK, KABUT KACA, DAN GELOMBANG RESAH
Kantin Karyawan Lantai 15, Menara Gemeling Shakti Creation β Pukul 12.45 WIB
β πΉ β
Uap panas dari pipa mesin espresso di sudut kantin mendesis panjang, serupa dengus binatang purba yang terluka. Di balik dinding kaca tempered setinggi lima meter, Jakarta menggantung muramβkelabu pekat, sarat polusi dan gerimis yang ragu-ragu membasahi aspal Jalan Sudirman. Namun bukan mendung di luar sana yang membuat tengkukku meremang dingin. Melainkan getaran frekuensi rendah yang merayap di antara lantai marmer travertin kantin lantai lima belas ini.
Aku, Rayhan Al-Ghifari, duduk membiarkan cangkir Americano tanpa gulaku mendingin perlahan. Mataku menyapu ruangan berkapasitas tiga ratus orang itu. Biasanya, jam santap siang adalah panggung tawa renyahβgosip promosi jabatan atau diskon butik mewah di Grand Indonesia. Namun siang ini, gelak tawa itu lenyap, digantikan desau bisik-bisik tajam yang bergesekan di udara. Dentang sendok porselen beradu kaku, seolah tiap orang cemas memecah konsentrasi konspirasi kecil mereka.
Memo internal itu bocor dua jam lalu lewat kanal pesan tak resmi. Seseorang telah memotret selembar draf rahasia dari meja Divisi Pengembangan Budaya: 'ROADMAP RESTUKTURISASI IDENTITAS BUSANA KARYAWATI: PENERAPAN STANDAR KESESUAIAN SYAR'I SECARA KOMPREHENSIF'. Dua kata terakhir itu bagai granat kejut yang dilemparkan ke kolam renang. Riak kepanikannya meluas dengan cepat.
Di meja bundar nomor tujuh, di bawah instalasi lampu industrial, Nadia Laksmi duduk dikelilingi lingkarannya. Sebagai ujung tombak Public Relations dan wajah resepsionis eksekutif, Nadia adalah simbol glamor korporat modern. Hari ini pun ia tampil sempurna: blazer tailoring abu-abu membalut ramping tubuhnya, dipadu rok span pensil arang yang jatuh tiga senti di atas lutut, serta sepatu stiletto hitam berkilau. Namun kini, bibirnya yang berlipstik matte plum mengatup keras. Jemarinya yang lentik tak henti meremas serbet kertas hingga robek.
"Kalian pikir ini lelucon?" desis Nadia, suaranya meninggi setengah oktaf menembus gemuruh ruangan. "Ini pembunuhan karakter profesional! Pak Arga sudah kehilangan akal bisnisnya. Dia mau mengubah agensi kreatif nomor satu ini jadi pesantren tertutup? Apa dia lupa siapa yang membawa pitching dua puluh juta dolar dari konsorsium London bulan depan?"
π₯ βββ πΉ βββ π₯
BAGIAN 02 : DI BAWAH SOROT MATA NADIA
Meja Bundar Nomor Tujuh, Kantin Lantai 15 β Pukul 13.02 WIB
β πΉ β
Aku bangkit, mengangkat cangkir kopiku, lalu melangkah santai melintasi koridor sempit di antara deretan meja. Langkahku tanpa suara di atas ubin matte. Beberapa desainer junior buru-buru menunduk, pura-pura menyuap salad mereka. Mereka tahu posisiku: telinga dan mata terpercaya Arganata.
"Selamat siang, Nadia. Salad alpukatmu tampak tak tersentuh," sapaku ringan, menarik kursi kosong tepat di hadapannya.
Nadia tersentak, namun dagu tirusnya segera terangkat angkuh. Matanya menusuk tajam. "Bagus kau datang, Rayhan. Duduklah dan dengarkan jeritan orang-orang yang bekerja di garis depan sebelum bosmu merobohkan seluruh reputasi gedung ini."
Maya, staf humas muda di sebelahnya, menciut gugup. "Mbak Nadia, pelan-pelan... Mas Rayhan kan..."
"Biar saja!" potong Nadia tajam. Nafasnya memburu, membuat kalung safir di lehernya berguncang. "Rayhan harus tahu. Kita menghormati Pak Arga sejak mengambil alih perusahaan tiga tahun lalu. Dia jenius, menaikkan bonus kita tiga kali lipat. Tapi memo ini? Kebijakan seragam syar'i ini kegilaan puritan! Kalian mau memaksa kami memakai gamis gombrong hitam seperti bayangan hantu di lorong kantor?"
"Apakah ada kata 'gamis hitam gombrong' dalam draf itu, Nad?" tanyaku datar, menyesap kopi dingin tanpa ekspresi.
"Jangan berkelit dengan semantik!" desis Nadia, mencondongkan tubuhnya. Aroma parfum tuberose berpadu mawar hitam menguar menusuk hidungkuβaroma elegan yang mendadak memantik firasat ganjil di dadaku. "Bagi dunia korporat global, jubah longgar adalah sinyal keterbelakangan! Kami menjual estetika dan rasa percaya diri. Bagaimana aku bisa meyakinkan investor Tokyo kalau aku sendiri dibungkus seperti paket pos ke padang pasir? Kami akan kehilangan pesona, Rayhan. Kami akan kehilangan wibawa!"
Aku membalas tatapannya. Di balik amarah berapi-api itu, tersimpan teror eksistensial yang rapuh. Bagi wanita mandiri seperti Nadia, keindahan tubuh dan busana tailored bukan sekadar kain; itu zirah pertahanan sosial yang ia bangun sepuluh tahun di belantara ibu kota.
"Kalian tidak akan dibungkus jadi hantu, Nadia," kataku pelan, menatap matanya dalam-dalam. "Tapi izinkan aku bertanya satu hal jujur: saat para eksekutif pria di ruang rapat menatap belahan rokmu lebih lama daripada menatap proposal kampanye yang kaurancang semalaman, apakah saat itu kau benar-benar merasa sedang memegang wibawa?"
π₯ βββ πΉ βββ π₯
BAGIAN 03 : BAYANG-BAYANG KELAM MUSHOLA MARMER
Koridor Lift Kaca Menuju Lantai 28 β Pukul 13.20 WIB
β πΉ β
Pertanyaan itu menampar Nadia telak. Rona merah menjalar cepat di pipinya. Bibirnya gemetar hendak membalas, namun tak ada kata yang sanggup lolos dari kerongkongannya. Rasa tersudut yang pedih membayang sebelum ia buang muka ke arah jendela yang basah dialiri hujan.
"Catat semua ketakutanmu, Nad," tambahku sambil meletakkan cangkir kosong. "Catat ketakutan Maya dan tim front-office. Aku tidak datang membungkam kalian. Aku datang membawa keresahan ini ke lantai dua puluh delapan. Tapi camkan ini: Arga tidak pernah melangkah tanpa memperhitungkan jiwa orang-orang yang dipimpinnya."
Aku melangkah masuk ke dalam lift kaca transparan yang melesat naik. Saat lantai kantin mengecil di bawah kakiku, batinku dihantam gelombang kenangan kelam lima tahun silam.