Matahari mulai tenggelam ketika Farhan memarkir mobilnya di halaman rumah. Sudah sepuluh tahun ia menikah dengan Aisyah. Rumah tangga mereka dipenuhi kasih sayang, tetapi mereka belum juga dikaruniai anak.
Suatu malam, Aisyah berkata dengan suara pelan, "Mas, apa pun yang terjadi nanti, aku ingin kita tetap saling jujur."
Farhan menatap istrinya. "Kenapa bicara seperti itu?"
"Aku hanya ingin Mas bahagia."
Beberapa bulan kemudian, dalam sebuah perjalanan dinas, Farhan bertemu dengan Salma, seorang guru yang dikenal santun dan mandiri. Pertemuan mereka bermula dari urusan pekerjaan, namun lambat laun berubah menjadi persahabatan.
Farhan menyadari bahwa keputusan untuk berpoligami bukanlah perkara sederhana. Ia menghabiskan banyak malam dalam doa dan pertimbangan. Ia tahu, jika langkah itu diambil, maka keadilan, tanggung jawab, dan kejujuran harus menjadi pegangan utama.
Ketika akhirnya Farhan menyampaikan niatnya kepada Aisyah, suasana rumah berubah sunyi. Air mata Aisyah menetes, bukan karena benci, melainkan karena hatinya sedang diuji.
"Aku tidak bisa berkata ini mudah, Mas," ucap Aisyah lirih. "Tapi jika ini memang keputusan yang sudah dipikirkan dengan matang, aku hanya berharap kita tetap saling menghormati."
Farhan menggenggam tangan istrinya. "Aku berjanji tidak akan mengurangi hak dan penghormatanku kepadamu."
Beberapa minggu kemudian, Farhan menikahi Salma secara sah. Sejak hari itu, kehidupan mereka bertiga memasuki babak baru—penuh harapan, kecemburuan, pengorbanan, dan pelajaran tentang arti keadilan dalam sebuah keluarga.