Fattana duduk di serambi ndalem pesantren bersama ayahnya yang telah berangsur pulih. Menanggapi fitnah yang beredar, Kyai Ahmad tersenyum teduh sambil memegang tasbih kayu cendana. Sang ayah menasihati Fattana agar tidak berkecil hati, karena setiap pohon yang berbuah manis pasti akan dilempari batu. Di sela perbincangan, seorang santri mengabarkan bahwa ada tamu dari Jakarta yang baru saja tiba di gerbang pesantren.
Bagian I: Gugurnya Daun Sawo dan Desah Tasbih Cendana
Di Serambi Ndalem, Aroma Hujan yang Mengiris Sukma
Aroma tanah basah selepas gerimis siang masih mengapung pekat di pelataran Pondok Pesantren Luhur Nurul Hikmah. Di serambi ndalem yang beralaskan tegel terakota buatan zaman kolonial, hawa dingin Pasuruan merayap perlahan melalui sela-sela jari kakiku yang telanjang. Aku duduk bersimpuh, menunduk begitu dalam hingga ujung jilbab katun kelabuku nyaris menyentuh lantai kayu jati tua yang telah dipel berkali-kali dengan air rebusan daun serai. Namun, wewangian serai dan harum tanah yang biasanya sanggup menentramkan dadaku, siang ini terasa serupa cuka yang diteteskan tepat di atas luka menganga.
Setiap helaan nafasku terasa berat dan berpasir. Di hadapanku, duduk bersila seorang lelaki yang separuh usianya dihabiskan untuk menghidupkan lentera ilmu di tanah Jawa ini: Abah. Beliau baru saja melewati masa-masa kritis akibat radang paru-paru yang menggerogoti tubuh sepuhnya selama tiga pekan terakhir. Tubuh yang dulu kokoh membimbing ribuan santri kini menyusut drastis, terbungkus jubah putih gading dan sarung tenun Samarinda bermotif lurik hijau lumut. Pipi beliau cekung, tulang pelipisnya menonjol tegas di bawah kulit keriput sewarna tembaga, tetapi sepasang matanya—sepasang telaga bening yang tak pernah kehilangan cahaya marifat—tetap memancarkan keteduhan yang tak terjangkau akal.
Klak... klak... klak...
Bunyi benturan lembut biji tasbih kayu cendana tua di tangan kanan Abah berdetak konstan, mengisi kesunyian yang menggantung di antara kami. Setiap butir kayu yang menggelincir di antara jemari kurus beliau menebarkan aroma khas yang getir namun menenangkan. Tasbih itu adalah peninggalan kakek buyutku, kayu yang konon dipotong dari pedalaman Nusa Tenggara pada peralihan abad kesembilan belas. Namun bagiku hari ini, ketukan tasbih itu terdengar seperti jarum jam dinding yang sedang menghitung detik demi detik menuju runtuhnya seluruh duniaku.
“Abah...” suaraku tercekat di kerongkongan, pecah menjadi bisikan yang gemetar. “Apakah kepulangan kulo ke Nurul Hikmah ini hanya menjadi aib yang mengotori kesucian pesantren? Santri-santri putri di komplek Al-Zahra... mereka mulai berbisik di balik tirai asrama setiap kali kulo melintas menuju madrasah. Wali santri dari Surabaya tadi pagi bahkan menolak bersalaman dengan kulo di koperasi. Berita daring dari Jakarta itu... fitnah keji itu telah meracuni akal sehat mereka, Abah. Mengapa mereka lebih percaya pada potongan video buram dan narasi akun gosip anonim daripada rekam jejak pengabdian kulo selama bertahun-tahun?”
Pertanyaan itu meluncur bersama air mata yang sejak fajar kupenjara di balik kelopak mata. Sakitnya bukan kepalang. Jiwaku bergolak hebat. Aku, Fattana Fathiyah, seorang perempuan yang dibesarkan dalam benteng ketat fiqih dan tasawuf, yang menghafal bait-bait Alfiyah Ibnu Malik dan menjaga setiap jengkal pandangan, kini diseret-seret ke panggung cercaan publik. Di layar gawai jutaan orang, namaku disandingkan dengan skandal penggelapan dana yayasan yatim piatu dan tuduhan hubungan asmara gelap dengan Arganata Bramantyo—pewaris gurita bisnis yang arogan dari Jakarta.
Mereka tidak tahu bagaimana malam itu di sebuah hotel kawasan Kuningan, aku mempertaruhkan segalanya bukan untuk menjual diri, melainkan untuk merebut kembali sertifikat tanah wakaf milik panti asuhan santri yang hendak disita oleh dewan direksi perusahaan Arganata. Aku datang sebagai pembela, namun pulang sebagai tersangka di hadapan pengadilan moral masyarakat yang haus darah penghakiman.
Kini, tatapan curiga dari masyarakat pesantren terasa jauh lebih mematikan daripada racun upas. Pesantren ini adalah nafasku, rumah rohaniku, tanah air batinku. Jika di tempat ini aku dipandang sebagai perempuan pendosa yang membawa noda, lantas ke sudut bumi mana lagi jiwa yang remuk ini harus bersembunyi?
Bagian II: Wejangan Samudra dan Filosofi Pohon yang Berbuah Manis
Petuah Mursyid di Bawah Ranting Sawo yang Teduh
Abah menghentikan putaran tasbihnya. Suara denting biji cendana mereda seketika, digantikan desau angin semilir yang mengguncang dahan pohon sawo raksasa di halaman depan serambi. Daun-daun sawo yang hijau tua mengkilap itu saling bergesekan, meluruhkan sisa butir-butir air hujan ke atas rerumputan gajah mini. Beberapa daun kering berputar di udara sebelum mendarat tanpa suara di anak tangga serambi terbawah.
