Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #6

Jejak Kenangan di Kampung

Larasati berdiri di depan pintu kamar Danis pagi itu, tangannya mengetuk pelan dua kali. “Mas Danis, ayo keluar sebentar. Cuacanya cerah, bagus buat jalan-jalan keliling kampung.”


Danis membuka pintu, rambutnya masih acak-acakan. “Sekarang? Aku masih ada sketsa yang belum selesai.”


Larasati tersenyum, mengangkat dua topi anyaman tua. “Kerja nanti aja. Rumah ini nggak cuma bangunannya doang. Kamu harus lihat sekitarnya biar ngerti kenapa aku ngotot.”


Danis mengangguk akhirnya. Mereka keluar lewat pagar belakang, menyusuri gang kecil berbatu yang masih licin bekas hujan semalam. Udara pagi Bandung sejuk, bau tanah basah bercampur asap tungku dari rumah-rumah tetangga.


Larasati berjalan di depan dengan langkah ringan. “Ini kampungnya udah ada sejak zaman Belanda. Banyak rumah tua masih bertahan. Rumah kita salah satunya yang paling tua.”


Mereka melewati warung kecil di pinggir jalan. Beberapa ibu-ibu sedang duduk mengupas sayur. Mereka melambai ke Larasati, tatapannya penasaran saat melihat Danis.


“Siapa cowoknya, Ras?” tanya salah satu dengan senyum nakal.


Larasati tertawa kecil. “Arsiteknya, Bu. Lagi survei rumah Kakek.”


Danis mengangguk sopan, merasa agak kikuk. Tapi Larasati kelihatan nyaman di sini, seperti bagian dari setiap batu dan pohon di kampung.


Mereka terus berjalan ke arah sungai kecil di belakang kampung. Airnya mengalir jernih meski agak dangkal. Larasati berhenti di bawah pohon beringin besar yang akarnya menjalar ke mana-mana.


“Dulu aku sama Cantika sering main di sini,” katanya sambil menyentuh batang pohon yang kasar. “Sebelum semuanya berubah. Kakek suka cerita kalau pohon ini saksi banyak hal di kampung.”


Danis berdiri di sebelahnya. Bahu mereka hampir bersentuhan. Angin sepoi membawa suara anak-anak bermain di kejauhan.


“Kamu masih ingat banyak ya soal kecil dulu,” kata Danis.


Lihat selengkapnya