Dua hari menjelang jadwal pembagian seragam serentak, musibah datang. Pipa pendingin dan zat pewarna kimia di gudang logistik bocor secara mencurigakan, merusak puluhan rol kain sampel premium yang siap dipotong. Investigasi internal menemukan indikasi sabotase oleh pihak luar. Clarissa dicurigai berada di balik layar melalui orang dalam gudang. Arganata tetap tenang, melarang timnya panik atau membalas dendam dengan cara kotor.
I. Badai di Layar Kaca
Hujan petang belum tuntas membilas kaca setinggi empat meter di lantai tiga puluh dua Menara Gemeling Shakti Creation. Di luar, siluet gedung-gedung pencakar langit segitiga emas Kuningan tampak seperti deretan nisan kelabu raksasa yang tertikam kabut pekat. Di dalam, udara dingin beraroma kopi pekat bercampur ozon dari mesin pendingin sentral terasa begitu membekukan tulang. Namun, di dalam rongga dadaku, ada nyala lahar yang mendidih tanpa suara.
"Rayhan, lihat ini. Jangan berkedip."
Suara dingin Arganata memecah keheningan yang sejak satu jam lalu hanya diisi derik pelan jarum detik arloji Patek Philippe miliknya. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu berdiri membelakangi mejaku, memandang Jakarta yang basah dengan kedua tangan terkepal di balik saku setelan jas wol Ariston abu-abu gelapnya. Posturnya yang tegak laksana dinding benteng tak menampakkan sedikit pun getaran, tetapi aku tahu betul garis rahangnya yang mengetat adalah pertanda badai kategori lima sedang mengintai.
Aku mencondongkan tubuh ke depan layar monitor lengkung beresolusi tinggi di depanku. Tab peramban menampilkan laman utama portal gosip bisnis KanalBisnis24, bersanding dengan linimasa media sosial X yang bergulir liar dengan kecepatan ratusan cuitan per detik. Sebuah tangkapan layar beresolusi rendah terpampang sebagai tajuk utama: siluet Arganata yang tengah membungkuk sopan berbicara dengan Fattana di sudut serambi paviliun pameran busana Syar'i dua pekan silam. Di samping foto itu, disandingkan potongan dokumen bertanda 'RAHASIA' dengan cap lelang pengadaan bahan kain sutra tenun untuk seragam korporat bernilai puluhan miliar rupiah.
Judulnya terpahat dengan huruf tebal berwarna merah menyala, sebuah racun digital yang diracik khusus untuk memicu insting purba para penghuni ruang maya:
"Biadab," geramku, dan suaraku sendiri terdengar asing di telingaku—serak, tertahan, bergetar oleh amarah yang menghantam ulu hati bagai palu godam. Buku-buku jemariku memutih saat meremas tepi meja mahoni. Darahku berdesir kencang, membanjiri pelipisku dengan denyutan menyiksa. "Mereka tidak hanya menyerang kredibilitas lelang Gemeling Shakti. Mereka sengaja menyeret nama Butik Fathiyah... mereka sengaja menodai nama Pesantren Darul Muhibbin!"
Aku melirik kolom komentar yang mengalir laksana selokan mampet yang meluap. Ribuan akun tanpa nama dan wajah asli, digerakkan oleh bot-bot buzzer bayaran dengan pola cuitan yang seragam, melemparkan cemooh paling keji. Kata-kata seperti 'kedok agama', 'simpanan berhijab', hingga 'mafia syariat' berhamburan tanpa belas kasihan. Dunia maya adalah gelanggang gladiator modern tanpa etika; tempat di mana kehormatan seseorang yang dibangun seumur hidup dengan cucuran keringat dan air mata sujud malam bisa dilumat habis dalam hitungan detik hanya demi retensi impresi dan algoritma busuk.
Pikiranku terlempar jauh ke masa lalu, menyeret memoriku kembali ke serambi bambu Pesantren Darul Muhibbin di lereng bukit Jawa Timur lima tahun silam. Aku teringat gemerisik daun jati yang gugur ditiup angin kemarau, aroma tanah basah sehabis wudhu, dan suara teduh Kyai Ahmad saat menyeduhkanku secangkir teh melati hangat. Waktu itu, aku hanyalah seorang pemuda kota yang remuk redam, terombang-ambing oleh kebangkrutan keluarga dan kepalsuan pergaulan metropolitan.
