Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Chapter tanpa judul #14

Clarissa mengatur pertemuan makan siang darurat atas nama konsorsium tekstil Danuwirya. Di depan beberapa anggota dewan komisaris, Clarissa mengklaim bahwa proyek seragam syar'i Arganata akan merusak kontrak kerja sama dengan klien-klien multinasional dari Eropa dan Singapura. Arganata membalas dengan argumen berbasis data bahwa tren modest fashion global kini bernilai ratusan miliar dolar dan klien multinasional justru mengapresiasi keunikan identitas etis korporasi.
Bagian I: Bayang-bayang di Lantai Tiga Puluh Tiga

(Intensitas Ketegangan: 5/10 · Durasi Baca: ~2,5 Menit)

Hujan lebat yang mengguyur kawasan Mega Kuningan sejak lepas ashar mengubah bentang kaca setinggi lima meter di hadapanku menjadi tirai air yang muram. Di kejauhan, lampu-lampu merkuri Jalan Rasuna Said berkelip layaknya barisan kunang-kunang yang terperangkap dalam kubangan aspal basah. Namun di dalam ruang santap privat lantai tiga puluh tiga ini, udara terasa jauh lebih dingin daripada tetes air yang berdentang di luar sana.

Pendingin ruangan sentral mendesing dengan ritme konstan yang menjemukan, menyebarkan aroma mawar putih impor bercampur wangi tembakau cerutu Cohiba milik Pak Tirta. Di atas meja perjamuan berkayu mahoni gelap yang dipoles hingga memantulkan kilau lampu gantung kristal Baccarat, gelas-gelas kristal berkeringat menampung air mineral berkarbonasi. Semua kemewahan ini sengaja dirancang untuk melumpuhkan akal sehat—sebuah teater kekuasaan yang selalu dinikmati oleh mereka yang menganggap manusia hanyalah barisan angka di lembar neraca keuangan.

Clarissa Danuwirya duduk tepat tiga depa di seberang mejaku. Gaun wol tenun navy berpotongan presisi rancangan atelier Milan membalut tubuhnya dengan kesombongan yang terhitung rapi. Di lehernya, sebuah liontin teratai perak tua berayun perlahan setiap kali ia menarik napas. Senyum tipis yang tersungging di bibir bergincu koralnya tampak seperti sayatan pisau bedah yang dilapisi madu.

"Makan siangnya sudah lewat dua jam, Rayhan," ujar Clarissa memecah keheningan. Suaranya rendah, serak tertahan, dengan modulasi vokal terlatih yang terbiasa mendikte ruang-ruang negosiasi internasional. Jari-jemarinya yang lentik dengan kuku berpoles merah burgundi mengetuk-ngetuk permukaan meja. "Namun dewan komisaris rela membatalkan jadwal golf dan pertemuan kamar dagang mereka, semata-mata karena aku membawa kabar duka yang menyangkut masa depan anak perusahaanmu."

Aku tidak langsung menyahut. Tanganku tetap terlipat tenang di atas paha. Di balik kain jas abu-abu arang yang kupakai, buku-buku jariku menekan lembut butiran tasbih kayu gaharu kecil yang selalu tersimpan di saku dalam. Hasbunallah wa ni'mal wakil. Cukuplah Allah menjadi penolong kami. Ayahku selalu berpesan: di depan serigala yang mengenakan jas sutra, kepanikan adalah undangan paling terbuka bagi mereka untuk meremukkan tenggorokanmu.

"Kabar duka, Clarissa?" sahutku datar, membiarkan tatapanku menghujam tepat ke manik matanya yang berwarna cokelat terang. "Atau sekadar panggung sandiwara baru karena konsorsium tekstil Danuwirya gagal mengejar kuota pasokan serat katun organik pekan lalu?"

(Intensitas Ketegangan: 7/10 · Durasi Baca: ~2,5 Menit)

Dua pelayan bersarung tangan putih melangkah mundur dengan langkah tanpa suara setelah meletakkan hidangan pembuka berupa carpaccio daging wagyu yang nyaris tak tersentuh oleh siapa pun. Pak Hariman, komisaris yang mewakili kepentingan ekuitas Eropa, sudah merapikan kacamata berbingkai emasnya dengan gelisah. Keningnya yang dipenuhi kerutan usia tampak mengilap oleh keringat dingin.

"Jangan berkelit, Rayhan!" Clarissa mendengus pelan, lalu memberi isyarat kepada asisten pribadinya yang berdiri kaku di sudut ruangan. Sebuah map kulit berwarna biru tua berembos segel emas Danuwirya dihempaskan ke tengah meja perjamuan, tepat di samping piring perak Pak Tirta.

