Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Chapter tanpa judul #15


Saat meninjau lokasi pemotretan katalog seragam resmi di tepi laut, Arganata dan Fattana berdiri berdampingan menatap matahari terbenam, ditemani Rayhan dan fotografer di kejauhan. Arganata memberanikan diri bertanya apa alasan Fattana tetap memilih mendesain busana syar'i padahal bisa menjadi perancang busana gemerlap di Eropa. Jawaban Fattana membuka mata batin Arganata tentang arti hidup yang sesungguhnya.


BAB 15: LEMBAYUNG DI TEPI DERMAGA: DIALOG TENTANG HATI

Sudut Pandang (POV): Arganata Ar Rimbai (Orang Pertama - 'Aku')

Setting / Lokasi: Dermaga Kayu Tua Ancol, Teluk Jakarta Utara

Waktu: Menjelang Maghrib, Pukul 17.30 - 18.15 WIB


Kutipan Mutiara: "Dunia ini fana, Mas Arga. Jika karya kita tidak bisa mengantarkan kita ke surga, maka seluruh piala dan sanjungan itu hanyalah debu yang berterbangan."

====================================================


[SEKUEN I - Di Atas Papan Rapuh Teluk Jakarta]


Derit kayu ulin tua di bawah sol sepatu pantofelku berbunyi seperti keluhan panjang yang tertahan bertahun-tahun. Udara Jakarta Utara petang ini terasa berat, memuat endapan uap garam yang lengket, sisa solar perahu nelayan Kalibaru, dan kepulan tipis dari cerobong pabrik yang mengepung cakrawala Teluk Jakarta. Di ujung dermaga kayu Ancol yang menjorok sejauh seratus meter ke arah laut lepas, angin senja bertiup kencang, mengguncang tiang-tiang penambat tambang yang telah berlumut hijau kehitaman.


Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma laut yang pahit itu membakar rongga dadaku. Rasanya seperti menelan kembali kenyataan hidupku sendiri—keras, dingin, dan dibangun di atas pondasi kalkulasi laba-rugi yang tak pernah mengenal belas kasihan. Sebagai pucuk pimpinan Rimbai Capital, aku terbiasa mengendalikan neraca keuangan, menundukkan dewan direksi yang membangkang, serta meruntuhkan lawan bisnis dengan satu ketukan palu akusisi. Namun di dermaga yang bergoyang halus diayun riak ombak surut ini, semua kekuasaan semu itu menguap tanpa sisa.


Sekitar dua puluh meter di belakangku, Rayhan sedang beradu argumen pelan dengan tim fotografer dan penata pencahayaan. Kabel-kabel reflektor besar digulung terburu-buru, berebut waktu dengan sisa cahaya matahari yang kian menipis. Mereka sedang mematangkan sudut pengambilan gambar untuk katalog resmi seragam dan busana muslimah 'Nurul Hayat'—sebuah proyek ganjil yang kusetujui tiga bulan lalu bukan karena rasio pengembalian investasinya, melainkan karena satu nama yang kini berdiri tak jauh dari sisi kananku.


Fattana Al-Zahra.


Wanita itu berdiri dua langkah di depanku, menghadap langsung ke arah bentangan air laut yang mulai berubah warna menjadi tembaga cair. Gamis krep berwana abu-abu senja yang dikenakannya berkelebat diterpa angin bahari, namun potongan kainnya yang longgar dan bersahaja sama sekali tak mengkhianati lekuk tubuhnya. Khimar panjang yang menutupi dada hingga separuh jemarinya berkibar anggun, membingkai wajah yang senantiasa menundukkan pandangan. Ada keheningan yang luar biasa di sekeliling wanita itu—sebuah lingkaran tak kasat mata yang memaksa pria mana pun, termasuk bajingan berdarah dingin sepertiku, untuk menanggalkan kesombongannya.


Aku melirik sekilas ke arah jemari tangannya yang menggenggam sebuah buku sketsa kecil bersampul kulit kusam. Sudut-sudut buku itu telah terkelupas, memperlihatkan betapa sering lembaran-lembarannya disentuh dalam sujud dan renungan. Aneh sekali rasanya. Aku yang menguasai puluhan gedung pencakar langit di sepanjang Sudirman, mendadak merasa seperti orang kerdil yang berdiri di samping sebuah gunung karang yang kokoh tak tergoyahkan.


---


[SEKUEN II - Bayang-bayang Paris & Fragmen Sumpah]


"Pencahayaan alami dari ufuk barat ini akan jatuh sempurna pada tenunan katun Madinah di pergelangan tangan, Mas Arga," suara Fattana memecah gemuruh deburan ombak di bawah pilar dermaga. Nada bicaranya selalu sama: terukur, bening seperti mata air pegunungan, dan menolak segala bentuk basa-basi yang tak berguna. Ia tidak menatapku langsung; pandangannya tertuju pada garis batas laut di mana matahari sedang tergelincir turun.


Aku berdeham, berusaha mengusir serak di tenggorokanku yang terasa kering. "Kamu yakin lokasi ini tidak terlalu terbuka, Nona Fattana? Angin laut membawa butiran garam. Seragam prototipe itu bisa lembap sebelum lensa kamera menangkap serat benangnya."


"Kain yang baik tidak takut pada cuaca, Mas," jawabnya tenang, seulas senyum samar terselip di balik cadar tipis yang menutupi separuh wajahnya. "Sebagaimana niat yang lurus tak boleh gentar menghadapi badai. Seragam 'Nurul Hayat' ini dirancang untuk mereka yang berkhidmat—para guru mengaji, relawan kemanusiaan di pelosok, dan perempuan-perempuan yang memilih menjaga kehormatannya di tengah riuhnya zaman. Jika pakaian ini rapuh di tepi pantai Jakarta, bagaimana mungkin ia menemani perjuangan mereka di tanah berdebu?"


Kalimat itu menghantam ulu hatiku dengan ketepatan yang menyakitkan. Aku menatap profil samping wajahnya. Ada pertanyaan yang telah bersarang di kepalaku selama berminggu-minggu, sebuah teka-teki yang tak mampu dipecahkan oleh analisis intelijen bisnis terbaikku.


"Boleh aku menanyakan sesuatu yang barangkali lancang, Fattana?" tanyaku akhirnya. Jarak dua depa di antara kami kurasakan seperti jurang pemisah tak berdasar.


Fattana terdiam sejenak. Ia menyatukan kedua tangannya di depan dada, memberi isyarat tanpa kata bahwa ia mendengarkan. Angin senja menerbangkan ujung selendangnya, menyapu aroma minyak wangi gaharu dan mawar kering yang samar.


"Portofoliomu di Ecole de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne adalah salah satu yang paling cemerlang dalam satu dekade terakhir," ujarku dengan ritme cepat, seolah takut keberanianku akan surut jika kuperlambat. "Aku memeriksa arsip pameran kelulusanmu di Grand Palais tiga tahun lalu. Tiga rumah mode haute couture di Place Vendôme menawarkan kontrak eksklusif dengan nilai jutaan euro dan status perancang utama. Kamu bisa menjadi ratu di panggung gemerlap Paris, Milan, atau New York. Wajahmu bisa menghiasi sampul Vogue dunia. Tapi kenapa kamu melempar semua itu ke keranjang sampah dan pulang ke sini... hanya untuk mendesain seragam syar'i yayasan yatim dan busana dakwah?"


---

Lihat selengkapnya