Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Chapter tanpa judul #24

Ibu Nyai Salmah memanggil Fattana untuk menyajikan hidangan malam. Di ruang tengah, di hadapan orang tua dan adik-adiknya, Fattana dan Arganata saling bertukar pandang sejenak sebelum sama-sama menundukkan kepala dengan takzim. Arganata menyampaikan terima kasih atas suplai kain cadangan yang berhasil dikordinasikan oleh santri pengrajin tenun binaan pesantren. Kehangatan kekeluargaan pesantren menyelimuti malam itu dengan penuh ketenteraman.


# TENUN RINDU DI BATAS SUCI

## BAB 24: Garis Batas di Ruang Tengah Ndalem


POV: Fattana Fathiyah (POV)

Setting: Ruang Tengah Ndalem Pesantren Darul Muhibbin


### Bagian I: Panggilan di Balik Selubung Dapur

*Uap Jahe Serai dan Gejolak yang Tertahan*


Aroma jahe bakar yang beradu dengan memar batang serai wangi dan manisnya gula aren mengepul pekat di udara dapur ndalem, namun tak satu pun dari kehangatan itu yang mampu meredam hawa dingin yang merayap di pucuk-pucuk jemariku. Dari balik pintu kayu jati berukir sulur lung-lungan yang menyekat ruang belakang dengan ruang tengah, lamat-lamat terdengar gumam suara Abah—berat, teduh, sarat wibawa seorang alim yang telah mengasuh ribuan santri selama lebih dari empat dasawarsa. Kemudian disusul tawa renyah yang tertahan dari adik-adikku. Namun, di sela-sela jeda hening yang merambat di antara desau angin lereng bukit, ada satu suara lain yang membuat rongga dadaku serasa dihantam gelombang pasang: sebuah bariton tenang, bergetar rendah dengan kehati-hatian santun yang membuat seluruh sendi di lututku mendadak kehilangan daya topangnya.


Suara Arganata.


"Fattana, Nduk," suara Ummi Salmah seketika memecah lamunanku yang nyaris menenggelamkan sendok kayu ke dasar kuali kuningan. Ummi melangkah masuk dari selasar dalam, jemarinya yang halus merapikan lipatan ujung lengan gamis ungu tuanya yang bersahaja namun anggun. Sosok ibu yang telah melahirkan dan mendidikku itu memiliki ketenangan laksana telaga pegunungan—bening, dalam, namun tak pernah luput menangkap riak terkecil di permukaannya. Tatapannya menatapku lekat-lekat. Tidak ada nada kecaman di sana, hanya sebuah ketajaman naluri seorang ibu pengasuh yang mengerti persis bahwa putrinya sedang berdiri di tepi tebing curam perasaannya sendiri.


"Nggih, Ummi," sahutku serak, buru-buru menunduk dan mengelap tepi cangkir porselen putih bermotif kembang melati dengan serbet katun. Gerakanku terlampau tergesa, kikuk, mengkhianati ketenangan yang biasanya kujadikan benteng kehormatan di hadapan para santriwati. Sudah menjadi watakku untuk selalu tertib dan teratur, namun malam ini sepasang cangkir porselen itu seakan bergetar di atas tatakannya hanya karena tanganku yang dingin tak mampu menguasai degup darah.


"Wedang jahenya sudah tanak, to? Jangan biarkan tamumu menunggu terlalu lama. Abahmu sudah menanyakan rol kain tenun dari asrama putri Al-Hidayah sejak ba'da Maghrib tadi," tutur Ummi dengan nada suara yang nyaris berbisik namun merasuk hingga ke sumsum tulang. Tangannya yang hangat mendarat di pundak kananku, meremasnya lembut sekilas. Sentuhan itu bukan sekadar arahan kerja dapur; itu adalah sebuah jangkar penuntun. Sebuah pengingat tak kasat mata bahwa dinding ndalem ini ditegakkan bukan hanya dari bata merah dan kayu jati tua, melainkan dari ribuan lapis adab, wirid malam, dan marwah yang tak boleh tergores oleh sepercik gejolak fana yang tak terkendali.


"Kain cadangan itu... alhamdulillah sudah dibereskan oleh pengurus koperasi, Ummi. Kang Santri tinggal memindahkannya ke mobil bak Mas Arga," jawabku, suaraku nyaris tercekat saat mengeja suku kata terakhir dari namanya. Lidahku terasa kelu mengucapkannya di hadapan Ummi, seolah nama itu adalah bara api rahasia yang bila disentuh udara bebas akan melalap seluruh tirai kesucian yang selama ini kujahit rapi dalam sujud-sujud panjangku di sepertiga malam.


Ummi tersenyum tipis—sebuah senyum sarat misteri yang sering ia tampakkan ketika membaca gelagat anak-anaknya. "Bawa baki ini ke depan sekarang. Ingat langkahmu, Nduk. Langkah seorang anak perempuan ndalem diukur bukan dari seberapa cepat ia tiba di tujuan, melainkan dari seberapa tunduk hatinya menjaga pandangan dari perkara yang belum dihalalkan baginya."


### Bagian II: Menyeberangi Garis Batas

*Di Bawah Jam Bandul Kuno dan Tatapan Berjarak*


Udara di ruang tengah ndalem terasa padat oleh wibawa kayu jati kuno yang telah menyerap aroma asap kemenyan, dupa gaharu, dan ribuan khataman Al-Qur'an selama lebih dari satu abad. Lampu gantung tembaga antik berpendar temaram keemasan, membiaskan bayang-bayang panjang tiang penyangga soko guru ke atas karpet permadani tebal bermotif floral khas Isfahan. Di ujung ruangan, bersandar pada bantal beludru hijau lumut, Abah Kyai Munawwir duduk bersila sembari memilin tasbih kayu koka cokelat kehitaman. Butir-butir tasbih itu berdetak teratur: klik, klik, klik—seirama dengan ayunan bandul jam dinding tua bermerek Junghans yang bergoyang khidmat di dinding utara, seolah setiap detiknya sedang menakar timbangan amal manusia.


Dan di sisi seberang meja rendah kayu mahoni berpelitur gelap, duduklah Arganata.


Malam ini ia mengenakan kemeja koko putih bersih berbahan katun tenun tanpa kerah, dipadu sarung Samarinda motif kotak-kotak marun gelap bergaris emas redup. Punggungnya tegak lurus, namun kepalanya sedikit miring ke bawah, sebuah gestur takzim khas santri kelana yang tahu betul batas kesantunan bertamu ke kediaman seorang guru mulia. Ketika langkah kakiku yang tanpa alas menapak pelan di atas permadani, suara gemerisik kain jarik batiku seakan menjadi guntur yang memekakkan pendengaranku sendiri. Detak jantungku memukul rusuk begitu kerasnya hingga aku khawatir Abah atau adik-adikku bisa mendengarnya.


Udara seakan tersedot habis dari rongga dadaku saat aku melintasi ambang batas pintu tengah.

Lihat selengkapnya