Sampel jahitan pertama seragam pria dan wanita selesai dirakit. Arganata mencoba jas kerja bergaya 'Neo-Ottoman Modest Coat' dengan potongan bahu longgar namun berwibawa. Fattana memberikan arahan pemotongan kain kepada penjahit tanpa pernah menyentuh langsung tubuh Arganata, melainkan menggunakan manekin ukuran presisi. Arganata mengamati bagaimana Fattana menjaga batas kesucian dengan begitu alami tanpa membuat orang lain merasa tersinggung.
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
Bagian 01 : Desis Uap dan Gemuruh Senja Menteng
Ketegangan di meja potong dan aroma wol-rami yang membakar ingatan
─ 🌹 ─
Desis uap setrika tembaga membelah keheningan atelier seluas delapan puluh meter persegi itu seperti tarikan napas naga yang lelah. Aroma khas mengambang pekat di udara sore: perpaduan antara serat wol-rami mentah yang lembap oleh uap panas, gurih minyak mesin Singer warisan, serta wangi samar kembang melati kering yang selalu kutaruh di sudut meja pola jati peninggalan almarhum Abah.
Di luar, langit Menteng telah luruh menjadi kelabu legam. Gerimis Jakarta turun tergesa-gesa, menabrak kaca jendela berbingkai besi tempa dengan dengung ritmis yang seolah menertawakan detak jantungku yang kian tak beraturan. Jam dinding kayu di atas rak gulungan kain sutra raw-silk berdenting empat kali. Empat petang. Waktu yang disepakati untuk pembuktian akhir.
"Nisa, periksa kembali kelonggaran manset pada gamis two-piece wanita," ucapku tanpa menoleh, jemariku masih sibuk menahan bilah gunting tailor shears Jerman seberat delapan ons di atas kain kanvas interlining. Suaraku sengaja kubuat sedatar dan sepadat mungkin, menutupi getar tipis yang bersembunyi di pangkal lidah. "Pastikan sambungan bahu drop-shoulder tidak menarik bagian dada ketika lengan diangkat untuk takbiratul ihram. Kita tidak sedang membuat gaun pajangan peragaan busana yang menyiksa pemakainya, Nisa. Ini seragam kerja harian para muslimah. Kebebasan bergerak adalah syarat sah sebuah kenyamanan syar'i."
"Sudah, Mbak Fattana. Kerapatan setikan sembilan tusukan per inci sesuai instruksi Abah dulu," sahut Nisa dengan napas terengah pelan. Di sampingnya, Kang Ujang—penjahit senior yang rambutnya telah memutih separuh—mengusap peluh di pelipis seraya mengangkat sepotong mantel jas pria dari gantungan kayu cedar. Kain wol bergradasi arang dengan tenunan rami mikro itu jatuh dengan gravitasi yang nyaris sempurna, berat namun melayang, kokoh namun bersahaja.
Itulah sampel pertama prototipe seragam pria: Neo-Ottoman Modest Coat. Sebuah eksperimen berani yang meramu kegagahan mantel prajurit berkuda Dinasti Utsmani dengan kerendahan hati jubah modest kontemporer. Dan pria yang akan mencobanya—lelaki yang langkah kakinya kini terdengar berderap mantap menaiki tangga kayu atelier—adalah badai tersendiri yang selama sebulan terakhir mengacaukan ketenteraman duniaku.
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
Bagian 02 : Anatomi Martabat (Neo-Ottoman Modest Coat)
Kehadiran Arganata Pramudya dan bobot hening yang menggetarkan ruang
─ 🌹 ─
Pintu kayu jati atelier berderit pelan saat terdorong terbuka. Bau angin basah, aspal terbakar hujan, dan aroma samar kayu cedar bercampur aroma tembakau dingin seketika merangsek masuk, menggeser wangi melati yang telah kupertahankan seharian.
Arganata Pramudya berdiri di ambang pintu. Sosoknya tinggi menjulang, membingkai siluet temaram koridor luar. Jas hujan kedap airnya yang basah kuyup langsung ia tanggalkan dan ia serahkan kepada supir pribadinya yang berdiri di luar, menyisakan kemeja katun hitam polos tanpa dasi yang terpasang rapi membungkus bahu lebarnya. Ada kelelahan pekat yang membayang di bawah kelopak matanya yang tajam—kelelahan khas para serigala ruang rapat dewan direksi yang terbiasa memangsa angka dan diintai oleh pengkhianatan.
"Assalamu'alaikum, Ustadzah Fattana," sapanya. Suaranya berat, bariton yang bergema rendah di dada, namun dengan nada yang janggal: terlalu santun untuk seorang pemegang saham mayoritas yang sanggup membeli seisi gedung atelier ini dalam sekejap mata.
"Wa'alaikumussalam warahmatullah, Pak Arga," balasku seraya menundukkan pandangan beberapa derajat ke arah pola kertas cokelat di depanku, menjaga ghadhul bashar—sebuah rem otomatis yang telah tertanam dalam darahku sejak mengaji kitab Al-Hikam di surau kampung halaman. "Silakan masuk. Sampel pertama telah siap di ruang pas satu. Kang Ujang telah menyiapkan mantel jas Neo-Ottoman Anda."
Arganata tidak langsung melangkah ke bilik pas. Tatapan matanya yang kelam menyapu seisi studio: rak benang katun Mesir beraneka rona tanah, manekin kayu kuno yang berjejer kaku, hingga meja potong tempat jemariku bersandar. Tatapannya bukan tatapan meremehkan seorang pemodal congkak, melainkan tatapan seorang musafir yang menemukan oase di tengah gurun racun.
"Saya tidak sabar melihat apakah pakaian rancangan Anda sanggup menjinakkan arogansi industri saya, Fattana," gumamnya perlahan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri, sebelum melangkah masuk ke bilik pas berdinding tirai linen tebal.
🥀 ─── 🌹 ─── 🥀
Bagian 03 : Benteng Tanpa Sentuhan: Keanggunan Haya'
Pengukuran presisi menggunakan manekin proporsional dan garis laser ilahiah
─ 🌹 ─
Tiga menit berselang, tirai linen terkuak perlahan. Arganata melangkah keluar, dan untuk sepersekian detik, udara di dalam studio seolah tersedot habis. Mantel Neo-Ottoman berbahan wol-rami arang itu kini melekat di tubuhnya. Potongannya jatuh hingga separuh paha—menutup lekuk pinggul dan aurat maskulin dengan martabat yang tak terbantahkan, namun garis bahunya yang sedikit melonggar memberi ilusi ketegasan seorang panglima yang tak perlu berteriak untuk ditaati.
Namun, mata elangku langsung menangkap cacat mikro: jatuhnya keliman sisi kanan agak tertarik setengah sentimeter akibat ketegangan jahitan furing, dan kerah berdirinya belum duduk sempurna pada lekuk tengkuk.
Di rumah mode Savile Row London atau gerai adibusana Milan tempat Arganata biasa memesan setelan bespoke puluhan juta rupiah, seorang master tailor akan segera maju, menempelkan telapak tangan ke dada klien, meraba tulang belikat, menarik pita ukur melingkari pinggang, dan menyematkan jarum pentul dengan jarak napas yang bersentuhan. Di sana, tubuh dianggap sekadar kanvas materiil tanpa jiwa yang harus tunduk pada sentuhan sang penata.
Tetapi studio ini bernama Fathiyah Modest. Di sini, kesucian adalah fondasi keindahan.