Fattana menatap rintik hujan di jendela kereta malam yang melaju menuju timur Jawa. Sebelum berangkat, Rayhan sempat menyerahkan sebuah map kulit titipan dari Arganata. Di dalamnya bukan surat cinta picisan, melainkan laporan progres kerja yang rapi dan secarik doa tulisan tangan Arganata dalam bahasa Arab: doa kesembuhan bagi seorang ulama. Air mata Fattana menetes perlahan; ia mengerti betapa santunnya cara lelaki itu menyentuh hatinya.Garis Takdir di Atas Sajadah Waktu
BAB 18: Kereta Malam Menuju Tanah Pesantren
POV: Fattana Fathiyah | Setting: Stasiun Gambir Jakarta & Gerbong Eksekutif KA Argo Bromo Anggrek
=====================================================
--- Gerak I: Derai Hujan di Peron Empat: Stasiun Gambir dan Nafas Logam Kereta Api ---
Peluit panjang lokomotif CC206 melolong membelah gemuruh hujan lebat yang membanting atap seng kanopi Stasiun Gambir malam itu. Udara November berbau uap solar yang terbakar, lantai peron yang basah memantulkan pendar lampu merkuri berwarna jingga pucat, dan getaran ritmis bantalan beton merayap dari telapak sepatu kulit Fattana Fathiyah hingga ke rongga dadanya yang sejak tadi dihimpit sesak. Jam digital di atas jalur empat berkedip merah menyala: 20.45 WIB. Lima belas menit lagi, ular besi Argo Bromo Anggrek akan menyeret tubuhnya menjauhi hiruk-pikuk metropolitan, menembus urat nadi pulau Jawa yang basah, menuju timur—menuju ranjang rumah sakit di tanah pesantren tempat napas seorang ulama besar sedang berkejaran dengan malaikat maut.
Fattana merapatkan mantel wol abu-abunya ke dada. Tangannya yang dingin seperti pualam menggenggam erat tali tas jinjingnya, berusaha menyembunyikan tremor halus yang tak kunjung reda di ujung-ujung jarinya. Tiga jam yang lalu, telepon dari pamannya di Jombang datang bagai kilat yang merobek langit senja: Abah—Kiai Mukhsin yang menjadi pilar ruhani ribuan santri sekaligus satu-satunya sauh hidupnya setelah kepergian sang ibu—mengalami koma hepatik akibat kegagalan fungsi organ mendadak. Semua kata-kata medis yang diracaukan dokter spesialis lewat sambungan telepon terdengar kabur di telinga Fattana, menyisakan satu perintah mutlak yang meremukkan seluruh logika akademisnya: pulanglah sebelum terlambat.
Di tengah kekalutan mencari tiket kereta yang nyaris mustahil di akhir pekan, Rayhan Al-Ghifari tiba-tiba muncul di hadapan pintu gerbang pemeriksaan tiket Gambir bagai bayangan yang terlempar dari badai. Jas hujan Rayhan yang basah kuyup meneteskan air ke ubin stasiun, rambut ikalnya menempel di kening, dan napas pemuda itu tersengal parah seolah baru saja berlari maraton melintasi jalanan Jakarta yang macet total. Namun yang membuat jantung Fattana berdegup ganjil bukanlah napas terengah Rayhan, melainkan sebuah benda yang didekap pemuda itu di balik jaket tebalnya: sebuah map kulit warna tan tua yang tebal, berjahit benang rami kokoh, dengan gesper kuningan berpahat logo geometris khas arsitektur Islam klasik.
“Fattana! Tunggu...” Rayhan mencengkeram lututnya sejenak, memburu oksigen sebelum meluruskan punggung di hadapan Fattana yang terpaku di dekat gerbang pintu satu. Dari celah jaketnya, Rayhan menarik map kulit itu dan menyodorkannya dengan kedua tangan—sebuah sikap takzim yang ganjil untuk seorang kolega kantor yang biasanya santai dan gemar melempar seloroh cerdas.