"Rayhan, anakku," bisik Kyai Ahmad kala itu, menatap lurus ke dalam mataku yang redup dengan pandangan seorang ayah ruhani yang menembus labirin jiwaku. "Dunia di luar sana adalah rimba cermin retak. Orang-orang gemar melempar batu bukan karena mereka membenci batunya, melainkan karena mereka takut melihat wajah mereka sendiri yang cacat di dalam pantulan. Jangan pernah membalas melempar batu, tapi jangan pula lari membiarkan kebenaran diinjak. Jika suatu saat fitnah menerpa pintu rumahmu, tegaklah dengan adab dan fakta. Sebab kehormatan seorang mukmin lebih mulia di sisi Allah daripada Ka'bah sekalipun."
Dan kini, putri dari lelaki mulia itu—Fattana Az-Zahra, wanita yang bahkan tak pernah menatap wajah lelaki asing kecuali dengan menundukkan pandangan, desainer berbakat yang menghabiskan malam-malamnya merancang busana penutup aurat sambil melantunkan ayat suci di sudut biliknya—kini dijadikan santapan empuk para pemangsa reputasi di belantara internet.
"Beri aku izin, Mas Arga," kataku menatap punggung Arganata dengan nafas memburu. "Biar tim Humas kita serang balik sekarang juga. Aku kenal beberapa pimpinan redaksi media arus utama dan pemilik jejaring akun berpengaruh. Kita bisa rilis rincian audit lelang secara terbuka, kita buat bantahan keras, dan kita tenggelamkan tagar fitnah ini dengan fakta keunggulan teknis Fathiyah Modest sebelum opini publik membusuk!"
Arganata perlahan membalikkan badannya. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya berkilat tajam laksana bilah pisau bedah yang siap menyayat tumor ganas. Ia melangkah mendekat, lalu menarik kursi kulit di seberang mejaku dan duduk perlahan. Gerakannya anggun dan terukur, tidak mencerminkan kegalauan seorang pemimpin perusahaan yang sahamnya sedang terancam anjlok di bursa efek.
"Rayhan," panggilnya dengan suara bariton yang teramat rendah, mengikis nada panik yang sempat menguasai ruangan. "Jika seekor anjing gila menggonggong di tengah jalan berlumpur, apakah kau akan merangkak turun dengan empat kakimu untuk ikut menggonggong di hadapannya?"
Aku terdiam, mengatupkan rahangku rapat-rapat. "Ini berbeda, Mas! Ini bukan sekadar gonggongan pasar saham. Ini pembunuhan karakter! Di Jawa Timur, ratusan santri membaca berita ini. Para donatur pesantren, wali santri... mereka bisa meragukan kesucian Pesantren Darul Muhibbin!"
"Justru karena taruhannya adalah kesucian sebuah nama, kita tidak boleh bertindak seperti gerombolan serigala lapar yang kehilangan akal sehat," potong Arganata dingin. Jarinya mengetuk permukaan meja mahoni dua kali. "Fitnah digital dirancang dengan satu tujuan psikologis: memancing kepanikan mangsanya agar mengeluarkan bantahan prematur yang emosional. Begitu kau membantah dengan emosi, algoritma mereka akan membingkai bantahan itu sebagai tanda kepanikan bersalah. Mereka ingin kita masuk ke dalam lumpur hisap yang mereka buat."
Pintu ruang kerja berdenting pelan. Advokat Baskoro, kepala biro hukum Gemeling Shakti Creation yang berambut perak dengan reputasi tanpa cela di pengadilan niaga, melangkah masuk didampingi dua staf forensik digital muda yang menenteng laptop berkas tahan banting. Udara di dalam ruangan seketika berubah kian mencekam, sarat ketegangan profesional.
"Pak Arganata, Mas Rayhan," Baskoro membuka map tebal berlogo firma hukum ternama miliknya. Lembaran-lembaran kertas berstempel verifikasi notaril dan tangkapan layar berkas log server terhampar di atas meja. "Kami sudah membedah anatomi serangannya. Ini bukan gerakan organik netizen yang kecewa. Polanya terlalu rapi. Dua puluh lima ribu cuitan pertama disemburkan secara terkoordinasi oleh jaringan akun telur dalam kurun waktu empat belas menit. Akun induk yang pertama kali mengunggah berkas lelang palsu adalah portal anonim bernama NyalaMedia, yang domainnya baru didaftarkan tiga hari lalu lewat server proksi di Seychelles."
"Dokumen lelang yang mereka bocorkan... apakah otentik?" tanyaku dengan dada sesak.
