Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #4

Luka yang Sama dari Yogya

Danis berdiri di teras belakang, jemarinya mencengkeram pagar kayu hingga buku-bukunya memutih. Angin sore Bandung membawa bau tanah basah dan daun lembab, tapi ia tetap merasa dingin di tulang. Cangkir teh yang diberikan Larasati tadi sudah tak lagi mengepul, tapi ia tak menyentuhnya.


Larasati muncul di sampingnya, langkahnya ringan di lantai kayu yang berderit. “Mas Danis, istirahat dulu. Kamu dari tadi kayak orang kejar setan.”


Danis menerima cangkir itu. Panasnya menjalar ke telapak tangan, tapi tak sampai ke dada. Ia menatap kebun belakang yang dipenuhi rumput liar setinggi lutut. Pohon mangga liar di sudut halaman bergoyang pelan, dan tiba-tiba ingatannya melompat jauh.


Suara teriakan ayahnya dulu terngiang keras di kepalanya.


*“Tanah ini milikku! Jangan coba rebut!”*


Bayangan rumah kayu kakek di pinggir Kali Code muncul jelas. Halaman luas penuh pohon mangga yang rindang, meja makan panjang yang biasanya penuh tawa, kini dipenuhi tumpukan dokumen dan map-map kuning. Ayah dan paman berdiri berhadap-hadapan, wajah merah, jari saling tunjuk. Ibu menarik lengan Danis kecil yang berusia delapan tahun, membawanya ke teras sambil berbisik, “Kita masuk yuk, Nak.”


Danis menggigit bibir dalam. Ia meletakkan cangkir teh di pagar dengan pelan, tangannya masih gemetar sedikit.


“Rumah warisan bisa bikin orang berubah,” katanya pelan, suaranya serak seperti habis berlari jauh.


Larasati bersandar di tiang teras, matanya mengamati wajah Danis. Angin meniup ujung rambutnya yang sebahu. Ia tak bertanya langsung, hanya menunggu dengan sabar. Daun kering di halaman bergemeresik ditiup angin, seperti bisikan masa lalu yang tak mau diam.


Danis menunduk, melihat jemarinya yang masih mencengkeram pagar. “Dulu aku sering merasa seperti barang rebutan. Ayah dan paman berebut tanah kakek. Pertengkaran berbulan-bulan. Akhirnya rumah dijual paksa, uangnya habis buat pengacara dan dendam. Aku cuma bisa berdiri di pinggir, memeluk boneka sambil denger mereka teriak soal ‘hak’.”


Ia mengusap wajah dengan punggung tangan. Bau kayu tua rumah ini bercampur dengan aroma teh yang mulai dingin, tapi ingatan Yogya masih begitu tajam.


Larasati mendekat selangkah. “Kamu datang ke Bandung karena itu juga?”


Danis mengangguk kecil. “Sebagian. Butuh jarak dari semua itu. Proyek ini seharusnya jadi kesempatan buat mulai bersih-bersih kepala.” Ia tertawa pahit. “Tapi sekarang malah ketemu situasi yang mirip banget.”

Lihat selengkapnya