Hujan deras mengguyur ibukota. Di lobi apartemennya, Arganata tiba-tiba dicegat oleh Clarissa Danuwirya. Wanita sosialita itu mendengar kabar bahwa Arganata menyewa desainer syar'i dan mencemooh proyek tersebut sebagai kemunduran. Clarissa mencoba merayu Arganata untuk kembali dan menawarkan kongsi modal tekstil keluarga Danuwirya. Arganata dengan dingin dan tegas menolak, menegaskan bahwa jalan hidup mereka telah berbeda jurang keimanan dan prinsip.
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BAGIAN 01 : GEMURUH DI ATAS MARMER DINGIN
22.15 WIB – Lobi Utama Apartemen Senopati
─ 🌹 ─
Hujan di kawasan Senopati malam itu tidak sekadar turun membasahi bumi; ia menghantam laksana ribuan anak panah kaca yang pecah berkeping-keping di atas aspal hitam. Langit Jakarta Selatan seakan kehilangan kesabarannya, memuntahkan kabut kelabu pekat yang menenggelamkan gemerlap lampu kafe-kafe borjuis, restoran adiboga, dan bar eksklusif di sepanjang jalanan Senopati. Dari balik dinding kaca tempered setinggi enam meter di lobi apartemenku, air mengalir dalam lapisan tebal yang bergelombang, mendistorsi lampu-lampu jalanan kota menjadi siluet-siluet raksasa yang muram dan bergoyang seperti hantu masa lalu.
Langkah kakiku yang terbalut sepatu pantofel kulit sapi lokal terhenti mendadak tepat di tengah bentangan marmer Calacatta Italia yang putih berkilat beku. Udara pendingin sentral gedung yang disetel pada suhu delapan belas derajat berbaur dengan uap basah petrikor yang menyusup setiap kali pintu geser otomatis terbuka menyambut tamu yang basah kuyup. Namun, bukan penurunan suhu mendadak itu yang membuat tengkuk dan tulang belikatku mendadak kaku laksana dicengkeram es abadi. Melainkan sebuah aroma yang menyeruak tiba-tiba—aroma pekat mawar hitam Damaskus yang dipadukan dengan vanila bourbon gelap dan jejak ambergris sintetis teramat mahal. Sebuah wewangian Baccarat Rouge 540 edisi khusus yang teramat kuhapal hingga ke lipatan ingatan terkecil: aroma Clarissa Danuwirya.
“Masih setia membiarkan hidungmu mencium aroma basah tanah ketimbang wewangian peradaban modern, Arga?”
Suara itu mengalun lambat dari arah sudut lounge eksekutif, bernada rendah namun memiliki daya tebas yang setajam mata belati bedah.
Aku memutar poros tubuhku perlahan. Di depan sebuah sofa kulit melengkung berwarna krem gading, seorang wanita berdiri tegak dengan keanggunan yang tampak dipersiapkan secara presisi militer. Mantel parit Burberry berwarna karamel madu membungkus siluet tubuhnya yang semampai, dengan butir-butir air hujan yang masih menempel di pundaknya bagai kristal-kristal dingin. Rambut pirang tembaganya dipotong bob tajam bergelombang rapi, membingkai wajah tirus berpipi pualam yang nyaris tanpa cela. Di bibirnya yang dipulas lipstik merah marun pekat bertengger seringai tipis—sebuah senyuman angkuh yang lima tahun lalu sanggup membuatku mempertaruhkan seluruh modal kerja, tabungan keluarga, dan akal sehatku di hadapan para pemodal borjuis ibu kota.
Kini, senyuman itu hanya menimbulkan rasa mual yang dingin dan berdenyut di dasar lambungku. Di balik rongga dada kiriku, sebuah bekas luka batin yang telah lama berusaha kutimbun dengan doa dan sujud mendadak berdenyut nyeri, mengingatkanku pada kepedihan tak terperi ketika seluruh eksistensiku dicampakkan ke dalam lumpur kebangkrutan tanpa secuil pun belas kasihan manusiawi.
“Lobi gedung ini memiliki sistem keamanan berlapis kartu akses biometrik, Clarissa,” ucapku dengan nada suara sedatar dan sebeku permukaan danau es Siberia. Kedua tanganku tetap terbenam rapat di dalam saku mantel wol hitamku, dengan tegas menolak gestur basa-basi atau jabat tangan yang lazim dalam pergaulan sosialita. “Bagaimana mungkin seorang tamu asing bisa berdiri bebas di sini tanpa persetujuan dari unit penthouse-ku?”
Clarissa tertawa lirih, suara tawanya memantul di pilar-pilar batu granit lobi yang lengang dan megah. Resepsionis muda di ujung meja konter marmer menundukkan pandangannya dalam-dalam, berpura-pura sibuk memeriksa lembar log digital di layar monitornya—ia tahu persis siapa dinasti Danuwirya di negeri ini. Kekayaan klan Danuwirya tidak sekadar membeli izin akses; kekayaan mereka membeli ketakutan, kepatuhan buta, dan pembungkaman hukum di berbagai koridor kekuasaan.
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
BAGIAN 02 : CEMOOH, BISNIS, DAN RACUN RIBA
22.35 WIB – Sudut Privat Lobi Apartemen
─ 🌹 ─
Clarissa melangkah mendekatiku tanpa ragu. Sepatu hak tinggi Louboutin bersol merah darahnya mengetuk lantai marmer dengan ketukan metronomik yang tegas, menimbulkan gaung ritmis yang menuntut kepatuhan. Jarak di antara kami menyusut drastis hingga aku dapat melihat kilauan mutiara air laut di anting-antingnya serta getaran halus yang nyaris tak kasatmata di sudut kelopak matanya yang berlumur maskara tebal. Ada sesuatu yang ganjil dan tegang di balik sorot matanya malam ini—semacam kegelisahan akut yang tersembunyi, namun segera ia kubur di balik topeng kesombongan kelas atas yang telah menjadi kulit keduanya.