“Ini dari Arganata,” suara Rayhan serak, diwarnai getaran yang anehnya terdengar seperti kepedihan yang ditekan mati-matian. “Dia... dia tidak bisa datang ke stasiun malam ini. Tapi dia memintaku menyerahkan ini langsung ke tanganmu sebelum keretamu meluncur. Jangan buka sekarang. Bacalah nanti saat keretamu sudah meninggalkan Jakarta.”
Fattana menatap map kulit itu dengan kening berkerut dalam. Nama Arganata Bramantya seketika menghadirkan sengatan dingin di ubun-ubunnya—campuran antara kejengkelan lama, kebingungan, dan rasa perih yang selama enam bulan terakhir menjadi duri dalam daging pekerjaannya di kantor perancangan masterplan wakaf. Arganata: direktur eksekutif proyek yang jenius, berdarah ningrat, namun memiliki perangai sedingin marmer makam. Lelaki yang tak pernah sudi menatap matanya lebih dari tiga detik, lelaki yang selalu menundukkan pandangan setiap kali Fattana memaparkan revisi arsitektur pesantren, lelaki yang begitu hemat bicara hingga sepatah pujian darinya terasa lebih mustahil daripada turunnya salju di Batavia.
“Kenapa harus sekarang, Rayhan?” Fattana mendesah getir, ada nada getir yang tak mampu ia tahan saat menatap pantulan lampu peron di permukaan kulit map yang mengilap. “Ayahku sedang kritis di pesantren. Pikiranku hancur berkeping-keping. Dan bosmu itu masih sempat-sempatnya mengirimiku revisi dokumen atau evaluasi tender proyek di atas peron keberangkatan seperti ini? Apakah di dalam dadanya benar-benar hanya ada kalkulator dan beton bertulang?”
Rayhan terdiam. Selama tiga detik yang terasa membeku di antara riuh pengumuman stasiun, mata Rayhan menatap lurus ke dalam pupil Fattana. Tidak ada bantahan sinis seperti biasanya. Yang ada hanyalah genangan luka yang begitu pekat di balik kelopak mata pemuda itu, sebuah tatapan yang membuat bulu kuduk Fattana meremang ngeri.
“Fattana,” bisik Rayhan dengan suara yang nyaris tertelan deru mesin lokomotif di samping mereka. “Arganata bukan tidak peduli. Dia hanya tidak memiliki hak untuk menangis di sampingmu malam ini. Jangan pernah hakimi seorang lelaki hanya dari bagaimana ia menjaga pandangannya darimu. Naiklah ke gerbongmu. Doakan Abahmu... dan demi Allah, jangan buang map itu.”
--- Gerak II: Gemeretak Rel dan Bayangan di Kaca: Menembus Pekatnya Malam Jawa di Gerbong Tiga ---
Hentakan pertama kopel kereta terasa begitu mengentak, disusul decit gesekan roda baja di atas rel yang memuntahkan percikan api tak kasatmata. Kereta bergerak lambat, merayapi stang-stang jembatan layang Cikini, melewati siluet Monas yang samar tertutup tirai kabut hujan, lalu perlahan menambah kecepatan meninggalkan kerlap-kerlip belantara beton ibu kota. Di dalam gerbong eksekutif tiga, pendingin udara mendesing halus, menyemburkan hawa sedingin lemari es yang membuat sebagian besar penumpang menarik selimut beludru biru hingga ke dagu. Namun bagi Fattana, dingin yang menusuk tulang selangkanya bukan berasal dari kisi-kisi pendingin udara Daikin di atas plafon, melainkan dari rongga hatinya yang terasa lowong tak berpenghuni.
Di kursi 4A dekat jendela, Fattana menyandarkan dahinya ke kaca ganda yang dingin berembun. Butir-butir air hujan di luar meluncur miring seiring laju kereta yang kini melesat menembus kegelapan Bekasi menuju Cikampek. Di kaca yang gelap itu, Fattana tidak melihat panorama luar—yang ada hanyalah kegelapan pekat diselingi kilatan tiang listrik yang melintas secepat kilat—melainkan pantulan wajahnya sendiri. Wajah seorang perempuan berusia dua puluh delapan tahun yang pucat pasi, dengan jilbab pasmina pasundan hitam yang sedikit kusut, dan mata bundar yang sembap dikepung lingkaran bayang-bayang kelelahan batin.