Baskoro melirik Arganata sejenak sebelum menjawab. "Sebagian otentik, sebagian telah dimanipulasi secara jahat. Lampiran teknis spesifikasi sutra tenun memang milik lelang internal kita. Namun tabel penilaian skor lelang di halaman tujuh telah diedit menggunakan peranti lunak grafik. Skor butik Fathiyah Modest yang aslinya unggul mutlak dalam uji ketahanan serat alami dan sertifikasi halal pewarna nabati, diganti dengan catatan fiktif bernada memo pribadi dari Pak Arga. Si pembuat hoaks ingin menciptakan kesan bahwa penunjukan Fathiyah dilakukan atas instruksi rahasia tanpa melalui uji kelayakan panitia independen."
"Siapa yang memiliki akses ke salinan fisik dokumen lelang itu sebelum malam ini?" bisikku, dan ada getaran paranoid yang menusuk sanubariku. Selama ini, seluruh proses tender berada di bawah supervisi ketat departemenku dan dewan pengawas. Jika dokumen itu bocor dari dalam, artinya ada duri dalam daging yang sedang bernapas di antara kami.
"Itu pertanyaan yang akan kita jawab malam ini juga, Rayhan," jawab Arganata pelan, menatap tajam ke mataku. Namun di balik sorot matanya yang tak tergoyahkan, aku menangkap sebuah kilatan getir yang sangat dalam—sebuah beban rahasia yang ia pikul sendirian sejak gudang logistik kami di Marunda terbakar misterius tiga malam lalu. Arganata menarik nafas panjang, lalu menoleh pada Baskoro.
"Baskoro, siapkan draf somasi resmi malam ini. Kita tidak akan merilis bantahan defensif murahan di akun media sosial korporat. Besok pagi tepat pukul delapan, kirimkan surat peringatan hukum terbuka dan somasi satu kali dua puluh empat jam kepada portal NyalaMedia, redaksi KanalBisnis24, dan lima puluh akun penyebar pertama yang telah teridentifikasi forensik. Gandeng Divisi Siber Mabes Polri. Sertakan pasal 27 ayat 3 UU ITE dan pasal 310-311 KUHP dengan ancaman pidana maksimal serta gugatan ganti rugi materiil dan imateriil sebesar seratus miliar rupiah."
"Baik, Pak Arga," sahut Baskoro lugas. "Kami juga telah menyiapkan berkas audit independen dari auditor publik terakreditasi internasional yang membuktikan bahwa lelang Fathiyah Modest dimenangkan secara murni atas keunggulan skor teknis 98,4 mengungguli tujuh konsorsium tekstil multinasional lainnya."
"Satu hal lagi," tambah Arganata, dan kali ini nada suaranya mengendap dengan ketegasan yang menuntut kepatuhan mutlak. "Pastikan dalam seluruh rilis pers resmi kita, tidak ada satu kalimat pun yang menyudutkan atau mengeksploitasi Butik Fathiyah demi mencari simpati publik. Kehormatan keluarga Kyai Ahmad tidak boleh dijadikan tameng korporat Gemeling Shakti. Jika ada reputasi yang harus terluka dan terbakar dalam pertempuran hukum ini, biarkan itu reputasiku sebagai CEO, bukan nama baik seorang wanita shalihah di pedalaman Jawa Timur."
Baskoro dan timnya telah undur diri ke ruang rapat komando hukum di lantai tiga puluh satu. Ruangan kini kembali hening. Hujan di luar semakin lebat, memukul-mukul kaca jendela dengan ritme liar tak beraturan, seolah meniru dentuman jantungku yang tak kunjung tenang. Di atas meja, ponsel satelit milik Arganata yang berlayar monokrom hitam menyala pelan. Sebuah nama muncul di layar: 'Fattana - Darul Muhibbin'.
Tanganku sontak terangkat, menahan nafasku sendiri. Selama dua tahun mengenal Arganata Shakti, aku jarang sekali melihat tangannya ragu. Ia adalah lelaki yang terbiasa menandatangani kontrak akuisisi tambang triliunan rupiah tanpa berkedip. Namun malam ini, di bawah temaram lampu meja gading, jemari kokoh Arganata tampak tertahan beberapa inci di atas layar sentuh. Ada pergolakan batin yang luar biasa hebat melanda jiwanya; rasa bersalah yang teramat pekat mengaburkan ketenangan sang penguasa korporat.
"Angkatlah, Mas," bisikku lirih. "Beliau pasti sudah tahu. Mustahil kabar sebesar ini belum sampai ke telinga santri senior di sana."