Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Chapter tanpa judul #17

Mendengar dari Rayhan bahwa ayah Fattana sedang sakit dan produksi seragam tahap pertama telah terkendali di tangan tim supervisor, Arganata tidak membiarkan Fattana merasa terbebani. Arganata langsung menandatangani izin percepatan cuti bagi Fattana dan secara diam-diam mengirimkan dokter spesialis serta suplai obat herbal terbaik ke pesantren melalui jaringan yayasan perusahaannya di Jawa Timur.

BAB 17: BAKTI & KEPUTUSAN CEPAT SANG CEO

Lokasi: Ruang Kerja CEO Gemeling Shakti Creation, Lantai 28, Menara Sudirman, Jakarta

Waktu: Senja temaram hingga larut malam berhujan lebat

Sudut Pandang (POV): Arganata Ar Rimbai (Orang Pertama / 'Aku')

Kutipan Mutiara: "Membantu orang tua yang saleh adalah kehormatan bagi siapa pun yang menginginkan keberkahan dalam urusan dunianya."


==========================================================


BAGIAN 01: DI ANTARA RINTIK KACA DAN LEMBAR NERACA

(Kabar Mendadak dari Pesantren Jawa Timur)


Hujan petang di Jakarta tidak pernah sekadar turun; ia menghantam dinding-dinding kaca lantai dua puluh delapan Menara Gemeling Shakti Creation laksana butiran peluru perak yang putus asa. Dari balik jendela berbidang masif ini, cakrawala metropolitan tampak luruh ke dalam kelabu pekat, menyerupai lukisan cat air yang disiram air kotor sebelum sempat mengering. Suara gemuruh petir di kejauhan beradu dengan senyap yang dingin di ruang kerjaku—sebuah ruangan seluas seratus dua puluh meter persegi yang dipenuhi panel kayu jati gelap, rak-rak buku ensiklopedia tekstil kuno, serta aroma samar kayu gaharu yang terbakar perlahan di sudut perapian elektrik.


Aku memutar pena Montblanc berbalut emas mawar di sela jemariku. Di hadapanku terbentang tiga tumpuk dokumen rekapitulasi audit benang tenun dan prototipe seragam pondok pesantren se-Nusantara. Batch pertama—sembilan puluh ribu pasang bahan seragam berbahan serat bambu ramah lingkungan—telah lolos uji ketahanan tarik dan pewarnaan alami. Semuanya sempurna. Angka-angka margin laba menari di atas kertas kalkir dengan presisi matematika yang tidak mengenal ampun. Sebagai Chief Executive Officer, inilah saat di mana aku seharusnya bernapas lega. Pengorbanan modal lima puluh enam miliar rupiah pada kuartal ini berada di ambang keberhasilan mutlak.


Namun, ada sesuatu yang mengganjal di rongga dadaku sejak azan Asar berkumandang dua jam lalu. Sebuah denyut kecemasan yang ganjil, merayap dingin di sepanjang tulang belakangku.


Ketukan di pintu kayu jati menghentikan lamunanku. Dua ketukan berjarak sepersekian detik—kode ketukan yang sangat kukenal.


"Masuk, Rayhan," sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari grafik serapan cairan kain di layar monitor monitor melengkung.


Pintu terbuka dengan desis hidraulis yang halus. Rayhan, direktur operasional sekaligus sahabat yang telah menemaniku sejak kami sama-sama membongkar gudang kain tua di Tanah Abang satu dekade silam, melangkah masuk. Namun langkahnya sore ini kehilangan ketukan percaya dirinya yang biasa. Tidak ada senyum pongah khasnya saat membawa kabar kemenangan tender. Wajahnya pias, dan map kulit hitam di genggamannya dipegang erat-erat seolah benda itu adalah bahan peledak yang labil.


"Arga," panggilnya dengan suara parau yang tertahan di kerongkongan. "Semua supervisor lapangan di pabrik Cikarang sudah menandatangani berita acara serah terima tahap awal. Distribusi ke gudang transit Surabaya aman terkendali. Tidak ada cacat serat satu sentimeter pun."


"Lalu mengapa wajahmu seperti baru saja menyaksikan kapal induk kita karam di Selat Sunda?" tanyaku dingin, meletakkan pena dan menegakkan sandaran kursi kulit ergonomisku. Sorot mataku menuntut penjelasan langsung tanpa basa-basi korporat.


Rayhan menghela napas panjang, tatapannya beralih ke arah rintik air yang kian liar mencambuki kaca jendela. "Ini bukan soal pabrik, Arga. Ini soal Fattana."


Nama itu melayang di udara ruangan, seketika mengubah kekentalan oksigen di antara kami. Aku menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Selama delapan bulan terakhir, Fattana adalah kepala desainer dan pengendali mutu paling brilian yang pernah direkrut perusahaan ini. Sikapnya yang santun, hijab lebarnya yang selalu terjaga rapi, serta keteguhan prinsip syar'i-nya yang tanpa kompromi telah mengubah etos kerja seluruh divisi kreatif. Namun di balik kekaguman profesional itu, aku selalu memagari diriku dengan benteng ghaddul bashar—menundukkan pandangan dan menjaga jarak kehormatan yang sakral.


"Ada apa dengan dia? Apakah desain motif songket bordir santri putri bermasalah?" cecarku, berusaha menjaga intonasi suaraku tetap berada di frekuensi manajerial yang datar.


