Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #9

Ayah yang Selalu Pergi

Larasati mengaduk-aduk sayur di panci dengan gerakan lambat, uap panas mengepul ke wajahnya. Danis berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan bahu Larasati yang agak merunduk. Cahaya lampu neon di atas kepalanya berkedip pelan, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu.


“Mas Danis, mau tambah sambal?” tanya Larasati tanpa menoleh, suaranya ringan tapi ada yang mengganjal.


Danis mendekat, mengambil piring dari rak. “Boleh. Kamu kelihatan capek hari ini.”


Larasati tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Ia mematikan kompor, lalu menuang sayur ke mangkuk. Tangan Larasati berhenti sebentar di pegangan panci, seolah teringat sesuatu. “Ayahku dulu sering masak ini pas kami di Jakarta. Tapi jarang sempat makan bareng.”


Mereka membawa makanan ke meja makan. Cantika belum pulang dari kota. Hanya ada mereka berdua, lampu temaram, dan suara hujan gerimis di luar jendela. Danis duduk di seberang Larasati, memperhatikan bagaimana jarinya memilin ujung serbet kain.


“Kamu jarang cerita soal Ayah,” kata Danis pelan sambil menyendok nasi.


Larasati menatap piringnya lama sebelum menjawab. “Karena ceritanya selalu sama. Ayah merantau terus. Jakarta, Surabaya, kadang ke Malaysia. Aku ikut ke mana-mana, ganti sekolah setiap tahun. Tiap kali aku tanya kapan pulang ke Bandung nemenin Cantika, dia cuma bilang ‘nanti’ sambil rapiin dasi dan ambil koper.”


Ia meletakkan sendok, jarinya menyusuri tepi piring keramik yang sudah agak retak. “Aku suka nunggu di jendela hotel. Lihat mobil Ayah datang dari kejauhan. Kadang dia bawa oleh-oleh besar—boneka, baju baru. Tapi besoknya pagi-pagi sudah pergi lagi.”


Danis diam, membiarkan Larasati bicara. Di luar, angin meniup daun-daun basah, suaranya seperti bisikan pelan.


“Aku merasa bersalah,” lanjut Larasati, suaranya semakin rendah. “Aku dapat Ayah, sekolah bagus, mainan baru. Cantika dapat rumah ini, Kakek-Nenek, dan kesepian. Tapi dia yang lebih kuat sekarang. Aku cuma bisa sentimental soal kenangan.”

Lihat selengkapnya