Danis menekan tombol speaker tanpa sadar. Suara ayahnya yang serak menggema di ruang depan yang sunyi.
“Danis, kamu denger aku? Rumah di Bandung itu… ada urusan lama yang harus kita selesaikan.”
Cantika melangkah maju, sepatunya berdentum di lantai kayu. Larasati membeku, tangannya mencengkeram dokumen hingga kertasnya kusut di pinggir. Dua pasang mata menatap ponsel itu dengan ekspresi yang sama persis — campuran kaget dan curiga.
Danis buru-buru mematikan speaker dan menempelkan ponsel ke telinga, berjalan ke teras belakang. Tapi langkahnya terhenti saat Cantika angkat suara.
“Siapa itu? Kenapa nyebut rumah kami?”
Danis berhenti, bahunya tegang. “Ayahku. Dia… tahu soal rumah ini.”
Larasati mendekat, tangannya memegang lengan Danis pelan. “Jawab dulu, Mas. Kita semua di sini.”
Danis menghela napas, lalu mematikan panggilan itu. “Nanti aku hubungi balik. Sekarang… kalian berdua duduk dulu.”
Mereka bertiga pindah ke meja makan. Lampu kuning temaram menyinari wajah-wajah tegang. Cantika duduk dengan tangan disilang, Larasati di sebelah Danis, jarak mereka lebih dekat dari biasanya.
“Jadi ayahmu kenal Kakek kami?” tanya Cantika langsung, suaranya tajam tapi terkendali. “Itu yang ada di dokumen-dokumen itu?”
Danis mengangguk pelan. “Sepertinya iya. Aku belum tahu detailnya. Tapi ini bukan kebetulan aku yang ditugaskan ke sini.”
Cantika mendengus, tapi matanya menunjukkan otaknya sedang bekerja cepat. “Kalau gitu, kamu bisa bantu klarifikasi. Aku butuh fakta, bukan drama keluarga.”