Pagi berikutnya, rumah tua masih diselimuti kabut tipis. Danis turun dari kamar dengan mata masih berat. Bau kopi hitam menguar dari dapur, tapi suasana terasa tegang. Cantika sudah duduk di meja makan, tangannya memegang cangkir kopi yang belum disentuh. Larasati berdiri di dapur, punggungnya membelakangi.
“Pagi,” sapa Danis pelan.
Cantika hanya mengangguk. Matanya agak sembab, seolah semalaman tak tidur. Larasati menuang kopi untuk Danis tanpa kata, tapi gerakannya kaku.
Ayah Danis turun tak lama kemudian. Ia duduk di ujung meja, tatapannya mengamati ketiganya. “Kita bicara soal desain hari ini?”
Danis mengangguk. Ia membuka laptop, tapi sebelum sempat bicara, Cantika sudah angkat suara.
“Aku mau jual rumah ini,” katanya tegas. “Bukan karena aku benci kenangan. Tapi karena ada yang lebih penting.”
Larasati menoleh cepat. “Apa maksudmu?”
Cantika menatap meja lama sebelum bicara. Jemarinya mencengkeram cangkir kopi hingga buku-buku jarinya memutih. “Kakek sakit. Sudah beberapa bulan. Aku yang bayar pengobatannya selama ini. Uang dari penjualan tanah ini… bisa buat operasi dan pengobatan lanjutan.”
Ruangan hening seketika. Larasati membeku, cangkir di tangannya hampir jatuh. “Kamu… nggak pernah bilang?”
“Buat apa bilang?” balas Cantika, suaranya rendah tapi bergetar. “Kamu sibuk dengan kenanganmu. Aku sibuk nyari uang. Kakek minta aku jangan bilang ke kamu. Katanya kamu sudah cukup punya beban.”