Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #5

Tawaran di Tengah Hujan

Hujan deras mengguyur Bandung sejak sore, membuat atap rumah tua itu berdentum seperti ribuan kaki kecil berlari. Danis berdiri di teras depan, jaketnya sudah basah kuyup setelah memeriksa saluran air yang mampet di samping rumah. Air mengalir deras dari talang yang bocor, membentuk genangan cokelat di halaman berumput.


Ponsel di saku jaketnya bergetar. Pesan dari Cantika: 'Keluar sebentar. Aku nunggu di mobil depan pagar. Sendirian.'


Danis melirik ke dalam rumah. Larasati sedang sibuk di dapur, suara panci beradu samar terdengar. Ia ragu sebentar, tapi akhirnya meraih payung dan berjalan keluar. Hujan langsung membasahi sepatunya saat melewati halaman.


Mobil hitam Cantika parkir agak jauh dari pagar, lampu hazard berkedip pelan di balik tirai air. Danis masuk ke kursi penumpang. Bau mobil baru bercampur parfum ringan Cantika langsung menyergap. Kursi kulit terasa dingin di punggungnya.


“Kamu nggak bilang Laras?” tanya Cantika langsung. Rambut pendeknya agak basah di ujung, tangannya masih memegang setir meski mesin sudah dimatikan.


“Dia lagi masak. Aku bilang cek saluran air,” jawab Danis sambil menyeka air dari wajahnya dengan lengan jaket.


Cantika mengangguk pelan. Ia mematikan lampu hazard. Hening sejenak, hanya suara hujan yang memukul atap mobil seperti genderang. Cantika mengeluarkan rokok dari laci dashboard, memutar-mutarannya di jari, lalu memasukkannya kembali tanpa dinyalakan.


“Aku tahu kamu lagi bikin dua desain,” katanya pelan, matanya menatap lurus ke depan lewat kaca yang buram. “Aku mau tawarin kesepakatan. Pilih yang bongkar total. Aku tambahin bonus di luar kontrak firma. Cash. Lima puluh juta. Buat kamu pribadi.”


Danis menoleh cepat. Tangannya mencengkeram pinggir kursi. “Cantika… ini nggak bisa gitu.”


Cantika tersenyum tipis, tapi sudut matanya tetap tegang. “Kenapa nggak? Kamu arsitek junior. Duit segitu pasti berguna. Renovasi itu mimpi Laras doang. Realitanya, rumah ini tinggal tulang-tulang. Jual tanahnya, kita semua bisa move on.”

Lihat selengkapnya