"Ayahnya ambruk, Arga," bisik Rayhan pelan, namun kata-kata itu menghantam gendang telingaku seperti godam godam baja. "Kyai Ahmad. Serangan pernapasan akut disertai dekompensasi kordis pasca-pengajian subuh di Pesantren Al-Hidayah Jombang tadi pagi. Sekarang beliau terbaring koma di dhalem, hanya dibantu tabung oksigen seadanya dari puskesmas kecamatan. Fattana baru menerima kabar itu lima belas menit yang lalu dari pengurus pondok. Aku melihatnya di lorong studio desain... anak itu gemetar hebat, Arga. Tangannya sampai tidak sanggup memegang gagang pintu, tapi dia masih bersikeras memeriksa sepuluh lembar uji sampel bordir karena takut mengecewakan perusahaan."


[Refleksi Batin]: "Bagaimana seorang pemimpin menyeimbangkan tuntutan target produksi jutaan meter kain dengan jeritan nurani kemanusiaan anak buahnya?"


----------------------------------------------------------


BAGIAN 02: BAYANG-BAYANG PENYESALAN SEMBILAN TAHUN SILAM

(Jeritan Nurani yang Tak Pernah Padam)


Kata-kata Rayhan laksana bilah belati berkarat yang dihunjamkan tepat ke bekas luka lama di dadaku—luka yang kukira telah mengering di bawah tumpukan piala penghargaan pengusaha muda terbaik dan piagam konglomerasi.


Seketika itu juga, pemandangan kantor megah ini buyar. Kesadaranku terseret mundur sembilan tahun ke masa lalu, ke sebuah malam basah di lorong Rumah Sakit Medistra, November dua ribu tujuh belas.


Malam itu, ayahku—Raden Rimbai—terbaring dengan kabel-kabel elektrokardiogram yang menempel di dadanya yang kian kurus. Sementara aku, Arganata muda yang dirasuki ambisi gila untuk membuktikan diri kepada dewan komisaris, justru memilih bertahan di ruang rapat lantai empat hotel berbintang lima demi memenangkan voting akuisisi saham tekstil senilai empat puluh miliar. Rayhan berulang kali mengirimkan pesan darurat bahwa saturasi oksigen ayah terus merosot di bawah tujuh puluh persen. Namun aku menepisnya. Dalam kecongkakan pikiranku saat itu, aku membatin: 'Ayah pasti bertahan. Ayah orang kuat. Lima belas menit lagi kontrak ini ditandatangani, dan aku akan membawa kemenangan ini ke hadapannya sebagai hadiah baktiku.'


Betapa congkaknya manusia ketika menakar takdir dengan jam tangan Swiss miliknya.


Ketika mobilku akhirnya menembus gerbang rumah sakit dan kakiku berlari menyusuri lorong berbau karbol itu, yang kusambut bukanlah tatapan bangga seorang ayah. Yang kutemukan hanyalah selembar kain putih yang telah ditarik menutupi wajahnya yang pucat. Jemari tangannya yang kukupang sudah sedingin marmer makam. Tiada lagi helaan napas yang bisa kuhirup. Tiada lagi doa dari bibir yang selalu melafalkan ayat-ayat perlindungan untuk anak lelakinya ini. Aku terlambat delapan belas menit. Delapan belas menit yang menukar keabadian restu orang tua dengan lembaran kertas kontrak saham yang seketika berubah menjadi sampah tak bernyawa.


Sembilan tahun aku memikul rasa bersalah itu sendirian di dalam kamar tidurku yang sunyi. Sembilan tahun aku terbangun di tengah malam dengan peluh dingin, tercekik oleh penyesalan bahwa seluruh kekayaan yang kukumpulkan hari ini tidak akan pernah mampu membeli kembali satu tarikan napas terakhir ayahku.


Dan kini, di bawah atap perusahaanku sendiri, ada seorang anak perempuan salehah yang sedang berdiri di tepi jurang penyesalan yang sama persis.


Darahku berdesir panas. Rahangku mengeras. Rasa dingin yang tadi merayap di punggungku berganti menjadi api kehendak yang tak terbendung. Tidak. Demi Allah, tidak akan pernah kubiarkan ada orang di lingkungan perusahaanku yang harus mengubur baktinya kepada orang tua hanya demi menjaga roda industri tetap berputar!


[Refleksi Batin]: "Berapa harga yang harus dibayar saat kita menukar detik-detik terakhir bersama orang tua dengan kejayaan duniawi?"


----------------------------------------------------------


BAGIAN 03: DIALOG TAJAM & TITAH HAMBA ALLAH

(Benturan Etika Korporasi dan Hakikat Ketulusan)


"Cari formulir pengajuan cuti darurat sekarang juga," perintahku singkat, suaraku menggelegar memecah kesunyian ruangan dengan otoritas mutlak.


Rayhan terbelalak menatapku. "Arga, dengarkan aku dulu. Tahap pertama seragam ini memang sudah terkendali di pabrik, tetapi Fattana adalah penanggung jawab utama spesifikasi kimia pewarnaan saat proses pencelupan massal minggu depan di Solo. Kalau dewan komisaris tahu kamu meloloskan cuti sepihak tanpa rekomendasi tertulis dari Kepala Divisi HRD—"


"Persetan dengan birokrasi HRD dan dewan komisaris!" bentakku, berdiri tegak hingga kursi di belakangku bergeser mundur. Mataku menatap tajam ke pupil mata Rayhan. "Apakah kita mendirikan Gemeling Shakti ini untuk menjadi monster pemeras keringat yang menahan seorang anak dari pembaringan ayahnya yang sekarat? Hah?!"

Lihat selengkapnya