Ponsel di tangan Danis bergetar sekali lagi. Layarnya menyala terang di ruang depan yang temaram, membuat ketiga orang itu membeku sejenak. Suara ayahnya menggema keras saat Danis tanpa sadar menekan speaker.
“Danis, kamu denger aku? Rumah di Bandung itu… ada urusan lama yang harus kita selesaikan.”
Cantika melangkah maju, sepatunya berdentum di lantai kayu usang. Larasati mencengkeram dokumen di tangannya hingga kertasnya kusut di pinggir. Dua pasang mata menatap ponsel itu seolah benda itu bisa meledak kapan saja.
Danis buru-buru mematikan speaker dan menempelkan ponsel ke telinga, tapi Cantika sudah angkat suara.
“Siapa itu? Kenapa nyebut rumah kami?”
Napas Danis terasa pendek. Ia berjalan ke teras belakang, angin malam yang dingin menyapu wajahnya yang panas. Langkah kedua perempuan itu mengikuti di belakangnya. Ia mematikan panggilan, lalu berbalik menghadap mereka.
“Ayahku,” katanya pelan. Suaranya serak. “Dia bilang dulu sahabat kakek kalian… dan ikut atur pemisahan kalian berdua.”
Cantika merebut map dokumen dari meja dengan gerakan cepat. Matanya menyipit saat menyusuri baris demi baris tulisan pudar. Rahangnya mengeras, bibirnya menipis menjadi garis tipis.
Larasati duduk perlahan di kursi kayu, seolah lututnya tiba-tiba tak sanggup menopang tubuh. Tangannya terkulai di pangkuan, jemarinya masih memegang ujung kertas yang sudah lecek.
“Jadi… selama ini kita bertengkar soal rumah,” gumam Larasati, suaranya hampir hilang, “padahal ada orang ketiga yang lebih tahu sejarahnya?”
Danis mengusap wajah dengan kedua tangan. Telapak tangannya lembab oleh keringat dingin. Bau kayu lembab dan sisa hujan dari luar masuk lewat jendela, tapi tak mampu mendinginkan ruangan yang terasa semakin pengap.
Cantika melempar map itu ke meja. Kertasnya meluncur dan jatuh ke lantai dengan suara pelan. “Kamu tahu dari awal?”
“Baru nemuin dokumen ini beberapa hari lalu,” jawab Danis. Ia membungkuk, memungut map itu dan meletakkannya kembali di meja dengan hati-hati. “Aku sendiri kaget. Makanya aku ragu cerita.”