Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Chapter tanpa judul #23

Bagian 1± 2 Menit Membaca

Hujan bulan November jatuh seperti ribuan jarum tembaga yang menghantam atap sirap ndalem Pondok Pesantren Al-Bahr. Di luar, siluet pelepah kelapa sawit dan rumpun bambu betung meliuk-liuk dihempas angin lembah, mengirimkan derit panjang yang menyerupai keluhan bumi basah. Namun di dalam ruangan berdinding kayu jati tua berpelitur gelap ini, waktu seolah kehilangan kegesitannya. Jam dinding kuningan buatan Junghans bertahun 1928 berdentang lambat, mengiris keheningan dengan ayunan bandul yang berat, mengingatkanku pada setiap detik hidupku yang kini tergantung di ujung tanduk.

Kemeja katun hitam yang kukenakan masih terasa lembap di bagian tengkuk, menyerap dinginnya udara pegunungan yang menusuk hingga ke persendian. Aku duduk bersila di atas permadani Kashan antik yang permukaannya telah menipis dimakan usia, berusaha menahan debar di balik tulang rusuk yang berdentam liar seperti genderang perang. Di hadapanku, sebuah meja bundar berkaki pendek dari kayu trembesi utuh memisahkan duniaku yang porak-poranda dengan keteduhan seorang ulama sepuh yang reputasinya menaungi pesisir utara Jawa.

Uap panas mengepul malas dari dua cangkir tembikar berpola blirik hijau tua. Aroma jahe merah bakar yang digeprek kasar bertubrukan dengan pekatnya sangrai kopi robusta lokal dan manisnya karamelisasi gula kelapa. Bau itu tajam, hangat, dan anehnya membawa getar ganjil yang menyentak saraf-saraf kenanganku—aroma yang seratus persen tak asing, namun terasa mustahil berada di ruang tamu seorang ulama besar.

Anotasi Sastra: Foreshadowing: Uap Kopi Jahe & Poci Asing

Di samping cangkir-cangkir itu, piring seng bercorak kembang enamel menyajikan singkong rebus yang kulitnya merekah putih merebakkan uap gurih berlumur kelapa parut tipis bertabur garam laut. Makanan desa yang begitu bersahaja, namun di mataku malam ini, ia tampak seperti perjamuan terakhir sebelum seorang terpidana digiring menuju tiang gantungan.

Anotasi Sastra: Psikologi Pertahanan & Sensasi Somatik

Bagian 2± 2 Menit Membaca

Otakku berputar cepat, menghitung setiap kehancuran yang kutinggalkan di Jakarta delapan jam yang lalu. Layar ponsel di saku celanaku—yang sengaja kumatikan sejak menembus gerbang tol Cikampek—pasti sedang meledak oleh notifikasi ratusan portal berita daring nasional. Tajuk-tajuk bombastis berhuruf kapital menyala terang di benakku: 'Dugaan Skandal Penggelapan Dana Konsorsium dan Rekayasa Tender Proyek Pelabuhan: Siapa Arganata Ar Rimbai Sebenarnya?' dan 'Masa Lalu Hitam Sang Eksekutif Muda: Dari Penipuan Romansa hingga Kongkalikong Korporasi'.

Sebuah operasi pembunuhan karakter yang dirancang begitu cermat, presisi, dan mematikan. Mereka tidak hanya mengincar kontrak bisnis triliunan rupiah yang baru saja dimenangkan konsorsium kami, tetapi juga secara sistematis menyusupkan racun ke dalam lingkaran paling sakral: rencanaku meminang Ning Syifa, putri bungsu Kyai Ahmad Bahruddin. Surat-surat kaleng berisi potongan foto masa lalu, rekaman suara manipulatif, dan narasi kotor tentang diriku sebagai predator berdarah dingin telah dikirimkan ke ndalem ini sebelum fajar menyingsing.

