Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #19

Dikhianati Oleh Saudara

Pagi berikutnya, rumah tua terasa lebih sunyi dari biasanya. Larasati berdiri di dapur, tangannya mencengkeram pinggir wastafel hingga buku-buku jarinya memutih. Kabar tentang Kakek yang sakit masih bergema di kepalanya sejak semalam.


Cantika turun dari kamar, rambut pendeknya rapi seperti biasa. Ia berhenti di ambang pintu dapur saat melihat Larasati.


“Kamu sudah tahu?” tanya Cantika pelan.


Larasati berbalik. Matanya merah, tapi bukan karena menangis — karena marah yang tertahan. “Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Aku saudaramu, Cantika. Bukan orang asing.”


Cantika menghela napas, bersandar di kusen pintu. “Kakek yang minta aku diam. Katanya kamu sudah cukup punya beban di Jakarta. Aku cuma nurut.”


Larasati tertawa pahit, suaranya bergetar. “Jadi selama ini aku pikir kamu egois mau jual rumah. Ternyata kamu simpan rahasia sebesar ini sendirian? Kamu nganggap aku nggak bisa dipercaya?”


Cantika membuang muka. “Aku nggak mau kamu ikut khawatir. Kamu selalu yang sentimental. Kalau tahu Kakek sakit, kamu pasti langsung pulang dan ninggalin hidupmu di Jakarta.”


Larasati melangkah maju, tangannya mengepal di sisi tubuh. “Itu keputusanku! Bukan keputusanmu! Kita saudara, Cantika. Kita seharusnya hadapi ini bareng.”


Suara mereka mulai meninggi. Danis yang baru turun dari kamar berhenti di tangga, tak berani mendekat. Ayah Danis duduk di ruang depan, hanya mengamati dengan wajah lelah.


Lihat selengkapnya