Hari peresmian busana resmi serentak Gemeling Shakti Creation 'Nurul Hayat'. Seluruh jajaran manajemen dan ribuan staf mengenakan seragam baru. Pemandangan ballroom begitu memesona: paduan warna sage green, navy elegan, dan earth tone berpadu dengan potongan syar'i yang anggun dan maskulin. Wartawan ekonomi dan gaya hidup nasional meliput acara ini sebagai revolusi busana korporasi modern paling beradab di Asia Tenggara.
Babak I: Kristal Bohemia dan Gemerisik Kesunyian
Lantai marmer hitam Grand Ballroom Hotel Kempinski memantulkan bayangan ribuan faset kristal chandelier bohemia laksana genangan minyak di malam gulita. Hawa dingin dari sistem pendingin sentral menerpa tengkukku dengan ketajaman yang menelusup hingga ke balik lapis furing jas wol sutra yang kukenakan. Namun, bukan kesejukan artifisial itu yang membuat dadaku sesak, melainkan aroma oud bakar bercampur wangi bunga sedap malam segar yang ditata di sepanjang panggung peraga utama.
Aroma itu selalu membawaku kembali ke satu titik: ruang doa reyot beratap seng di Tasikmalaya tujuh tahun lalu, saat Gemeling Shakti Creation hanyalah sebuah nama yang diolok-olok para kurator mode ibu kota. Malam ini, ribuan pasang mata menatap ke arah yang sama, menanti revolusi yang telah kususun dengan kalkulasi matematis dan zikir yang terputus-putus.
Di sekeliling ruangan selebar setengah hektare ini, tidak ada satu pun kilatan lampu diskotek yang murahan. Tidak ada dentum bas sintetik yang mengguncang ritme jantung dengan birahi vulgar. Yang mengalun dari sistem tata suara l-acoustics adalah perpaduan gesekan cello akustik, petikan gambus orkestral, dan tiupan seruling bambu Sunda yang digubah dalam nada minor kontemplatif. Bunyinya seperti gerimis yang jatuh di atas dedaunan hutan basah—anggun, tertib, dan menghujam relung batin terdalam.
Aku memandang pantulan diriku pada pilar berlapis cermin perunggu di sisi sayap kiri panggung. Busana resmi korporasi serentak bertajuk 'Nurul Hayat' telah membungkus seluruh jajaran direksi, staf eksekutif, hingga ratusan tamu kehormatan. Spektrum warnanya adalah manifesto yang menolak kebisingan dunia modern: perpaduan sage green yang menyejukkan mata, deep navy yang berwibawa, dan aksen earth tone yang merendah laksana tanah liat tempat manusia diciptakan. Tidak ada belahan dada, tidak ada siluet lekuk pinggul yang dipamerkan demi sensasi birahi murah, dan tidak ada potongan maskulin yang congkak. Ini adalah potongan syar'i yang dirancang dengan presisi geometris tanpa cacat—longgar namun berstruktur megah, jatuh dengan drape kain serat bambu sutra yang menyamarkan tubuh sekaligus menegakkan martabat.
“Tiga menit menuju siaran satelit langsung, Pak Arga,” bisik Fadhil di dekat telingaku. Suara kepala operasiku itu tercekat, bergetar di sela deru radio komunikasi UHF yang tersambung ke 14 stasiun penyiaran ekonomi internasional di Doha, Riyadh, London, dan Singapura. “Tujuh puluh duta besar telah duduk di barisan VVIP. Menteri Koordinator Perekonomian dan delegasi Islamic Development Bank baru saja menempati kursi utama. Wartawan Reuters dan Nikkei sudah memasang kamera telephoto di tribun tengah.”
Aku tidak langsung menjawab. Jemariku meraba tepi kancing jas berbahan tanduk kerbau hitam berukir monogram tipis. Di sana, di balik jahitan lipatan kerah tegak bergaya Nehru yang dimodifikasi, aku merasakan sesuatu yang asing: seutas benang emas kecil yang disimpul mati membentuk huruf M-S-A. Firasatku berdesir ganjil. Tim penjahit prototipe di pabrik pusat telah kuwanti-wanti untuk tidak menyematkan tanda apa pun di luar standar baku perusahaan. Mengapa simpul rahasia itu ada di jas yang khusus dibuat untuk malam ini?
