Danis membuka pintu kecil di balik lemari bufet itu lagi, kali ini sendirian. Debu menari-nari di bawah sinar senter ponselnya. Larasati sedang ke pasar pagi, Cantika baru akan datang siang nanti. Rumah terasa lebih besar dan lebih sunyi tanpa keduanya.
Ia merunduk masuk ke ruang penyimpanan sempit. Bau kayu lapuk dan kertas tua langsung menyergap hidungnya. Kotak-kotak kardus bertumpuk tinggi, beberapa sudah sobek di pinggir. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras di rak bawah — sebuah album foto berlapis kulit yang sudah mengelupas.
“Apa ini…” gumamnya pelan sambil menarik album itu keluar. Debu beterbangan, membuatnya bersin dua kali.
Ia duduk bersila di lantai kayu yang dingin, membuka halaman pertama. Foto hitam putih seorang pria tua dengan dua anak perempuan kecil, persis seperti yang dilihatnya kemarin. Tapi kali ini ia perhatikan detailnya: salah satu anak memegang boneka kain, yang lain memegang buku cerita. Senyum mereka lebar, tapi ada sesuatu di mata kakek itu — keletihan yang tak tersembunyi.
Halaman demi halaman, cerita keluarga terbentang. Foto pernikahan, acara keluarga di halaman rumah yang masih hijau, dan… foto yang aneh. Sebuah gambar di mana salah satu anak perempuan berdiri sendirian di depan pagar, sementara yang satunya tidak ada. Tahunnya tertulis di belakang: 1998.
Danis mengerutkan kening. Ia membalik album lebih cepat. Ada celah beberapa halaman yang kosong, seolah foto-foto tertentu sengaja dilepas.
Dari luar ruangan, suara langkah ringan terdengar. Larasati sudah kembali, memanggil pelan. “Mas Danis? Kamu di mana?”
“Di sini, ruang belakang!” jawab Danis tanpa meninggalkan tempatnya.
Larasati muncul di ambang pintu kecil, membawa dua kantong plastik belanjaan. “Lho, lagi ngapain sendirian di sini? Berdebu banget.”
Danis mengangkat album itu. “Nemuin ini. Foto-foto lama. Kayaknya ada yang kurang.”
Larasati meletakkan belanjaan dan mendekat. Ia duduk di sebelah Danis, bahu mereka hampir bersentuhan di ruang sempit. Jarinya menyusuri halaman-halaman dengan hati-hati. “Ini aku dan Cantika kecil. Waktu masih… sebelum dipisah.”
“Dipisah gimana?” tanya Danis hati-hati.
Larasati diam sebentar, matanya menerawang ke album. “Ayah bawa aku ke Jakarta pas umur lima tahun. Cantika ditinggal sama Kakek-Nenek di sini. Katanya biar ada yang nemenin mereka. Tapi… rasanya lebih dari itu.”
Danis membalik ke halaman yang kosong. “Ada foto yang hilang di sini. Tahun 2002, sepertinya.”
Larasati menggeleng pelan. “Aku nggak tahu. Kakek jarang cerita soal masa lalu. Katanya cukup yang sekarang aja.”
Mereka keluar dari ruang penyimpanan bersama. Cahaya siang sudah masuk lebih terang lewat jendela. Larasati mulai menata belanjaan di dapur sementara Danis membersihkan tangan di wastafel tua yang kerannya berderit.
“Rumah ini punya banyak rahasia,” kata Danis sambil mengeringkan tangan dengan kain lap. “Strukturnya bagus, tapi sejarahnya… kayak ada yang disembunyikan.”