Seusai sesi penyesuaian prototipe kain, Rayhan pamit sebentar untuk mengurus berkas mobil, meninggalkan Arganata dan Fattana di teras terbuka dengan asisten Fattana yang berjaga di ambang pintu. Dalam suasana senja yang hangat, Fattana menyuguhkan teh daun mint khas Turki. Arganata yang biasanya irit bicara menceritakan sekilas masa-masa studinya di Istanbul dan kekagumannya pada arsitektur peradaban Islam. Fattana tertegun melihat kelembutan di balik tatapan mata Arganata yang lelah.
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BAGIAN 01 : Residu Sesi Prototipe & Senja Menteng
─ 🌹 ─
Derit halus serat kain yang bergesekan dengan meja kayu jati akhirnya mereda saat jarum jam dinding antik di sudut ruang kerja menunjukkan pukul lima lewat seperempat. Udara Menteng yang lembap perlahan tersusupi hawa sejuk yang turun dari pucuk-pucuk pohon mahoni tua di sepanjang jalan raya Teuku Umar. Di lantai dua bangunan kolonial yang kupugar menjadi rumah kreasi Fathiyah Modest ini, sisa-sisa ketegangan kerja tiga jam terakhir masih mengambang di udara: gunting kain kuningan yang tergeletak di atas pola jilbab syar'i, carikan kain linen rami berwarna sage dan dusty rose, serta tumpukan swatch tenun sutra mentah yang baru saja kami uji kekuatan jalinan benangnya.
Rayhan, sepupu sekaligus manajer operasional yang selama ini menjadi dinding perisaiku dalam urusan bisnis, menyeka peluh di keningnya sembari melirik layar ponsel yang bergetar tanpa henti di sakunya.
“Mbak Fattana,” ucapnya dengan suara berat yang menahan lelah, seraya mengangguk sopan ke arah pria di hadapannya, “petugas kargo pelabuhan menahan dua peti sampel serat rami di gudang Tanjung Priok karena ada perbedaan manifes bea cukai. Saya harus turun ke lobi bawah sekarang, mengurus verifikasi digital berkas asuransi mobil operasional dan menelepon orang ekspedisi sebelum kantor mereka tutup pukul enam.”
Aku mengangguk tenang, merapikan ujung jilbab katun voal gelapku yang jatuh menutupi dada. “Selesaikan dengan cermat, Ray. Jangan sampai ada dokumen legalitas yang terlewat.”
Ketika langkah sepatu kulit Rayhan menuruni anak tangga kayu berderit menuju lantai dasar, suasana seketika berubah hening. Namun, kami tidak berada dalam keterasingan yang mencurigakan. Sesuai prinsip adab yang selalu kujunjung sejak hari pertama mendirikan label ini, pintu kaca geser yang menghubungkan ruang kerja dengan balkon taman terbuka tetap kami biarkan terbuka selebar mungkin. Tepat di ambang pintu itu—hanya berjarak sekitar tujuh langkah dari meja bundar balkon tempat kami duduk—Mbak Nisa, asisten desain kepercayaanku yang bersahaja dengan bergo navy-nya, tetap duduk tenang di meja kerjanya. Jemarinya sibuk memilah nomor katalog benang, tetapi kehadirannya adalah saksi nyata bahwa tidak ada khalwat di antara kami. Di teras terbuka berlantai tegel kunci motif kembang ini, semilir angin senja berhembus leluasa, menggoyangkan rumpun bambu jepang yang berbisik di pagar pembatas.
Di seberang meja kayu bundar beralas anyaman eceng gondok itu, Arganata Danuadji masih duduk dengan punggung tegak bersandar. Lengan kemeja katun abu-abu arangnya digulung rapi hingga ke bawah siku, memperlihatkan jam tangan kronograf berbingkai baja dingin tanpa kilau mencolok. Sejak pagi tadi berdebat mengenai elastisitas serat benang organik dan margin logistik pabrik tekstilnya di Solo, pria ini nyaris tak pernah mengendurkan ekspresi wajahnya. Garis rahangnya tegas, tatapan matanya tajam seolah setiap detik hidupnya adalah neraca laba rugi yang tak boleh meleset satu desimal pun. Namun saat cahaya tembaga matahari senja menerpa sisi wajahnya yang terpahat kaku, aku menangkap sesuatu yang luput dari sorotan kamera majalah bisnis: sebuah kelelahan yang teramat pekat, tersembunyi di balik lingkar gelap di bawah kelopak matanya.
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BAGIAN 02 : Ritual Teh Daun Mint & Cangkir İnce Belli
─ 🌹 ─
“Pak Arga pasti lelah,” ujarku memecah kesunyian, berusaha menjaga nada bicaraku tetap berada di frekuensi profesional yang ramah namun tidak berlebihan. “Tiga jam memeriksa puluhan rajutan kain bukan perkara ringan bagi seseorang yang biasanya membedah laporan konsolidasi holding.”
