Mobil sedan hitam berhenti di depan pagar besi yang berkarat sore itu. Danis berdiri di teras, tangannya dingin meski cuaca Bandung tidak terlalu panas. Cantika dan Larasati berdiri di belakangnya, jarak mereka cukup jauh — seperti dua kutub yang enggan mendekat.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria paruh baya turun, rambutnya sudah banyak uban, posturnya masih tegap meski langkahnya agak pelan. Ayah Danis. Ia menatap rumah tua itu lama sebelum matanya jatuh ke anaknya.
“Danis,” sapanya pelan, suaranya serak seperti biasa.
Danis hanya mengangguk. “Ayah.”
Cantika dan Larasati tak bergerak. Cantika melipat tangan di dada, Larasati menggigit bibir bawahnya. Udara sore terasa berat, seolah rumah ini ikut menahan napas.
Mereka masuk ke ruang depan. Ayah Danis duduk di sofa usang, matanya menyusuri dinding kayu, lukisan lama, dan meja jati yang sudah lapuk. “Masih sama seperti dulu,” gumamnya.
Cantika tak bisa menahan diri. “Kamu kenal rumah ini?”
Ayah Danis menoleh, tatapannya lelah tapi tenang. “Iya. Dulu aku sering ke sini. Sahabat baik ayah kalian.”
Larasati duduk di kursi seberang, tangannya saling meremas. “Lalu kenapa Ayah ikut memisahkan kami?”
Ruangan hening. Ayah Danis menghela napas panjang, jemarinya mengetuk-ngetuk lutut. “Saat itu situasi keluarga kalian sangat rumit. Ibu kalian meninggal saat melahirkan Cantika. Ayah kalian… dia tidak sanggup mengurus dua anak sekaligus. Dia sering merantau, kerjanya tidak stabil. Kakek-Nenek Cantika menawarkan untuk mengurus Cantika di Bandung. Aku hanya membantu mengatur agar semuanya legal.”
Cantika berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser dengan suara keras. “Jadi kalian memutuskan nasib kami seperti barang?”