Babak II: Hantu Tasikmalaya dan Alkimia Pewarna Daun
Pikiranku ditarik mundur dengan kekejaman tanpa ampun. Memori manusia sering kali bertindak seperti predator: ia menyergap justru saat kita merasa berada di puncak takhta kemenangan.
Tujuh tahun silam, Gemeling Shakti Creation nyaris dikubur bersama abu kehormatan keluarga besar Ar Rimbai. Kami menanggung hutang modal ventura sebesar empat puluh miliar rupiah akibat kegagalan batch pertama tekstil konvensional yang luntur dan mengerut di pelabuhan Rotterdam. Saat itu, investor menuntut darah. Bankir menuntut aset. Dan di tengah badai kehancuran itu, ada sebuah tuduhan penggelapan dana riset yang diarahkan langsung ke meja direksi.
Bukan aku yang menanggung borgol baja penyidik kejaksaan waktu itu. Bukan pula paman-pamanku yang bermobil mewah dan bersorban sutra tebal.
Nurul Hayat. Adik perempuanku yang berusia dua puluh dua tahun, gadis kurus yang tak pernah menyukai pesta dansa borjuis Jakarta dan lebih memilih mengurung diri di laboratorium fermentasi daun indigo dan getah kayu tingi. Ketika nota penyelidikan datang, para tetua trah keluarga memanggil kami ke pendopo utama. Mereka berkata dengan nada saleh yang kini membuat lambungku mual: 'Arganata adalah masa depan trah Ar Rimbai. Nama Arganata tidak boleh tercemar sebutir debu pun di hadapan para pemodal syariah. Nurul, relakan dirimu mengaku khilaf dalam pembukuan laboratorium, lalu menyingkirlah ke pelosok pesisir. Biarkan nama abangmu tetap bersih laksana kafan putih.'
Dan aku—lelaki pengecut yang malam ini dipuja sebagai ikon kebangkitan adab Timur—hanya tertunduk di pojok ruangan. Aku tidak membuka mulut. Aku membiarkan Nurul menandatangani surat pengakuan sepihak itu dengan tangan yang bergetar. Aku membiarkannya diusir di tengah malam hujan lebat, dicoret dari silsilah waris keluarga besar, dan dihina sebagai pengkhianat serakah oleh seluruh kerabat.
Sebelum melangkah keluar gerbang, Nurul sempat menoleh ke arahku. Matanya tidak memancarkan dendam kesumat. Matanya bening, teramat jernih hingga sanggup menembus dinding kemunafikanku. Dia hanya berbisik lirih: 'Bang Arga, syariat itu bukan perisai untuk melindungi kesombonganmu. Suatu hari, kau harus memilih: menjadi pedagang citra atau menjadi hamba yang merunduk.'
Kini, nama 'Nurul Hayat' kuabadikan sebagai merek seragam korporasi syar'i terbesar di Asia Tenggara. Seluruh media mengira aku menamai lini busana ini dari frasa bahasa Arab yang puitis—'Cahaya Kehidupan'. Dewan direksi memujiku sebagai pimpinan yang religius dan visioner. Tapi di dalam bilik jiwaku yang paling kelam, aku tahu nama itu adalah prasasti dosa yang kubangun untuk menenangkan rasa bersalahku sendiri.
Babak III: Anomali Layar Kendali dan 90 Detik Genting
Sebuah getaran keras di earpiece menyentakku kembali ke alam nyata ballroom. Suara Fadhil terdengar pecah oleh panik yang ditekan sekuat tenaga.
“Pak Arga! Monitor transmisi satelit AsiaSat mengalami drop bit-rate hingga 80 persen! Ada sinyal enkripsi ilegal yang membajak switcher pusat penyiaran 4K kita!”
Darahku seolah membeku. Aku melirik ke arah dinding monitor di sisi sayap kiri panggung. Tiga dari lima layar raksasa yang seharusnya menampilkan countdown logo Gemeling Shakti tiba-tiba berkedip statis. Di barisan depan, Duta Besar Uni Emirat Arab dan delegasi London Stock Exchange mulai saling berbisik, menyadari keganjilan visual di panggung utama. Wartawan media cetak mengarahkan lensa panjang mereka ke arah meja kontrol teknis.
“Siapa yang membajak frekuensinya, Fadhil?” tanyaku dengan suara rendah, berusaha mempertahankan otot wajahku agar tetap tenang di depan sorot kamera yang mulai menyala merah.