Arganata menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat sepersekian senti—gerakan mikro yang begitu langka hingga hampir terasa seperti ilusi optik.
“Mata saya terlatih melihat cacat mikroskopis pada beton bertulang dan struktur baja, Bu Fattana. Menemukan benang sintetis oplosan pada kain rami yang Anda tolak tadi jauh lebih mudah daripada mendeteksi kebohongan para subkontraktor di proyek konstruksi.”
Aku tersenyum tipis, lalu beralih ke nampan tembaga berukir motif geometris yang baru saja diantarkan staf pantry beberapa menit lalu. Di atas nampan itu tersaji sebuah poci keramik putih dan dua cangkir kaca kecil berpinggang ramping tanpa gagang khas Turki—ince belli—yang kubeli sewaktu menunaikan umrah dan singgah di Istanbul lima tahun silam. Dengan gerakan terukur, kutuangkan cairan berwarna merah mirah delima pekat ke dalam kedua cangkir itu, sebelum menambahkan dua tangkai pucuk daun mint segar yang kupetik langsung dari pot terakota di sudut balkon.
Uap panas langsung membubung, membawa aroma wangi mentol yang menusuk lembut hidung, berbaur dengan pekatnya wangi daun teh hitam Laut Hitam.
“Silakan, Pak Arga. Çay dengan daun mint segar. Tanpa gula, seperti yang biasa Anda minum sewaktu rapat.”
Pria itu memandangi cangkir ramping di depannya tanpa segera menyentuhnya. Sorot matanya yang biasanya sedingin es di ruang pendingin tiba-tiba bergetar, membiaskan riak emosi yang ganjil. Jemari tangannya yang kokoh perlahan meraih cangkir kaca itu dengan menjepit bagian bibir atasnya yang dingin menggunakan ibu jari dan telunjuk—cara memegang ince belli yang hanya dikuasai oleh orang-orang yang pernah hidup lama di tepian Selat Bosphorus.
“İnce belli...” bisik Arganata lirih, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Suaranya tenggelam bersama deru samar klakson mobil di jalanan Menteng yang mulai padat. “Sudah hampir tujuh tahun saya tidak memegang cangkir dengan proporsi sesempurna ini di Jakarta. Kebanyakan kafe di Senopati menyajikan teh Turki dalam mug keramik tebal yang membunuh kehangatan dan warnanya. Anda mengerti cara menghormati teh, Bu Fattana.”
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BAGIAN 03 : Retrospeksi & Menara Galata Istanbul
─ 🌹 ─
“Kakek saya seorang pedagang rempah yang mengagumi tradisi Dinasti Utsmaniyah,” sahutku, melipat jemari di atas pangkuanku di bawah meja, berusaha menjaga pandanganku agar tetap tertumpu pada riak air teh di cangkirku sendiri, bukan pada manik matanya yang menghunjam. “Bagi beliau, menyeduh teh bukan sekadar menghilangkan dahaga. Itu adalah jeda untuk merendahkan hati di hadapan rezeki Allah. Saya dengar dari Rayhan, Anda menyelesaikan gelar master teknik sipil dan restorasi di Boğaziçi University?”
Arganata menghirup tehnya perlahan. Sensasi hangat daun mint tampaknya berhasil mengendurkan ketegangan di pelipisnya.
“Enam tahun saya menetap di Beyoğlu, tak jauh dari Menara Galata,” kenangnya, tatapannya kini menerawang jauh menembus siluet pohon mahoni di seberang balkon, melintasi ribuan mil menuju kota di dua benua itu. “Setiap kali tugas analisis struktur membuat kepala saya serasa mau pecah, saya akan berjalan kaki menuruni tanjakan batu berliku menuju kaki menara silinder itu, memesan segelas çay dari pedagang gerobak tua, dan duduk memandangi Selat Golden Horn hingga azan Isya berkumandang dari kubah-kubah masjid Mimar Sinan.”
Nada bicaranya berubah. Keangkuhan korporat yang biasanya menjadi zirah pelindungnya luruh, digantikan oleh resonansi puitis yang tak terduga.
“Anda tahu, Bu Fattana... Menara Galata itu selamat dari kebakaran hebat tahun 1794, diterpa badai es berabad-abad, dan diguncang gempa Marmara berkali-kali. Namun batunya tidak runtuh. Mengapa? Karena ketika orang-orang Genoa membangunnya kembali pada abad keempat belas, dan Sultan Mahmud II memperbaikinya, mereka tidak menggunakan campuran kapur murahan demi mempercepat tenggat waktu. Mereka mencampur adukan perekat dengan ketekunan, kesabaran, dan doa.”