Malam itu rumah tua terasa lebih dingin dari biasanya. Setelah makan malam yang tegang, Cantika berdiri tiba-tiba dari meja, kursinya bergeser dengan suara keras. Tanpa kata, ia mengambil jaket dan keluar rumah. Pintu depan ditutup dengan pelan, tapi suaranya terdengar seperti tamparan.
Danis dan Larasati saling pandang. Ayah Danis hanya menghela napas panjang dari kursi ruang depan.
“Dia butuh waktu,” kata ayah Danis pelan.
Tapi Larasati sudah berdiri. “Dia nggak pernah pergi malam-malam kayak gini.”
Danis mengangguk. Ia meraih jaketnya. “Kita cari.”
Mereka berdua keluar rumah. Angin malam Bandung menusuk kulit, membawa bau tanah basah dan daun lembab. Lampu jalan kampung samar, hanya cahaya bulan yang menerangi jalan setapak.
“Dia biasanya ke mana kalau marah?” tanya Danis sambil menyalakan senter ponsel.
Larasati berjalan di depan, langkahnya cepat. “Biasanya ke sungai kecil di belakang kampung. Atau ke pohon beringin besar.”
Mereka menyusuri gang kecil yang gelap. Suara jangkrik dan sesekali gonggongan anjing jauh terdengar. Larasati berjalan semakin cepat, napasnya mulai tersengal.
“Cantika!” panggil Larasati, suaranya bergema di antara rumah-rumah.
Tak ada jawaban. Hanya angin yang meniup daun kering.