Adik kandung Fattana, Zahrana (Nana), menelepon dari pesantren. Nana menceritakan bahwa sang ayah, Kyai Ahmad, sempat jatuh sakit karena kelelahan mengajar santri. Fattana dilanda kerinduan dan kecemasan mendalam. Malam itu, dalam tahajudnya, Fattana menangis bersimpuh di hadapan Allah, memohon kesembuhan ayahnya sekaligus memohon penjagaan hati dari perasaan cinta yang mulai mekar sebelum akad.
# BAB 16: KABAR DARI PESANTREN: KERINDUAN YANG SUNYI
Sudut Pandang: Fattana Fathiyah (Orang Pertama - 'Aku')
Kutipan Inti: "Ya Rabb, jika rasa ini datang dari-Mu, bimbinglah ia agar tetap suci. Namun jika ia menodai tawakkalku, cabutlah hingga tak bersisa."
=========================================================
## Bagian I: Dering di Antara Deru Mesin Palmerah
[Pukul 21.15 WIB, Malam Gulita | Kamar Loteng & Studio Jahit Fattana, Palmerah, Jakarta Barat]
Hujan di atas langit Palmerah tidak pernah turun dengan kelembutan yang sopan. Malam itu, ia mencambuk genting seng dan kisi-kisi kaca nako kamar lotengku dengan kebuasan yang membisingkan telinga. Udara ruangan berukuran empat kali lima meter itu pekat oleh bau khas yang menyesakkan: campuran aroma oli mesin jahit berputar cepat, serat kapas katun jepang yang beterbangan tak kasat mata, dan uap lembap dari setrika uap industri yang baru saja kumatikan setengah jam lalu. Jari telunjuk kananku berdenyut nyeri, bekas tertusuk jarum nomor empat belas saat menyematkan lis bordir pada kerah seragam ke-seratus empat puluh dua.
Di lantai kayu yang terlapisi vinil kusam, tumpukan dua ratus potong kemeja drill kelabu gelap berbaris kaku laksana serdadu bisu yang menuntut pertanggungjawaban. Lusa pagi, pukul sembilan tepat, sebuah truk boks dari PT Mahawira Sentosa akan merapat di mulut gang sempit ini. Bila seluruh seragam ini gagal lolos uji kendali mutu, bukan hanya klausul penalti sebesar empat puluh persen yang akan melumat tabungan tiga tahunku, melainkan juga reputasi studio jahit kecil yang kubangun dengan meremukkan tulang punggungku sendiri di rimba ibu kota.
Namun, tepat ketika gunting kain di tanganku hendak memotong keliman benang terakhir, dering ponsel tuaku menjerit dari atas meja potong. Layar ponsel yang retak di sudut kiri itu berkedip-kedip, menampilkan sebuah nama yang seketika membuat denyut nadiku melompat liar ke tenggorokan: Nana (Asrama Putri Al-Basyir).
Koneksi telepon dari pelosok Jawa Timur selalu tersendat oleh desis statis yang panjang, namun malam ini, desis itu terdengar seperti tarikan napas seseorang yang sedang tenggelam. Begitu tombol hijau kutebak dengan jemari yang masih bergetar, suara adik perempuanku meledak dalam isakan yang ditahan setengah mati.
"Mbak... Mbak Fatta... pulanglah, Mbak. Kumohon, demi Allah, carilah tiket tercepat malam ini..."
Suaraku tercekat, mengering di rongga dada. "Nana? Tenang dulu, Dek. Istighfar. Ada apa denganmu? Apakah asrama kebanjiran luapan sungai lagi?"
"Bukan asrama, Mbak... Abah..." Suara Zahrana patah-patah, diselingi gesekan kain kerudung pada mikrofon telepon umum pesantren yang usang. "Abah ambruk selepas mengimami salat Isya di masjid jami'. Saat membaca surah Ad-Dhuha di rakaat kedua, suara Abah bergetar lalu hilang. Tubuh Abah limbung ke kanan, menimpa mimbar khutbah jati. Para santri senior membopong Abah ke ndalem... Nafas Abah pendek-pendek sekali, Mbak. Bibir Abah membiru... Mantri desa sudah memasang selang oksigen cadangan, tapi Abah terus mengigaukan namamu... Menyebut kain... Menyebut janji... Mbak Fatta, Abah... Abah seperti orang yang sedang bersiap pamit."
