Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Menyentuh Serat Alami

Arganata, Fattana, didampingi Rayhan dan tim QC mengunjungi pabrik penenunan serat bambu dan katun primissima di Bandung. Di tengah deru mesin tenun, Arganata menyaksikan ketelitian Fattana memeriksa kerapatan tenun (thread count) agar kain tidak tembus pandang di bawah terik matahari. Sikap Fattana yang ramah kepada para buruh tenun wanita dan kesediaannya makan siang bersama beralaskan tikar membuat Arganata semakin takjub.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 01 : Kabut Majalaya dan Bau Minyak Hangat

─ 🌹 ─

Aspal Majalaya berlubang dan beriak seperti punggung buaya tua yang terendam lumpur belerang. Tiga setengah jam perjalanan darat dari Jakarta melalui Tol Cipularang yang berliku telah menguras sisa kesabaran di dasar tengkorak kepalaku. Sendi-sendi pinggangku serasa aus, ditekan oleh jok kulit kendaraan dinas yang dingin. Namun, yang paling menggerogoti ketenangan batinku bukanlah guncangan suspensi mobil beroda empat ini, melainkan ketenangan tanpa riak dari wanita yang duduk di kursi samping pengemudi.

Fattana.

Sepanjang perjalanan menyusuri punggung perbukitan Priangan yang diselimuti kabut basah, ia nyaris tak bersuara kecuali saat mengucap zikir lirih di sela helaan napasnya. Tidak ada keluhan tentang debu truk tronton yang memuntahkan jelaga hitam di kaca depan, tidak ada gerutu mengenai pendingin udara mobil yang sempat tersendat di gerbang keluar Buahbatu. Ketenangannya begitu rapi, begitu terkendali, hingga di mataku—mata seorang Arganata Ar Rimbai yang dibesarkan di sarang musang korporasi Sudirman—hal itu terasa mencurigakan.

"Kita hampir sampai, Arga," gumam Rayhan dari balik kemudi, memecah dengung ban di aspal basah. Tangannya yang berotot memutar setir menghindari kubangan air cokelat di depan gapura pabrik tua. "Mitra Tenun Rimbun Kasih. Jangan berharap ada sambutan karpet merah atau lobi beraroma lavender seperti di Menara Ar Rimbai. Tempat ini masih memakai sistem produksi hibrida: sebagian mesin shuttle peninggalan era tujuh puluhan, sebagian semi-otomatis buatan Jepang."

Aku hanya mendengus pelan, melirik arloji chronograph di pergelangan tanganku. Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Waktu adalah komoditas termahal dalam kalkulasiku. "Aku tidak butuh lobi wangi lavender, Rayhan. Aku butuh kepastian bahwa dua puluh ribu meter kain serat bambu dan katun primissima organik untuk lini busana premium kita selesai ditenun sebelum pekan mode kuartal ketiga. Jika kerapatan tenunnya meleset setengah benang saja dan bayangan tubuh model tertembus lampu sorot, reputasi yang kubangun sepuluh tahun akan runtuh dalam hitungan detik."

Mendengar kata-kataku yang tajam dan sarat kalkulasi laba-rugi, Fattana menoleh perlahan. Ujung jilbab pasmina berwarna hijau zaitun miliknya tersibak pelan oleh embusan angin ventilasi AC. Matanya tenang—terlalu tenang untuk seorang perempuan yang proyek hidupnya tengah berada di ujung telunjuk keputusanku.

"Kerapatan tenun bukan sekadar urusan reputasi lampu sorot panggung mode, Mas Arganata," ucap Fattana pelan, namun setiap silabel kalimatnya menghunjam tepat di ulu hatiku. "Pakaian syar'i bukan sekadar tren komersial yang kita lempar ke pasar demi dividen pemegang saham. Ia adalah perisai kehormatan bagi para muslimah di hadapan Rabb-nya. Bila sehelai benang pakan terlalu renggang hingga siluet aurat tampak di bawah terik mentari, kita bukan sekadar gagal dalam bisnis—kita telah mengkhianati amanah ibadah mereka."

Darahku berdesir dingin. Kalimat itu terdengar begitu suci, begitu luhur. Namun di bilik hatiku yang paling gelap, sinisme lamaku segera membisikkan racun: Semua orang bisa merangkai kata-kata berbalut dalil, Arga. Bukankah mantan tunanganmu dulu juga berurai air mata di depan kamera televisi saat menyumbang panti asuhan, sebelum kemudian membuang cenderamata anak-anak yatim itu ke tempat sampah mobilnya karena dianggap kotor?