"Buka halaman empat, para Dewan yang terhormat," nada bicara Clarissa berubah tajam, penuh artikulasi teatrikal yang dirancang untuk menusuk ulu hati para komisaris senior. "Itu adalah surat keberatan resmi dari Haut-Monde Consortium Paris dan perwakilan buyer retail Nordic Fabric di Singapura. Mereka menangguhkan perpanjangan kontrak senilai empat puluh dua juta euro untuk musim semi tahun depan. Kenapa? Karena anak emas Arganata—proyek seragam syar'i korporat yang dipaksakan Rayhan—mulai tercium oleh media luar sebagai manifesto keagamaan yang eksklusif!"

Pak Hariman langsung menyambar map tersebut. Halaman-halaman kertas berkop resmi bergemerisik di bawah jemarinya yang gemetar. "Empat puluh dua juta euro? Ya Tuhan, Rayhan! Apa yang kau lakukan? Kita adalah perusahaan terbuka! Pasar Eropa sangat sensitif terhadap isu eksklusivitas identitas. Kita tidak bisa mempertaruhkan reputasi korporasi multinasional hanya demi memfasilitasi eksperimen sentimental perancang busana barumu itu! Siapa namanya? Fattana?"

Cara Hariman melafalkan nama Fattana—dengan nada jijik yang disengaja seolah-olah ia sedang menyebut hama di gudang kain—membuat darahku berdesir panas. Clarissa tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Hariman. Di ujung meja, Pak Tirta Danuwirya tetap diam, namun matanya yang menyipit menatapku tajam di balik kepulan asap cerutunya.

"Fattana tidak memiliki reputasi internasional, Pak Hariman," Clarissa menyiramkan minyak ke dalam api yang mulai berkobar. Tubuhnya condong ke depan, menopang dagu dengan kedua tangan, memamerkan cincin berlian safir yang berkilau angkuh. "Gadis itu hanya penenun daerah dari antah-berantah yang dipungut Rayhan. Membiarkan dia mendikte kode etik busana dan merombak seluruh lini seragam Arganata dengan kaidah syar'i longgar tanpa lekuk tubuh adalah bunuh diri komersial. Klien internasional kita menginginkan citra kosmopolitan, ramping, dan modern—bukan jubah-jubah yang membuat karyawan tampak seperti kelompok tertutup!"

"Danuwirya Textile siap mengambil alih seluruh proyek seragam ini dalam tempo empat puluh delapan jam," lanjut Clarissa tanpa jeda, meluncurkan ultimatum yang sesungguhnya. "Kami memiliki lisensi desain dari rumah mode Prancis. Kontrak Eropa akan selamat, dividen komisaris tetap utuh. Syaratnya hanya satu: cabut mandat proyek dari tangan Fattana, batalkan seluruh konsep syar'i ini, dan kembalikan wewenang pengadaan tekstil ke bawah kendali konsorsiumku."

(Intensitas Ketegangan: 6/10 · Durasi Baca: ~2,5 Menit)

Di saat Pak Hariman mengangguk-angguk setuju dan Pak Tirta mulai mengetuk-ngetukkan jarinya ke pemantik api kuningan, pikiranku justru melayang jauh meninggalkan ruangan berhawa beku ini. Bayangan bengkel kerja sederhana di sudut gang sempit Rawamangun dua pekan lalu mendadak memenuhi benakku.

Di bengkel berlantai ubin terakota itu tidak ada lampu kristal Baccarat ataupun wangi cerutu Kuba. Yang ada hanyalah aroma jujur dari serat katun organik mentah, getah pewarna alami daun tarum, dan derit ritmis alat tenun bukan mesin yang digerakkan oleh tangan-tangan perempuan paruh baya. Dan di tengah kesederhanaan itu, berdiri Fattana. Tanpa riasan tebal, mengenakan khimar hitam sederhana berbahan serat bambu yang menjuntai anggun menutup dadanya.

Aku masih mengingat getaran dalam suaranya saat ia membentangkan prototipe seragam syar'i di hadapanku waktu itu. "Mas Rayhan," ucapnya lirih namun sarat akan keyakinan yang tak tergoyahkan, "Pakaian ini bukan sekadar penutup aurat. Ini adalah perlindungan martabat. Selama berpuluh tahun, buruh pabrik dan staf resepsionis perempuan dipaksa mengenakan rok ketat dan kemeja sempit demi memuaskan tatapan estetika patriarki industri. Saat mereka membungkuk mengangkat kardus sampel, mereka merasa terhina. Seragam ini kami rancang dengan sirkulasi udara mikro, siluet longgar yang jatuh tanpa menampakkan lekuk tubuh, namun tetap menghadirkan wibawa seorang profesional berkelas. Jika niat kita memuliakan hamba Allah, mengapa kita harus takut kehilangan rezeki dari manusia?"

Lihat selengkapnya