Abah menatapku lama sekali. Di dalam kedalaman matanya, tidak kutemukan secuil pun kemarahan, kekecewaan, apalagi rasa jijik yang kutakutkan sejak turun dari kereta di Stasiun Bangil dua hari lalu. Yang ada hanyalah rasa iba yang meluap, rasa sayang seorang ayah yang mengalir tanpa syarat, melampaui batas-batas hukum kausalitas duniawi.
“Fattana, Nduk... anak wedokku,” suara Abah terdengar serak, parau oleh dahak yang tertahan di tenggorokan, namun getarannya menghujam langsung ke bilik jantungku. Beliau mengulurkan tangannya yang dingin, meraba pundakku yang terguncang oleh isak tangis.
“Coba sawangen pohon sawo di depanmu itu,” bisik Abah sambil mengarahkan pandangannya ke pohon rindang yang batangnya telah berlumut tebal. “Pohon itu ditanam oleh Mbah Kyai Syadzili saat pondok ini pertama kali dibabat dari belukar jati tujuh puluh tahun silam. Akarnya menembus jauh ke perut bumi Pasuruan, mengikat bebatuan dan sumber mata air di bawah ndalem ini. Saban musim kemarau menjelang penghujan, buahnya matang bergelantungan manis. Lalu apa yang terjadi setiap kali bocah-bocah santri atau anak-anak kampung lewat di pelataran?”
Aku menyeka air mata dengan ujung lengan bajuku, membisu dalam rengkuhan tanya.
“Mereka melemparinya dengan batu, Nduk,” lanjut Abah dengan senyum tipis yang teramat teduh di bibirnya yang pucat. “Mereka mengayunkan galah tajam, memukuli ranting-rantingnya hingga patah demi menjatuhkan buah yang ranum itu. Sekarang Abah tanya padamu: apakah pohon sawo itu lantas merajuk? Apakah ia membalas lemparan batu mereka dengan menjatuhkan getah beracun atau duri yang membutakan mata? Tidak. Pohon sawo itu tetap kokoh berdiri, dan yang dijatuhkannya ke tanah tetaplah buah sawo yang manis, legit, dan mengenyangkan perut orang-orang yang lapar.”
Nafasku tertahan. Dadaku berdenyut ngilu mendengar analogi sederhana yang sarat makrifat itu.
“Dunia ini, Fattana, bekerja dengan hukum yang sangat purba: setiap pohon yang berbuah manis niscaya akan dilempari batu. Manusia tidak akan pernah membuang tenaga untuk melempar pohon yang mandul atau pohon yang dipenuhi racun. Dengki dan fitnah itu bukan bukti kehinaanmu, melainkan tanda bahwa jiwamu sedang menghasilkan buah kebaikan yang membuat setan dan nafsu manusia kepanasan.”
Abah batuk tertahan, memegangi dadanya sesaat. Aku segera bergerak hendak mengambil cangkir keramik berisi rebusan jahe dan madu di samping baki, tetapi tangan Abah menahanku lembut. Jemari beliau yang bergetar kini meraih telapak tanganku, lalu meletakkan tasbih kayu cendana itu di atas jemariku, menutupkannya rapat-rapat.
“Dengarkan Abah baik-baik, Nduk,” tutur beliau, dan kali ini nada suaranya berubah menjadi sangat dalam, seolah sedang menyampaikan wasiat terakhir seorang musafir. “Jangan sibuk membersihkan namamu di mata manusia. Sibuklah membersihkan hatimu di hadapan Allah yang menggenggam semua jiwa. Hati yang dipenuhi tawadhu dan ikhlas itu ibarat air samudra yang tak bertepi. Lemparlah bangkai, kotoran, atau batu sebesar gunung sekalipun ke dalam samudra, apakah samudra itu akan menjadi keruh dan busuk? Tidak pernah. Keruhnya air hanya terjadi pada kubangan comberan yang sempit dan cetek, di mana sejentik lumpur saja sanggup mengotori seluruh isinya.”
Petuah itu laksana tetesan embun surga yang menyiram bara api di rongga dadaku. Namun di balik kelegaan sesaat itu, sebuah kejanggalan halus menyusup ke benakku. Mengapa tatapan Abah saat memegang tanganku tadi terasa sarat dengan duka yang disembunyikan? Mengapa ada kilatan rasa bersalah yang teramat purba di sudut pelupuk matanya? Seolah-olah kata-kata tasawuf itu bukan hanya ditujukan untuk mengobati lukaku, melainkan juga untuk menenangkan badai penyesalan yang sedang berkecamuk di dalam dadanya sendiri.
Bagian III: Gelak Tawa di Tepi Kolam Ikan dan Canda Nana
Percik Air Harapan di Tengah Pekatnya Prasangka
Langkah kaki yang tergesa memecah keheningan serambi. Dari balik pintu kayu berukir motif daun teratai yang menghubungkan ndalem tengah dengan serambi, muncul adik bungsuku, Farihanun—atau yang akrab kami panggil Nana. Gadis tujuh belas tahun itu mengenakan kerudung bergo instan warna pastel dan gamis katun motif bunga kecil yang sedikit basah di bagian pergelangan tangan. Di tangannya, bertengger nampan seng kuno bermotif lurik hijau berisi dua cangkir teh nasgitel—panas, legi, kenthel—yang masih mengepulkan uap wangi melati, bersanding dengan sepiring pisang kepok goreng bertabur wijen yang baru diangkat dari wajan penggorengan dapur santri.
“Assalamu’alaikum, Abah... Mbak Fattana yang paling ayu sedunia tapi wajahnya ditekuk seperti cucian basah belum diperas!” seru Nana dengan nada riang yang sengaja dibuat-buat, memecah ketegangan atmosfer dengan kepolosannya yang khas.