Tenggorokanku tercekat. Mengapa aku selalu menjadi bidak yang dikorbankan? Ketakutan purba yang telah kukubur selama tujuh tahun di balik setelan jas Italia bermerek Ermenegildo Zegna dan jam tangan Patek Philippe kini merangkak naik ke permukaan kerongkonganku, berasa amis laksana darah basi. Aku kembali menjadi bocah miskin berperut kempis dari gang sempit Rawasari yang tak punya hak atas rasa hormat.

Anotasi Sastra: Psikologi Pertahanan & Sensasi Somatik

Bagian 3± 2 Menit Membaca

Pikiranku terseret mundur ke sebuah malam jahanam di penghujung tahun 2017. Hujan deras yang serupa mengguyur Jakarta, menenggelamkan aspal di depan halte busway Rawamangun. Di halte basah berbau bensin itu, Clarissa Valeri berdiri dengan mantel wol krem yang elegan, memandangku dengan sepasang mata cokelat yang telah membeku menjadi belati es. Di tanganku yang gemetar, hanya ada payung lipat patah dan dompet tiruan kulit yang isinya cuma selembar uang lima belas ribu rupiah—ongkos terakhir untuk membeli bubur instan bagi ibuku yang terbaring koma akibat gagal ginjal kronis di bangsal kelas tiga RSUD.

Anotasi Sastra: Retrospeksi Halte Basah 2017: Titik Patah Harga Diri

"Cinta tidak bisa membeli tabung oksigen, Arga!" pekik Clarissa kala itu, suaranya tajam merobek gemuruh guntur. Matanya berkilat dingin saat ia melepaskan cincin perak murah seharga dua ratus ribu yang kubelikan dari upah kerja lembur di percetakan fotokopi. "Kemiskinanmu bukan hanya takdir sialmu, tapi kutukan menular. Aku tidak mau mati busuk bersamamu di kontrakan petak. Hendra bisa memberiku rumah di Menteng dan jaminan hidup keluargaku. Kamu? Kamu bahkan tidak sanggup membayar uang sewa kuburan ibumu besok!"

Cincin perak itu ia lemparkan ke genangan air berlumpur di bawah ban bus Transjakarta. Malam itu, di bawah tatapan pongah keluarga konglomerat tirani pamannya yang menjemputnya dengan Mercedes-Maybach hitam, sebuah monster lahir di dalam dadaku. Aku bersumpah demi tulang belulang ibuku yang wafat tiga hari kemudian dalam ketiadaan biaya: aku akan menaklukkan dunia ini dengan tumpukan uang dan kekuasaan mutlak. Aku bersumpah tak akan pernah membiarkan perempuan mana pun melihat kelemahanku lagi. Bagiku, cinta hanyalah transaksi berkedok puisi, dan setiap kebaikan manusia selalu menyimpan label harga tersembunyi.

Anotasi Sastra: Retrospeksi Halte Basah 2017: Titik Patah Harga Diri

Kini, tujuh tahun kemudian, setelah darah dan air mataku mengering menjadi imperium bisnis, racun dari masa lalu itu kembali menyembur lewat fitnah keji yang menyeret nama Clarissa sebagai 'korban pemerasanku'. Ironi yang sempurna. Manusia-manusia di Jakarta mengira mereka bisa menghancurkanku dengan mengungkit kebusukan yang sama. Namun ketakutanku yang paling mengerikan malam ini bukan pada runtuhnya saham perusahaanku, melainkan pada tatapan mata lelaki tua yang duduk tiga jengkal di hadapanku.

Bagian 4± 2 Menit Membaca

Kyai Ahmad Bahruddin bergeming. Beliau mengenakan baju koko putih polos tanpa ornamen yang telah dicuci berulang kali hingga serat katunnya lembut seperti sutra usang, berpadu sarung tenun Samarinda warna lumut tua. Di kepalanya terpasang peci putih sederhana yang sedikit miring. Jemari tangannya yang kurus dengan urat-urat menonjol perlahan menggeser piring seng berisi singkong rebus ke arahku.

Lihat selengkapnya