Cantika mengerutkan kening lebih dalam, matanya menyipit ke map tipis di pangkuan Danis. Cahaya senter ponselnya menyinari debu yang masih beterbangan di ruang penyimpanan sempit itu. “Keluargamu? Maksudnya apa, Danis?”
Danis menelan ludah, jarinya mencengkeram map itu lebih erat. Sebelum ia sempat menjawab, suara gemuruh petir mengguncang rumah tua. Hujan yang tadinya hanya gerimis mendadak turun deras, memukul atap genteng seperti ribuan kerikil.
“Udah malam, hujan deras gini,” kata Danis cepat, mencoba mengalihkan. “Kita keluar dulu yuk.”
Cantika melirik ke arah pintu kecil, tapi tak bergerak. “Jawab dulu. Kenapa nama keluargamu muncul di dokumen Kakek?”
Danis berdiri pelan, kepalanya hampir menyentuh langit-langit rendah. “Aku juga baru nemuin. Ayahku… kayaknya kenal keluarga kalian dulu. Belum tahu detailnya.”
Hujan semakin deras. Air mulai menetes dari celah atap ruang penyimpanan, membasahi kardus-kardus lama. Cantika mengumpat pelan, bangkit dan mendorong Danis keluar. Mereka bergegas ke ruang depan, tapi pintu belakang sudah terkunci dari dalam dan kuncinya entah di mana.
“Pintu depan juga,” kata Danis setelah mencoba. “Kayaknya Larasati kunci sebelum tidur. Kita terjebak di sini sampai pagi.”
Cantika menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke dinding kayu yang dingin. Lampu temaram ruang depan menyala redup, menciptakan bayangan panjang di wajah mereka. “Bagus. Malam yang sempurna buat rahasia-rahasiaan.”
Mereka duduk di lantai ruang tengah, di atas tikar lama yang ditemukan Danis. Hujan terus menggelegar di luar, angin menyusup lewat celah jendela, membawa bau tanah basah. Danis merasa ruangan itu tiba-tiba lebih kecil.
“Kamu nggak dingin?” tanya Danis sambil menawarkan jaketnya.
Cantika menggeleng, tapi menerima jaket itu dan menyampirkannya di bahu. “Aku biasa dingin. Dari kecil sudah.”
Danis diam, menunggu. Cantika menatap lantai kayu yang berderit pelan setiap angin datang. Jarinya memainkan ujung jaket, gerakannya pelan dan gugup.