Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #14

Retak yang Mulai Terlihat

Malam itu rumah tua terasa lebih dingin dari biasanya. Ayah Danis sudah tidur di kamar tamu, tapi ketegangan yang dibawanya masih menggantung di udara seperti kabut yang tak mau hilang. Danis duduk di teras belakang, memandang kebun yang gelap. Angin malam membawa bau tanah basah dan daun lembab.


Langkah pelan terdengar dari dalam rumah. Cantika muncul, masih memakai baju tidur longgar, rambut pendeknya agak acak-acakan. Ia berdiri di ambang pintu sebentar sebelum mendekat dan duduk di kursi rotan sebelah Danis.


“Tidur nggak bisa,” katanya pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin.


Danis menoleh. “Aku juga.”


Mereka diam cukup lama. Hanya suara jangkrik dan daun bergoyang yang menemani. Cantika menarik lututnya ke dada, dagunya bertumpu di lutut. Posturnya kecil, berbeda dari sikap tegas yang biasa ia tunjukkan di siang hari.


“Ayahmu bilang dia sahabat Kakek,” kata Cantika akhirnya. “Tapi aku ingat Kakek pernah bilang nama Pradipta dengan nada… sedih. Bukan marah, tapi sedih.”


Danis mengangguk pelan. “Ayahku juga kelihatan menyesal tadi.”


Cantika menatap kebun gelap. Jarinya memilin ujung baju tidurnya. “Aku benci merasa lemah. Tapi setelah denger penjelasan tadi… rasanya seperti ada yang retak di dalam sini.” Ia menekan dada kirinya pelan.


Danis tak langsung menjawab. Ia hanya duduk lebih dekat, bahu mereka hampir bersentuhan. Angin malam meniup rambut Cantika, membawa aroma shampoo yang samar.


Lihat selengkapnya