Duniaku luruh seketika menjadi hening yang mematikan. Bunyi deburan hujan di luar jendela seolah lenyap, tergantikan oleh degup jantungku sendiri yang menghantam rusuk dengan gedoran panik yang membakar.
---------------------------------------------------------
## Bagian II: Timbangan Dua Benang: Bakti dan Amanah
[Pukul 22.40 WIB | Sudut Meja Potong, Kamar Loteng]
Bagaimana caramu memilih ketika kedua ujung timbangan sama-sama menuntut potongan jiwamu? Pertanyaan itu berputar di kepalaku bagai bilah pisau yang diasah perlahan. Aku berdiri terpaku menatap layar ponsel yang telah padam. Saldo rekeningku hanya menyisakan cukup uang untuk tiket kereta eksekutif tengah malam dari Stasiun Gambir ke Surabaya, lalu bersambung bus bumel tiga jam menuju gerbang pesantren di perbatasan hutan jati. Namun, jika aku melangkah keluar dari pintu tripleks ini malam ini juga, lima puluh potong kemeja yang belum tuntas dijahit dan dikancingkan akan menjadi tumpukan kain perca tak berharga.
Kompensasi wanprestasi bukan sekadar denda rupiah di atas kertas materai. Itu adalah vonis mati bagi impian kemandirianku. Aku memilih merantau ke Jakarta bukan untuk mengejar kemewahan metropolitan, melainkan untuk membuktikan kepada kerabat ndalem yang dulu mencemooh: bahwa anak perempuan seorang kyai kampung tidak ditakdirkan hanya untuk menjadi pelengkap dapur dan peminta belas kasihan sanak saudara ketika kas pesantren defisit.
Aku memandangi kedua telapak tanganku yang kasar. Kulit di sela jemariku tergores serat kain wol dan kapur jahit. Kenangan pahit lima tahun lalu menyeruak tanpa permisi. Ketika Ummi berpulang ke haribaan-Nya, pesantren kami sedang di puncak krisis sengketa tanah yang misterius. Abah menolak meminta sumbangan kepada para pejabat. Beliau memilih memakan ketela rebus bersama para santri yatim, menyembunyikan batuk darahnya di balik surban putih yang dilipat rapi di atas sajadah imam.
"Fatta," bisik Abah kala itu, saat melepas keberangkatanku di peron stasiun kota kecamatan dengan tas kanvas usang berisi mesin jahit jinjing warisan Ummi. "Ilmu agama yang Abah ajarkan kepadamu bukan sangkar, melainkan sayap. Terbanglah dengan menjaga iffah-mu. Jangan pernah menggadaikan kehormatan dirimu demi selembar uang kertas, tapi jangan pula kau campakkan amanah orang lain demi memanjakan rasa takutmu. Orang yang khianat pada janjinya adalah orang yang meruntuhkan Ka'bah di dalam hatinya sendiri."
Kata-kata itu kini menghantamku bagai godam baja. Jika aku pergi malam ini, aku menunaikan bakti anak, tetapi aku mengkhianati amanah kontrak dagang yang telah kusepakati dengan bismillah. Jika aku bertahan menyelesaikan jahitan ini hingga fajar lusa, aku mungkin akan tiba di pesantren hanya untuk mencium kain kafan Abah yang sudah kaku tertimbun tanah merah.
Air mata pertamaku malam itu jatuh, menetes tepat di atas kerah kemeja seragam yang sedang kuraba. Tetesan itu membasahi serat katun, membentuk noktah gelap yang meluas pelan—seperti rasa bersalah yang menggerogoti setiap sel kesadaranku.