“Sejak kapan seorang Arganata Ar Rimbai bertransformasi menjadi pria pengecut yang begitu paranoid terhadap bayangan masa lalu?” bisiknya pelan, hembusan napasnya membawa uap hangat beraroma mint dan tembakau cengkih tipis. “Aku datang kemari menembus badai bukan untuk menyita sisa perabot apartemenmu. Aku datang karena mendengar kabar yang begitu menggelikan sekaligus mencoreng nama baik sirkel kita di dewan kurator mode Asia Tenggara. Katakan padaku dengan jujur, Arga, bahwa semua berita menjijikkan itu hanyalah lelucon murahan yang disebarkan musuh bisnismu.”
Aku menatap sepasang matanya lurus-lurus tanpa berkedip. Manik cokelat tua yang dahulu pernah kupuja sebagai cermin kebahagiaan masa depan, kini tak lebih dari kubangan air keruh beracun yang menyimpan bangkai kapal karam masa mudaku. “Kabar apa yang begitu mencemaskan ketenangan dinasti keluargamu hingga kau sudi mengotori sepatumu di lobi apartemenku, Nona Danuwirya?”
“Kau menyewa desainer syar'i!” nada suaranya mendadak meninggi satu oktaf, sarkasme tajam menetes dari setiap intonasi kata yang ia lontarkan. Matanya menyipit dengan jijik yang tak ditutup-tutupi. “Perempuan desa tak bernama yang mengenakan kain jubah kedodoran dan cadar hitam pekat itu... kau menyerahkan seluruh kendali kreatif lini busana El-Rimbai ke dalam tangannya! Apa yang sebenarnya sedang meracuni akal warasmu, Arga? Kau ingin mengubah jenama mode kontemporer papan atas yang dahulu kita bangun dengan cucuran keringat dan modal darah menjadi pabrik kain kafan dan simbol kemunduran peradaban abad pertengahan?”
Darah di pembuluh nadi leherku berdesir panas membakar, namun aku memaksa seluruh otot wajahku tetap sedingin patung pualam. Kupejamkan kelopak mata sepersekian detik, melafalkan istighfar di ruang batin terdalam demi memadamkan gejolak amarah yang mendidih. Betapa tragisnya manusia yang telah dibutakan oleh gemerlap kemewahan duniawi; mereka memandang kesucian dan adab penutup kehormatan sebagai aib kemunduran, sementara eksploitasi kemolekan raga demi angka penjualan dipuja sebagai puncak emansipasi modern.
“Kemunduran?” sahutku dengan suara bariton yang berat dan bergaung laksana dentang lonceng tembaga di tengah padang sunyi. “Bagi orang yang terbiasa memperjualbelikan lekuk tubuh perempuan di atas panggung catwalk demi memuaskan tatapan lapar para konglomerat cabul, pakaian yang menutup aurat memang tampak seperti kemunduran. Maryam Wardah bukan sekadar desainer biasa. Ia memiliki pemahaman estetika yang tidak sudi menghamba pada syahwat pasar. Setiap inci kain yang ia potong dan jahit diniatkan untuk memuliakan fitrah kehormatan wanita di hadapan Tuhannya, bukan untuk dijadikan komoditas visual pelengkap pesta pora.”
Clarissa mendengus keras, mengibaskan tangannya ke udara dengan gestur meremehkan seolah sedang mengusir debu jalanan yang mengotori mantelnya. “Oh, demi Tuhan, simpan seluruh khotbah moral sucimu itu untuk jamaah pengajian Jumat, Arga! Kita ini pengusaha di dunia nyata, bukan pertapa yang makan dari embun dedaunan! Industri tekstil global tidak digerakkan oleh doa dan selembar kain kerudung, melainkan oleh efisiensi mesin tenun Jerman, fluktuasi indeks poliester sintetis, dan perputaran modal cair raksasa! Dan itulah alasan utama mengapa aku sudi berdiri di hadapanmu malam ini.”
Dengan gerakan tangan yang terlatih dan dramatis, Clarissa membuka ritsleting tas jinjing Hermes Birkin hitamnya yang berkulit buaya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah map kulit kaku berwarna hitam pekat dengan cap timbul lambang burung rajawali emas mencengkeram globe—lambang kebesaran Danuwirya Group. Map tebal itu ia sodorkan tepat di depan dadaku.
“Buka dan bacalah sebelum kau membuat keputusan bodoh yang menghancurkan masa depanmu untuk kedua kalinya,” katanya dengan desisan penuh otoritas. “Ayahku membuka pintu konsorsium pertekstilan nasional. Tiga ratus miliar rupiah dana segar disiapkan melalui sindikasi konsorsium perbankan tanpa agunan fisik berbelit untuk memperluas pabrik tenun dan menguasai rantai pasok sutra sintetis di kawasan Asia Tenggara. El-Rimbai akan diangkat menjadi anak perusahaan emas kami. Kau akan mendapatkan kembali kursi terhormatmu di perkumpulan taipan papan atas Jakarta. Seluruh fasilitas kartu kredit korporat tanpa batas, jaringan distributor Eropa, dan akses ke ruang VIP dewan direksi. Syaratnya sangat mudah dan masuk akal: batalkan kontrak kerja dengan perempuan bercadar kampung itu malam ini juga, kembalikan lini gaun malam terbuka kita, dan... kembali ke pelukanku, Arga. Seperti lima tahun lalu saat kita masih saling memiliki.”