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian 02 : Deru Mesin Tenun dan Uji Kerapatan Serat

─ 🌹 ─

Begitu pintu besi gudang penenunan dibuka, gelombang suara mekanis raksasa langsung menghantam gendang telingaku seperti letupan ribuan senapan mesin yang ditembakkan serentak. Suara hentakan teropong kayu meluncur bolak-balik melintasi benang lungsi, beradu dengan entakan sisir tenun yang membentur kain dalam ritme yang menggetarkan lempengan beton lantai. Hawa di dalam ruangan seketika menyengat hidungku: campuran pekat antara pelumas roda gigi yang memanas, uap tajam dari larutan kanji tapioka yang digunakan untuk melapisi benang lungsi, dan serbuk halus serat katun yang melayang-layang seperti kabut tak kasatmata di bawah sorotan sinar matahari yang menyusup lewat genting kaca.

Rayhan segera membagikan penutup telinga dan masker kain. Aku memakainya dengan gerakan enggan, berusaha menyembunyikan rasa pusing yang mulai merayap akibat migrain perjalanan. Namun, aku terpaku saat melihat Fattana. Ia hanya mengikat simpul cadar tipisnya lebih rapat, membiarkan kebisingan ratusan desibel itu memeluknya tanpa gestur terkejut sedikit pun.

Pak Didi, kepala teknisi pabrik bertubuh legam dengan kemeja lusuh berlumur oli, bergegas menyongsong kami. Matanya merah karena kurang tidur, dan punggungnya sedikit membungkuk saat menyalami kami dengan kedua belah tangan yang gemetar oleh kelelahan.

"Selamat datang di Majalaya, Den Arga, Neng Fattana," suara Pak Didi nyaris tenggelam di balik deru mesin. "Gulungan sampel nomor batch 4A dari percampuran katun primissima 60s dan serat selulosa bambu sudah turun dari mesin tenun jam tujuh pagi tadi. Tim QC kami sudah menunggu di bilik uji fisik."

Di ruang laboratorium kecil yang disekat dinding tripleks bergetar, tiga buah kaca pembesar berlampu ultraviolet bertengger di atas meja uji. Di sanalah pertarungan sesungguhnya dimulai. Aku sengaja melangkah maju, mengambil loupe penghitung benang—alat pengukur thread count berbingkai kuningan—dan bersiap mengajukan serangkaian pertanyaan teknis yang biasa kugunakan untuk menyudutkan vendor nakal di Jakarta.

Namun, sebelum aku sempat menempelkan lensa ke permukaan kain mentah berwarna putih gading itu, Fattana sudah lebih dulu melangkah mendekat. Ujung jemarinya—jemari yang lentik namun memiliki guratan halus di telapaknya—menyentuh tepian kain (selvedge) tanpa sarung tangan.

Ia tidak langsung menggunakan kaca pembesar. Ia menutup kelopak matanya.

Gerakan itu membuatku mengernyit heran. Apa yang sedang ia lakukan? Berlagak mistis di hadapan serat kain pabrik?

Perlahan, ibu jari dan telunjuk Fattana menggesek permukaan kain, merasakan resistensi jalinan benang pakan terhadap benang lungsi. Detik berikutnya, ia membentangkan kain itu ke arah jendela kaca yang ditembus terik matahari siang Majalaya. Matanya menatap tajam ke arah serat yang diterangi cahaya alami.

"Tiga ratus enam belas benang per inci persegi," ujar Fattana tiba-tiba, suaranya tenang namun mutlak tak terbantahkan. "Benang pakan nomor 52 katun primissima, dipintal ganda dengan twist S pada tegangan sembilan belas gram per tex. Tapi pada bentangan meteran kedua puluh tujuh, ada distorsi tegangan pada serat bambu sekitar dua milimeter ke arah kiri."

Pak Didi terperangah. Mulutnya setengah terbuka, matanya membelalak menatap Fattana seolah melihat sosok arwah yang bangkit dari lembaran sejarah pabrik. "Masya Allah... Neng... bagaimana Neng bisa tahu tanpa menghitung dengan jarum loupe?"

Aku merebut kain itu dari tangan Fattana, lalu menempelkan mataku ke kaca pembesar dengan skala milimeter. Tanganku menyusuri grid benang di bawah cahaya lampu. Jantungku berdegup kencang saat menghitung: persis tiga ratus enam belas benang per inci. Dan tepat di garis meteran yang ia tunjuk, benang selulosa bambu memang sedikit meregang akibat tarikan roll pakan yang aus.

Bagaimana mungkin seorang desainer perempuan dari ibu kota, yang biasa memamerkan busana di ballroom hotel bintang lima, memiliki kepekaan taktil sedalam ini terhadap mekanika serat tenun tradisional? Ada sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang luput dari laporan investigasi latar belakang yang disusun tim intelijen bisnisku tiga pekan lalu.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀

Lihat selengkapnya