Dua Hati dalam Tautan Cinta

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Chapter tanpa judul #27

Sebelum Arganata terbang kembali ke Jakarta, Fattana dan adiknya mengantar ke bandara didampingi pengurus pesantren. Di ruang tunggu keberangkatan, Arganata menyerahkan kembali dokumen kerja sama yang telah diperbarui dengan klausul keterlibatan koperasi pesantren sebagai penyuplai tetap bahan serat alami. Fattana menatap punggung Arganata yang melangkah menuju pintu pesawat dengan keyakinan baru: lelaki ini bukan sekadar mitra bisnis, melainkan sosok pelindung yang dikirimkan takdir.


Kembara Jiwa di Atas Benang Takdir

BAB 27: Kembalinya Ketenangan di Langit Surabaya

Setting: Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo - Surabaya (Terminal Keberangkatan & Ruang Tunggu Eksekutif)

Sudut Pandang (POV): Fattana Fathiyah (Sudut Pandang Orang Pertama - 'Aku')


Kutipan Mutiara:

"Ketika dua tangan bersatu untuk meninggikan agama-Nya, Allah sendiri yang akan menjaga tautan rasa di antara keduanya."


────────────────────────────────────────


[BAGIAN 1: PECAHAN KACA DAN DERU DI BALIK KABUT JUANDA]

Pukul 11.20 WIB — Hujan Gerimis di Apron Juanda | Selasar Kaca Terminal Keberangkatan Domestik


 Deru mesin turbofan Boeing 737 yang merayap di atas aspal basah landasan pacu Juanda menyusup lewat getaran kaca setebal tiga sentimeter, merambat naik ke ujung sol sepatuku, lalu bermukim menjadi debar tak beraturan di rongga dada. Dari balik dinding transparan terminal keberangkatan ini, langit Surabaya tampak serupa kanvas kelabu yang disapukan dengan kuas basah—lembab, muram, dan sarat rahasia. Bulir-bulir gerimis mengetuk kaca secara ritmis, seolah mengulang kembali hitungan hari-hari paling kelam yang baru saja kami lewati di Pesantren Al-Fath.


 Aku membetulkan letak khimar biru dongkerku yang tersemat rapi di bawah dagu dengan jarum pentul perak peninggalan almarhumah Ummi. Udara dingin dari saluran pendingin udara sentral berembus menusuk tulang, namun telapak tanganku yang tersembunyi di dalam saku gamis justru terasa hangat dan basah oleh peluh dingin. Tepat tiga langkah di depanku, Arganata berdiri membelakangi kami. Mantel wol kelabu gelapnya tergantung tegap di bahunya yang bidang, membungkus siluet seorang pria yang dalam tiga pekan terakhir telah menjelma menjadi badai sekaligus benteng perlindungan paling kukuh dalam hidupku.


 Lelaki itu tidak banyak bergerak. Tatapannya lurus menembus kabut tipis di atas taxiway, tempat armada burung-burung besi bersiap menelan jarak antara Surabaya dan Jakarta. Aku mengamati punggung itu dengan debar yang kutekan sekuat tenaga ke dasar palung kesadaranku. Betapa absurdnya takdir: sebulan lalu, nama Raden Mas Arganata Adibrata adalah teror bagi bilik-bilik asrama kami. Berkas-berkas sita jaminan dari konsorsium Dharmawangsa—konglomerasi tekstil yang menuntut tanah wakaf kami sebagai ganti piutang masa lalu—selalu mencantumkan tanda tangannya sebagai pihak penjamin modal ventura.


 Kala itu, aku mengutuknya dalam sujud-sujud tahajudku. Aku membayangkan sosoknya sebagai pemangsa berdarah dingin berjas necis yang menari di atas keringat ratusan santriwati penenun serat rami. Namun ketika ia menginjakkan kaki pertama kali di serambi ndalem pesantren kami tiga pekan lalu—tanpa iring-iringan pengawal, tanpa keangkuhan metropolitan, melepas pantofel mahalnya di undakan batu bata berlumut dan duduk bersila mencium takzim punggung tangan Ustaz Dahlan—seluruh prasangka rapuhku rontok berkeping-keping.


