Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Chapter tanpa judul #22

Arganata tiba tanpa pengawalan mencolok. Tanpa meminta perlakuan istimewa sebagai CEO konglomerat, Arganata mengambil wudhu dari kolam padasan bersama para santri dan shalat berjamaah di saf kedua di belakang Kyai Ahmad. Seusai shalat, Arganata dengan takzim mencium punggung tangan sang Kyai, duduk bersila di atas lantai ubin masjid tua tanpa alas bantal. Dari balik tirai pembatas muslimah masjid, Fattana menyaksikan pemandangan yang menggetarkan sanubarinya.



# Garis Takdir di Bawah Langit Luhur

## BAB 22: LELAKI BERJAS YANG BERSUJUD DI SAF SANTRI


- **Sudut Pandang (POV):** Fattana Fathiyah (Ning Fattana)

- **Latar Tempat:** Masjid Jami' Pondok Pesantren Luhur Nurul Hikmah

- **Latar Waktu:** Selepas Gerimis Ashar, Menjelang Senja

- **Jumlah Kata:** ± 2448 Kata


> "Jabatan dan harta hanyalah pakaian sewaan. Saat dahi menyentuh sajadah, semua manusia kembali pada derajat asalnya: sebutir debu di hadapan Sang Maha Kuasa."


---


### Babak I: Bau Tanah Basah dan Bayangan di Gerbang Bambu

*Kedatangan tanpa deru sirene dan misteri sedan hitam di bawah rimbun trembesi*


Hawa dingin sisa gerimis ashar merayap turun dari lereng Gunung Wilis, menyusup melalui kisi-kisi kayu jati Masjid Jami' Luhur Nurul Hikmah yang telah menghitam dimakan usia seabad lebih. Bau tanah basah yang pekat bercampur dengan aroma minyak misik zafaron yang selalu dibakar di sudut mihrab tua, menciptakan keheningan yang ganjil—keheningan yang seolah menahan napas sebelum sebuah badai tak kasatmata melintas.


Dari balik satir, selembar kain mori putih berenda kusam yang menjadi pembatas saf perempuan, jemari Fattana Fathiyah terpaku pada lipatan mukena katun parisnya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tak wajar. Di halaman masjid yang masih menyisakan kubangan-kubangan kecil memantulkan kelabu langit, sebuah sedan hitam pekat bermerek Eropa terhenti di dekat gapura bambu. Tidak ada bunyi klakson pongah. Tidak ada deretan pengawal berbadan tegap yang meloncat turun membuka pintu layaknya kunjungan para pejabat atau politisi yang kerap datang memburu restu abahnya menjelang musim pemilihan.


Hanya ada seorang lelaki yang melangkah keluar sendirian.


Lelaki itu mengenakan setelan jas wol warna arang gelap berpotongan Savile Row yang begitu presisi membingkai pundaknya yang kokoh. Namun, tidak ada dasi sutra yang melingkar di kerah kemeja putihnya; kancing teratasnya dibiarkan terbuka, menampakkan garis leher yang tegang dan urat-urat kelelahan yang nyata. Di tangannya, tidak ada tongkat komando, gawai mutakhir, atau tas kerja kulit buaya.


Fattana menahan napas di balik bayang-bayang tiang masjid. 'Arganata Danuadji...' bisik hatinya, getir berbaur gentar.


Tiga bulan lalu, nama itu adalah simbol arogansi kapitalisme ibukota yang paling dibenci Fattana. Dalam seminar arsitektur peradaban Islam di Jakarta yang sempat ia hadiri, Arganata berdiri di podium megah dengan tatapan elang yang dingin, memaparkan rancangan mega-resor lereng bukit yang mengancam menggusur ratusan hektar tanah wakaf produktif milik pesantren ini. Waktu itu, Arganata laksana dewa uang yang memandang manusia lain tak lebih dari sekadar angka dalam tabel neraca laba-rugi.


Namun sore ini, lelaki yang berdiri di pelataran pesantren itu tampak seperti musafir yang tersesat di persimpangan takdirnya sendiri. Langkah kakinya berat, seolah setiap jengkal tanah basah yang diinjaknya menuntut pertanggungjawaban yang teramat mahal.


---


### Babak II: Cipratan Air Kolam Padasan dan Lepasnya Kecongkakan

*Ketika jas ratusan juta rela dibasahi air wudhu bersama santri jelata*


Kang Danial, lurah santri yang bertubuh gempal dan selalu waspada, tampak tergesa menyongsong tamu tak diundang itu dari serambi ndalem. Raut wajah Danial tegang; tangannya sudah bersiap mengarahkan sang konglomerat ke ruang tamu ndalem yang berkarpet tebal, tempat para tamu kehormatan biasa disuguhkan teh melati hangat dan kue lapis legit buatan Ummi Khadijah.


Tetapi Arganata mengangkat tangan kanannya secara perlahan. Sebuah isyarat penolakan yang begitu lembut, namun memiliki ketegasan wibawa yang tak terbantahkan. Fattana melihat lelaki itu menggeleng pelan ke arah Kang Danial.


'Saya hendak shalat, Mas. Di mana kolam wudhu santri?' Suara Arganata terdengar berat dan parau, sayup-sayup menembus dinding papan dan satir pemisah perempuan.


Kang Danial tertegun kaku. Tangannya yang semula terulur ragu akhirnya menunjuk ke arah kolam padasan batu andesit di sisi utara masjid—tempat mata air pegunungan dialirkan langsung melalui pipa-pipa bambu berlumut hijau tebal. Di sanalah puluhan santri cilik bersarung kusam sedang berebut membasuh muka, saling menyipratkan air dingin dengan tawa riang tanpa beban.


Mata Fattana membelalak. Di balik tabir tipis, ia menyaksikan sesuatu yang meremukkan seluruh asumsi rasionalnya.


Tanpa ragu sedikit pun, Arganata menanggalkan sepatu pantofel kulit mengilatnya di undakan batu kali yang licin. Lelaki itu bertelanjang kaki. Kaus kaki wol mahalnya ia masukkan ke dalam saku mantel. Lalu, dengan gerakan yang tenang namun sarat perenungan, ia menggulung kedua lengan jas arang gelapnya hingga melewati siku. Kain wol murni yang harganya ditaksir puluhan juta rupiah itu tampak berkerut kusut, bahkan ujung bawah mantelnya tanpa ampun menyapu lantai batu yang basah berlumut.


Arganata berjongkok di pinggir kolam batu andesit, bersisian dengan seorang santri kecil berusia sepuluh tahun yang memakai sarung palekat kumal berlubang bekas percikan api obat nyamuk.


Air pegunungan yang menusuk tulang disauknya dengan kedua belah telapak tangannya. Cipratan air padasan membasahi bagian dada kemeja dan kerah jasnya. Lelaki itu memejamkan mata saat air pertama membasuh wajahnya yang dipahat garis rahang tegas. Fattana melihat bagaimana pundak tegap Arganata mendadak bergetar halus—sebuah getaran batin yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang terbiasa menyelami keheningan dzikir.

Lihat selengkapnya