Sinar matahari pagi menyusup lewat celah-celah genteng yang bocor, membentuk pola cahaya kecil di lantai kayu ruang depan. Danis sudah duduk di meja makan sejak jam enam, laptop terbuka di depannya. Aroma kopi hitam yang ia seduh sendiri menguar samar, berusaha menutupi bau lembab rumah tua.
Langkah ringan terdengar dari tangga. Larasati muncul dengan rambut masih basah, mengenakan kaus longgar dan celana jeans usang. Ia tersenyum tipis saat melihat Danis.
“Pagi, Mas. Sudah bangun dari tadi? Aku buatkan sarapan ya.”
“Terima kasih. Aku biasa begini. Kerja lebih enak pagi-pagi,” jawab Danis sambil menutup tab browser.
Tak lama kemudian Cantika turun. Rambut pendeknya sudah rapi, blus putih dan rok pensil hitam. Ia melirik Larasati sekilas, lalu langsung ke Danis.
“Udah siap briefing? Aku ada meeting online jam sepuluh, jadi cepetan ya,” katanya sambil menarik kursi.
Larasati meletakkan piring nasi goreng di depan Danis. “Cantika, sarapan dulu lah bareng. Mas Danis juga butuh waktu.”
Cantika mengambil secangkir kopi, menyeruputnya pelan. “Nasi gorengnya nanti aja. Kita ngomong bisnis dulu.”
Danis membuka layar laptop lebih lebar supaya keduanya bisa melihat. “Baik. Perusahaan kasih waktu tiga minggu buat presentasi dua opsi desain. Renovasi total yang jaga struktur asli, atau… pengembangan lahan secara keseluruhan.”
“Yang kamu maksud bongkar habis, kan?” Cantika menyeruput kopinya lagi, alisnya terangkat.
Larasati menghela napas pelan, tapi tetap tenang. “Dan opsi renovasi harus detail, Mas. Termasuk bagian-bagian bersejarah.”
Danis mencatat cepat di buku sketsa. “Iya. Saya harus presentasikan keduanya secara adil. Keputusan akhir tetap di tangan kalian berdua sebagai ahli waris.”
Cantika mendengus kecil. “Adil gimana? Kalau satu orang udah ngotot dari awal.”
Larasati menatapnya tajam tapi diam. Ia mendorong piring nasi goreng ke arah Cantika. “Makan dulu. Nanti kita lanjut.”
Sarapan berlangsung canggung. Sendok beradu piring, angin pagi meniup daun-daun di halaman. Danis mencoba bertanya soal sejarah rumah, tapi jawaban keduanya pendek-pendek.
Setelah sarapan, Larasati mengajak Danis ke belakang rumah. Rumput liar masih basah embun. “Rumah ini dibangun kakek buyut tahun lima puluhan. Dulu tempat kumpul keluarga besar.”
Danis mencatat di buku sketsa. “Strukturnya masih kuat. Kayu jati asli. Renovasi bisa jaga banyak elemen lama.”