Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #15

Bayang yang Tak Terucap

Pagi berikutnya, cahaya matahari menyusup lewat celah-celah genteng, membentuk pola terang di lantai kayu ruang depan. Danis sudah duduk di meja makan sejak subuh, mencoba fokus pada sketsa desain. Tapi pikirannya terus melayang ke momen di teras semalam — bahu Cantika yang bersandar pelan, kehangatan tangannya yang dingin.


Larasati turun lebih dulu. Rambutnya masih basah, langkahnya pelan. Ia berhenti sebentar di anak tangga saat melihat Danis, lalu melanjutkan ke dapur tanpa kata. Suara air mengalir dan denting piring terdengar samar.


Cantika muncul tak lama kemudian, sudah rapi dengan blus putih. Matanya melirik Danis sekilas, ada sesuatu yang lebih lembut di tatapannya dibanding hari-hari sebelumnya. “Pagi,” sapanya pelan.


“Pagi,” balas Danis. Suaranya agak serak.


Larasati keluar dari dapur membawa tiga cangkir kopi. Ia meletakkan satu di depan Danis, satu di depan Cantika, dan satu untuk dirinya sendiri. Gerakannya biasa saja, tapi Danis melihat bagaimana jarinya sedikit gemetar saat meletakkan cangkir Cantika.


“Kita bicara desain sekarang?” tanya Cantika sambil duduk.


Danis mengangguk. Ia membuka laptop, menunjukkan sketsa terbaru. “Ini versi kompromi. Renovasi struktur utama, pertahankan elemen kayu asli, tapi ada penambahan ruang komersial kecil di belakang untuk pemasukan. Bisa jadi kafe atau gallery kecil tentang sejarah kampung.”


Larasati mendekat, bahunya hampir menyentuh bahu Danis saat melihat layar. “Ini bagus. Ruang penyimpanan bisa dijadikan museum kecil. Foto-foto lama bisa dipajang.”


Cantika menyipitkan mata. “Masih terlalu sentimental. Tapi… lebih masuk akal dari sebelumnya.”


Mereka diskusi cukup lama. Cantika menunjuk angka estimasi biaya, Larasati menambahkan ide soal elemen sejarah yang harus dipertahankan. Danis merasa seperti sedang menjadi jembatan yang semakin tipis.


Larasati sesekali melirik Cantika dan Danis bergantian. Saat Danis menjelaskan detail sketsa, Larasati melihat bagaimana Cantika mendengarkan dengan lebih tenang dari biasanya. Cara Cantika menatap Danis. Cara bahu mereka hampir bersentuhan.

Lihat selengkapnya