Berapa kali dalam hidupnya ia melarikan diri dari takdir? Sebagai putri satu-satunya dari Kiai Mukhsin, Fattana telah dididik untuk menjadi pewaris ruhani yang anggun, seorang cendekia Muslimah yang memahami kitab-kitab kuning klasik sekaligus fasih berdiplomasi di forum internasional. Namun lima tahun lalu, sebuah gejolak batin membuatnya memilih merantau ke Jakarta, menenggelamkan diri dalam dunia arsitektur dan manajemen tata ruang kota, berusaha membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak tanpa bayang-bayang kebesaran nama sang kiai. Abah tak pernah marah; abah hanya tersenyum dengan sorot mata teduh yang selalu memaafkan sembari berbisik di teras ndalem: *“Air sungai boleh berkelana sejauh apa pun membelah gunung dan lembah, Nduk. Tapi pada akhirnya, ia akan rindu pada mata air yang menyucikannya pertama kali.”*
Kini mata air itu sedang mengering. Napas sang kiai di ujung tanduk, dan Fattana merasa seperti seorang durhaka yang baru teringat pulang ketika pintu rumah sudah bersiap dikunci rapat oleh ajal.
Rasa bersalah itu menggulung hatinya seperti ombak pasang yang menghantam tebing karang. Napasnya tercekat, dan satu tetes air mata yang hangat akhirnya bobol, meluncur lambat menyusuri pipinya sebelum jatuh tepat di atas permukaan map kulit yang kini terbaring di pangkuannya. Aroma samar yang keluar dari map kulit itu tiba-tiba menusuk indra penciumannya—bukan bau kertas fotokopian murahan atau bau tinta printer kantor, melainkan wangi gaharu basah yang dipadukan dengan minyak kasturi murni, sebuah wangi khas yang begitu akrab sekaligus asing. Itu adalah wangi yang selalu menguar tipis dari sajadah tempat Arganata shalat di musala kantor setiap kali jam kerja telah usai.
--- Gerak III: Aroma Gaharu dan Rahasia Map Kulit: Bukan Berkas Tender Picisan, Melainkan Lembaran Jiwa ---
Dengan jari-jemari yang masih gemetar halus, Fattana melepaskan kancing gesper kuningan yang mengunci map tersebut. Bunyi *klik* logam terdengar begitu nyaring di tengah dengkuran halus penumpang di seberang lorong. Fattana membuka lipatan kulit tebal itu dengan hati-hati, separuh mengira ia akan menemukan tumpukan tagihan kontraktor, lembar evaluasi beton, atau koreksi pasal-pasal perjanjian kerja sama wakaf yang biasanya menuntut ketelitian kepalanya hingga dini hari.
Namun matanya membelalak saat mendapati apa yang terhampar di lapisan paling atas.
Di atas berkas-berkas teknis berstempel resmi, diletakkan selembar kertas tebal jenis *handmade cotton paper* bertekstur kasar dengan warna krem gading yang hangat. Di atas lembaran kertas itu, tidak ada ketikan font Helvetica yang kaku. Yang ada adalah goresan tinta cina hitam legam yang ditulis tangan menggunakan pena buluh bambu, membentuk rangkaian kaligrafi Arab dengan khat *riq'ah* yang luar biasa indah, kokoh, miring serasi, namun memiliki tarikan garis yang di beberapa titik tampak sedikit bergetar tak rata—seperti ditulis oleh seseorang yang sedang menahan rasa sakit tak tertahankan di pergelangan tangannya.
Fattana, yang sejak masa kecil di pesantren telah khatam kaidah-kaidah seni kaligrafi Islam di bawah bimbingan langsung Abahnya, seketika mengenali doa yang tertulis di sana. Dadanya bergemuruh hebat saat matanya mengeja huruf demi huruf yang dirangkai dengan adab yang begitu luhur:
« اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا. اللَّهُمَّ احْفَظْ شَيْخَنَا وَمُرَبِّيَ رُوْحِنَا، وَارْفَعْ عَنْهُ كُلَّ ضُرٍّ وَبَلَاءٍ، وَأَعِدْهُ إِلَى مِحْرَابِهِ سَالِمًا غَانِمًا »