Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Chapter tanpa judul #25

(Lantai 3 Gedung Ditreskrimsus Polda Metro Jaya | 08.15 WIB – Hujan Deras)

Hujan bulan November menghujam ibu kota tanpa ampun. Di balik kaca jendela lantai tiga Gedung Ditreskrimsus Polda Metro Jaya yang berembun pekat, deretan gedung pencakar langit Jakarta tampak seperti raksasa kelabu yang kehilangan kepongahannya. Bau tembakau samar berbaur dengan uap kopi tubruk yang mulai mendingin dan dengung konstan puluhan kipas prosesor komputer forensik. Udara di ruangan itu sedingin es, namun di balik rongga dadaku, ada api yang menyala liar dan menyesakkan.

Tiga puluh menit lalu, ponselku sempat bergetar pendek. Sebuah pesan suara dari Arganata di Jawa Timur, diselingi deru bising mesin tenun darurat di pelosok Malang. 'Rayhan,' suara sahabatku itu terdengar serak, parau oleh letih yang menumpuk berhari-hari tanpa tidur, 'aku serahkan punggung perjuangan kita di Jakarta padamu. Jika nama baik Gemeling Shakti Creation dan marwah Fathiyah Modest runtuh di tangan fitnah keji ini, ratusan perajin binaan kita di pelosok desa akan kehilangan nafkah anak-istri mereka. Jangan biarkan kedurjanaan menang hanya karena mereka bertakhta di menara emas.'

Kata-kata itu menghunjam tepat di ulu hatiku. Aku menggenggam jemariku hingga buku-buku jariku memutih. Beban moral itu menggelayut laksana sauh kapal yang karam. Di layar monitor berukuran 32 inci di depanku, rekaman video hitam-putih beresolusi tinggi tengah diputar berulang-ulang dengan kecepatan seperempat detik.

"Perhatikan titik waktu 02.14 dini hari, Mas Rayhan," suara Kompol Wahyu memecah lamunanku. Perwira menengah dengan tatapan setajam elang itu menunjuk sudut kanan bawah layar dengan ujung pena peraknya. "Ini rekaman dari kamera pengawas tersembunyi berdaya baterai mandiri yang Mas Rayhan pasang secara klandestin dua pekan lalu di balok baja gudang logistik Cikarang. Kamera utama gedung memang dimatikan dari panel induk, tetapi sang penyabot tidak menyadari mata kedua yang mengintai dalam senyap."

Jantungku berdegup kencang seperti genderang perang. Di layar, seorang pria berperawakan gempal mengenakan jaket bertudung dan masker gelap tampak melangkah tergesa di antara lorong tumpukan bal kain sutra impor. Pria itu menyemprotkan cairan bening dari tabung kompresi bertekanan tinggi langsung ke tumpukan kain bahan mentah pesanan ekspor kami—asam sulfat teknis berkonsentrasi tinggi yang merusak anyaman benang sutra tanpa meninggalkan bekas bau seketika. Sebuah sabotase berdarah dingin yang dirancang rapi untuk membuat kain kami rapuh hancur saat tiba di tangan kurator pekan mode internasional.

(Ruang Pemeriksaan Kedap Suara, Subdit Siber Ditreskrimsus | 09.40 WIB)

Di balik kaca satu arah ruang interogasi kedap suara, aku menyaksikan manusia yang selama tiga tahun terakhir kami anggap saudara seperjuangan. Tri Wibowo. Manajer operasional gudang logistik Cikarang yang kuberi mandat penuh dan kepercayaan keluarga, kini duduk terkulai di kursi besi dengan kedua tangan bergetar di atas meja bundar.

Pakaian dinas lapangannya masih kotor oleh debu gudang saat tim buser mencokoknya subuh tadi di sebuah rumah singgah kawasan Karawang. Wajahnya pucat pasi, seperti mayat hidup yang baru saja menyadari bahwa tanah liat tempatnya berpijak telah runtuh ke jurang tak berdasar.

"Saya tidak tahu apa-apa, Pak! Demi Tuhan, malam itu saya sedang tidur di pos satpam depan!" sergah Tri dengan suara melengking panik, berusaha menegakkan sisa-sisa kepalsuan yang telah lapuk.

Kompol Wahyu tidak menaikkan nada bicaranya. Ia justru tersenyum dingin—senyum seorang pemburu ulung yang tahu mangsanya telah terjerat tali jerat baja. Dengan gerakan tenang dan lambat, Kompol Wahyu melemparkan seberkas map merah tebal ke hadapan Tri. Lembaran demi lembaran kertas putih berisi cetakan digital menyebar di atas meja.

"Jangan menjual nama Tuhan untuk menutup aib makarmu, Tri Wibowo," gumamku lirih dari balik kaca, suaraku tercekat oleh rasa kecewa yang menusuk belati ke sanubari. Mengapa manusia begitu mudah menjual kehormatan jiwanya demi segepok kesenangan semu?

"Ini jejak transfer sistem kliring Bank Indonesia," suara Kompol Wahyu bergema melalui pengeras suara internal. "Empat termin, total 750 juta rupiah, dialirkan melalui rekening penampung atas nama adik iparmu di Bekasi, hanya berselang tiga hari sebelum cairan kimia itu menyiram bal kain Fathiyah Modest. Dan nomor IP pengirim transaksi m-banking itu terlacak berpangkal dari sebuah ponsel pintar yang terdaftar atas nama Hendri Prasetya—staf khusus dan orang kepercayaan Clarissa Danuwirya."

Mendengar dua nama itu disebut, Tri tersentak seolah disengat aliran listrik berkekuatan ribuan voltase. Matanya membelalak liar, napasnya memburu tersengal-sengal. "Tidak... itu... itu uang pinjaman modal usaha keluarga...!"

"Masih mau mengelak?" Kompol Wahyu menyalakan gawai pemeriksa. "Kami sudah menyita ponselmu. Pesan suara terenkripsi di aplikasi Telegram yang kau kira sudah terhapus otomatis, berhasil diekstraksi secara utuh oleh tim forensik digital siber kami. Mau kita dengarkan bersama bagaimana Hendri Prasetya menjanjikanmu posisi direktur logistik di anak perusahaan Danuwirya setelah Gemeling Shakti Creation bangkrut terjerat penalti kontrak sepuluh miliar rupiah?"

Keheningan jatuh seberat timah panas. Ruangan itu seakan kehabisan oksigen. Kepala Tri tertunduk dalam-dalam hingga dahinya membentur meja besi. Tangisnya pecah—bukan tangis penyesalan sejati seorang hamba yang bertobat, melainkan rintihan keputusasaan seorang budak nafsu yang mendapati topeng dustanya telah dikoyak hingga ke tulang sumsum. "Ampun, Pak... saya khilaf... Hendri yang mendatangi saya di kafe Senopati... dia bilang Bu Clarissa yang menjamin saya tidak akan tersentuh hukum..."

(Lantai 42 Danuwirya Holding Tower, SCBD Sudirman | 11.15 WIB)

Lihat selengkapnya