Daniswara Pradipta mematikan mesin mobil sewaannya tepat di depan pagar besi yang sudah berkarat. Angin sore Bandung menyusup lewat celah jendela, membawa bau tanah lembab dan daun basah. Rumah tua di hadapannya berdiri gagah meski sudah lapuk — dinding kayu jati mengelupas cat, genteng beberapa helai miring, dan halaman depan dipenuhi rumput liar setinggi lutut.
Ia mengambil tas kerja kulitnya dari jok belakang, napasnya tertahan sebentar. Proyek pertama yang dia tangani sendirian setelah dua tahun jadi arsitek junior. Kalau berhasil, namanya bisa naik. Kalau gagal… lebih baik tidak dipikirkan dulu.
Pagar berderit panjang saat didorongnya. Suara itu sepertinya jadi sinyal, karena dari dalam rumah langsung terdengar dua suara wanita saling tumpang tindih.
“Rumah ini sudah nggak layak huni, Cantika! Lihat atapnya — besok-besok ambruk!” suara yang satu tajam, penuh urgensi.
“Dan kamu mau jual tanah leluhur kita begitu saja? Untuk apa? Uang?” balas suara yang lain, lebih rendah tapi penuh emosi.
Danis berhenti di tengah halaman. Ia bukan tipe yang suka ikut campur urusan pribadi, tapi ini kliennya. Dua klien yang ternyata bersaudara kembar.
Argumen di dalam semakin keras. Pintu depan sedikit terbuka, cahaya lampu kuning temaram bocor ke teras.
“Kamu nggak tahu apa-apa soal hidupku di sini! Kamu cuma datang pas warisan dibagi!”
“Karena kamu yang memilih tinggal sama Kakek-Nenek! Aku yang dibawa Ayah ke mana-mana!”
Danis membersihkan tenggorokannya keras-keras. Suara-suara itu langsung terputus seperti ada saklar dimatikan.
Ia melangkah naik ke teras. Sepatu bootsnya berdentum pelan di kayu yang sudah usang. Begitu kepalanya melewati ambang pintu, dua pasang mata menatapnya bersamaan.
Wajah mereka berbeda — satu lebih tajam dengan rambut pendek lurus, satu lebih lembut dengan rambut sebahu bergelombang. Tapi ekspresi marah bercampur kaget itu persis sama. Seolah ada cermin tak kasat mata di antara mereka.
“Maaf,” kata Danis, suaranya lebih tenang dari yang ia rasakan. “Saya Daniswara Pradipta. Dari firma arsitek. Sudah janjian survei hari ini.”
Yang berdiri di sebelah kiri — rambut pendek, postur tegap — melipat tangan di dada. “Cantika,” katanya singkat, suaranya masih dingin sisa pertengkaran.