Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Chapter tanpa judul #12

Fattana mengadakan sesi focus group discussion santai bersama staf wanita. Bu Maya, yang sebelumnya cemas karena memiliki bentuk tubuh berisi, mencoba sampel seragam baru rancangan Fattana. Saat bercermin, Bu Maya meneteskan air mata haru karena merasa begitu anggun, terhormat, dan tidak lagi merasa insecure dengan pandangan rekan kerja pria di kantor. Peristiwa ini menjadi titik balik antusiasme seluruh karyawan wanita.Bagian I: Kabut Dingin di Lantai Empat Belas

Denting pendingin ruangan sentral di lantai empat belas Gedung Gemeling Shakti Creation selalu menyisakan desis tipis yang ganjil—seperti tarikan napas seseorang yang dipaksa bertahan hidup di dalam ruang kedap suara. Dari balik dinding kaca ganda yang meredam riuh klakson kawasan Sudirman, rintik gerimis pertama bulan November mulai mengaburkan siluet gedung-gedung pencakar langit. Jakarta di bawah sana tampak seperti koloni semut yang bergegas tanpa jiwa, terjebak dalam labirin aspal dan baja.

Aku membetulkan letak khimar hitamku, merasakan sentuhan lembut kain sutra wol yang sejuk di kulit leher. Di atas meja oval berbahan kayu jati tua di tengah Lounge Karyawati, lima cangkir teh melati mengepulkan aroma hangat, berusaha mengusir bau pembersih lantai beraroma pinus sintetis yang terlampau tajam. Namun kehangatan itu gagal menembus ketegangan tak terucap yang menggantung pekat di antara kami.

Tujuh orang staf wanita divisi operasional dan administrasi duduk melingkar dengan gestur seragam yang menyedihkan: bahu yang sedikit membungkuk ke dalam, jemari yang meremas ujung rok atau tali tas, serta pandangan mata yang sesekali melirik cemas ke arah pintu kaca buram. Pintu itu terkunci dari dalam, tetapi bayangan langkah sepatu pantofel pria di koridor luar—langkah para manajer dan direksi yang lewat sesekali—cukup untuk membuat napas mereka tercekat.

"Terima kasih sudah meluangkan waktu sore ini, Ibu-ibu dan rekan-rekan sekalian," ujarku membuka suara. Suaraku sengaja kuberi nada paling tenang yang kumiliki, berakar pada keyakinan bahwa majelis kecil ini bukan sekadar urusan transaksi tekstil, melainkan ikhtiar pembebasan jiwa. "Sore ini, Fathiyah Modest tidak datang membawa katalog jualan. Kami datang membawa hasil perenungan atas keluhan yang kalian kirimkan secara rahasia dua pekan lalu."

Di ujung meja, Bu Maya—Senior Manager Operasional yang telah mengabdi dua belas tahun di perusahaan ini—hanya menatap cangkir tehnya tanpa berani bersitatap denganku. Wanita berusia empat puluh dua tahun itu tampak begitu lelah. Bedak padat di pipinya mulai retak oleh minyak dan keringat dingin, mempertegas lingkaran hitam di bawah kelopak matanya yang sembap. Di samping tas kulitnya yang mulai terkelupas di sudut pegangan, terselip sebuah map manila bertuliskan 'Restrukturisasi & Efisiensi SDM Q4' dengan stempel merah rahasia. Gerak tangannya yang gelisah berkali-kali menyembunyikan map itu di bawah tumpukan kertas memo, seolah-olah kertas itu adalah bara api yang sewaktu-waktu bisa membakar tangannya.

"Mbak Fattana mungkin tidak pernah tahu bagaimana rasanya harus menahan lapar sejak jam enam pagi hanya agar perut tidak menyembul di balik rok span ukuran M," bisik Maya tiba-tiba. Suaranya serak, bergetar dengan kepahitan yang telah terfermentasi selama bertahun-tahun di ruang kubikel.

Seluruh ruangan seketika senyap. Nadia dan Rina, dua staf junior yang duduk di seberang meja, menunduk dalam-dalam. Kata-kata itu seperti menyobek perban lama yang menutupi borok bernanah.

"Dua belas tahun saya bekerja di Gemeling Shakti," lanjut Maya, jemarinya yang gemetar mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Dua belas tahun saya mendengarkan lelucon para direktur di ruang rapat. Mereka menganggap tubuh perempuan di kantor ini sebagai pajangan lobi. Ingat saat Pak Brata melontarkan komentar di rapat evaluasi kuartal lalu? Di depan tiga puluh kepala divisi, dia menatap saya dari ujung kepala sampai kaki lalu berkata: 'Bu Maya, kalau presentasi ke calon investor Jepang, tolong bajunya yang lebih slim-fit ya. Potongan longgar begitu membuat divisi operasional terkesan lamban dan tidak profesional.'"

Dada Maya naik turun tak beraturan. Air mukanya memerah menahan ledakan amarah yang selama ini ditelan mentah-mentah demi mempertahankan cicilan rumah dan biaya sekolah anak-anaknya. "Saya pulang malam itu, berdiri di depan cermin kamar mandi, memuntahkan makan malam saya, dan menangis sampai subuh. Saya membeli korset ketat berbahan lateks yang membuat rusuk saya memar biru setiap kali saya bernapas. Mengapa kompetensi saya diukur dari seberapa ramping pinggul saya di balik blazer impor? Mengapa kehormatan saya harus ditanggalkan agar dinilai berprestasi?"

Aku memandang Maya dengan kepedihan yang menusuk ulu hati. Sebagai perancang busana muslimah, aku telah melihat ribuan sketsa kain, namun luka di mata wanita ini adalah pola paling tragis dari sebuah peradaban yang memuja eksploitasi visual. Dunia korporat sekuler sering kali membungkus pelecehan estetik dengan label modernitas dan 'grooming standard'. Mereka mendikte bahwa keanggunan adalah kepatuhan pada tatapan mata lelaki, sementara tubuh wanita yang tidak memenuhi cetakan komersial dipaksa merasa cacat, bersalah, dan terpinggirkan.

Aku bangkit dari kursi, melangkah ke sudut lounge tempat manekin kayu dan dua koper kain beludru kami diletakkan. Maryam dan Zahra, asisten desainku, segera membuka resleting koper utama dengan keheningan yang khusyuk. Di dalamnya terlipat prototipe pertama seragam korporat syar'i yang kami rancang khusus untuk Gemeling Shakti Creation: varian 'Amira Executive Suite' berwarna midnight navy dengan semburat benang abu-abu arang.

"Bu Maya," panggilku lembut, mengulurkan sepasang gamis berpotongan arsitektural A-line dan khimar struktural senada. "Maukah Ibu mencoba ini di ruang ganti dalam? Jangan pikirkan rapat besok. Jangan pikirkan apa kata Pak Brata atau jajaran direksi. Kenakan ini hanya untuk diri Ibu sendiri, dan untuk Allah yang telah menciptakan bentuk tubuh Ibu dengan sebaik-baik penciptaan."

Maya menatap busana di tanganku seperti seorang pesakitan yang disodori kunci sel penjaranya. Ada keraguan purba yang mencengkeram benaknya—ketakutan bahwa kain itu hanya akan membuatnya tampak semakin besar, semakin terbuang dari pusaran tren kantor yang serba minimalis ketat. Namun tatapan teduh Maryam dan dorongan bisikan dari staf junior lainnya akhirnya meluluhkan pertahanan Maya.

Lihat selengkapnya