Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #7

Perjanjian yang Tak Pernah Selesai

Danis menarik napas dalam saat membuka kotak kardus ketiga di ruang penyimpanan sempit itu. Debu tebal menempel di jemarinya, membuatnya batuk pelan. Larasati sedang ke mushola untuk salat Subuh berjamaah, sementara Cantika belum muncul sejak pesan semalam. Rumah terasa sepi, hanya suara burung pipit di halaman yang sesekali memecah kesunyian.


Ia hampir menyerah mencari ketika tangannya menyentuh amplop tebal di dasar kotak. Kertasnya sudah kuning kecokelatan, disegel dengan lilin merah yang retak. Tulisan tangan di depannya jelas: *Untuk Cantika dan Larasati – Perjanjian Pembagian*.


Jantung Danis berdegup lebih cepat. Ia membawa amplop itu keluar ke ruang makan, membersihkan meja dari debu sebelum membukanya hati-hati.


Isinya beberapa lembar surat dan dokumen yang dijepit. Surat pertama dari kakek mereka, ditulis tahun 2005. Tulisan tangan yang sudah pudar itu mengalir pelan:


*Anak-anakku yang terpisah,*


*Hari ini aku tulis ini karena badan sudah tak kuat. Rumah ini dan tanahnya bukan milik satu orang. Ada perjanjian lama dengan keluarga Pradipta yang harus kalian selesaikan berdua...*


Danis berhenti membaca. Nama *Pradipta* lagi. Tanganannya mulai dingin.


Ia melanjutkan. Ada catatan perjanjian pembagian harta yang ditandatangani kakek, tapi tak ada tanda tangan dari pihak ayahnya. Beberapa paragraf membahas “pemisahan sementara kedua cucu” dan “tanggung jawab yang harus dibagi setelah aku tiada”. Semuanya tertulis rapi, tapi jelas belum pernah dieksekusi.


Dari luar, suara pintu depan terbuka. Larasati masuk dengan kerudung masih dipakai, membawa bungkusan ketupat dari tetangga. “Mas Danis sudah bangun? Aku bawa sarapan dari Mbah Siti.”


Danis cepat menyimpan dokumen ke dalam tas kerjanya. “Iya. Lagi bersihin ruang penyimpanan. Nemuin ini.”


Larasati mendekat, meletakkan bungkusan di meja. “Apa itu? Kelihatan lama banget.”


“Surat dari Kakek. Soal perjanjian pembagian rumah dan tanah. Ada yang nyebut-nyebut keluarga Pradipta,” jawab Danis hati-hati, mengamati reaksi Larasati.


Larasati mengerutkan kening sambil membuka bungkusan ketupat. “Pradipta? Nggak familiar. Mungkin teman bisnis Kakek dulu. Bisa aku lihat?”


Danis ragu sebentar sebelum mengeluarkan dokumen itu. Larasati membacanya pelan, alisnya semakin dalam. “Perjanjian pembagian yang belum dijalankan… Makanya notaris bilang semuanya masih campur aduk.”


Mereka duduk bareng sarapan. Aroma ketupat dan opor ayam mengisi ruangan, tapi Danis hampir tak berselera. Pikirannya penuh tanda tanya soal ayahnya.


“Cantika tahu soal ini?” tanya Larasati sambil menyendok opor.


Lihat selengkapnya