 "Mbak Fatta..." bisik Rayyan di sebelah kiriku, menarik ujung lenganku pelan. Adik bungsuku yang baru genap tujuh belas tahun itu tampak gelisah, sesekali membetulkan kopiah hitamnya yang sedikit miring. "Kenapa Mas Arga tidak mau kita tunggu sampai pintu keberangkatan dibuka? Kenapa dia terus menatap papan informasi penerbangan seperti orang yang dikejar malaikat maut?"


 Pertanyaan polos Rayyan menyengat naluriku bagai tusukan jarum jahit rami. Aku menatap layar digital Flight Information Display System (FIDS) yang berkelip di tiang pualam setinggi empat meter. Penerbangan GA317 tujuan Bandara Soekarno-Hatta baru akan memulai boarding empat puluh lima menit lagi. Masih ada waktu yang cukup lapang untuk sekadar memesan secangkir kopi jahe hangat di kedai sudut terminal. Namun gerak-gerik asisten pribadinya, Handoko, yang berdiri gelisah lima meter di belakang Arganata dengan telepon genggam yang bergetar tanpa henti, memancarkan atmosfer yang sama sekali tidak lazim.



[BAGIAN 2: METERAI DI ATAS MEJA MARMER DAN SUMPAH KEDAULATAN]

Pukul 11.35 WIB — Sudut Ruang Tunggu Eksekutif | Meja Marmer Krem, Sudut Khusus Keberangkatan


 Arganata berbalik. Gerakannya tenang, terukur, mencerminkan disiplin aristokrat Jawa yang telah terasah oleh belantara bisnis ibu kota. Namun di balik ketenangan yang dingin itu, mataku menangkap lingkaran samar bayang-bayang lelah di bawah kelopak matanya yang tajam. Tatapan kami sempat berpapasan sekejap—kurang dari dua detik—sebelum kami berdua serempak menundukkan pandangan (ghadhul bashar), menjaga jarak suci yang telah digariskan syariat.


 "Ustaz Dahlan, Ning Fattana," suaranya mengalun rendah, memiliki timbre bariton yang menenangkan sekaligus memerintah. Ia menarik napas perlahan, lalu melangkah menuju meja bundar marmer di tengah deretan kursi kulit. Di tangannya tergenggam sebuah map kulit anak sapi berwarna biru dongker bertatahkan pita perak lambang notaris publik. "Semua pasal adendum telah disahkan di hadapan pejabat pembuat akta tanah dan notaris rekanan di Surabaya pagi ini. Saya ingin menyerahkannya langsung kepada panjenengan sebelum saya melangkah ke garbarata."


 Ustaz Dahlan membetulkan letak kacamata minusnya yang tebal, melangkah maju dengan kehati-hatian seorang faqih yang tak mudah tergiur oleh kilau duniawi. "Bismillahirrohmanirrohim. Mas Arga, kami di Al-Fath memegang prinsip: sehelai benang yang kami tenun harus berakar pada keridhaan Allah, bukan belas kasihan korporasi yang kelak menagih darah santri kami di kemudian hari. Apakah klausul kedaulatan koperasi benar-benar tidak dapat dianulir oleh dewan direksi panjenengan di Jakarta?"


 Pertanyaan Ustaz Dahlan tajam menusuk, namun Arganata tidak berkedip. Lelaki itu membuka map tebal tersebut dengan jemarinya yang ramping dan bersih. "Bukan sekadar tidak dapat dianulir, Ustaz. Koperasi Al-Fath kini ditetapkan secara mutlak sebagai penyuplai tunggal berstatus mitra utama mandiri untuk seluruh lini produksi tekstil ramah lingkungan Arganata Group selama dua puluh lima tahun ke depan. Tidak ada klaim kepemilikan saham atas tanah wakaf, tidak ada hak intervensi manajemen bilik tenun. Santriwati panjenengan adalah produsen berdaulat, bukan buruh upahan. Laba bersih dibagi tujuh puluh persen untuk kas yayasan pesantren, tiga puluh persen untuk operasional distribusi kami."


 Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Tujuh puluh persen untuk pesantren? Angka itu melawan segala kalkulasi kapitalisme modern yang pernah kupelajari di bangku kuliah ekonomi Islam. Mataku menelusuri lembar-lembar akta notaris berstempel timbul garuda. Di lembar ketiga puluh empat, tertera tanda tangan basah Arganata dengan tinta hitam pekat di atas meterai sepuluh ribu rupiah, berdampingan dengan stempel perisai berlogo holding perusahaannya.

Lihat selengkapnya