Dua Nama di Kontrak yang Sama

JNR1101
Chapter #20

Tuduhan di Tengah Retak

Pagi itu sinar matahari menyusup lewat celah-celah genteng yang bocor, membentuk pola cahaya kecil di lantai kayu ruang depan. Danis berdiri di ujung meja makan, laptopnya terbuka, sketsa desain terbaru terpampang di layar. Tangannya sedikit berkeringat meski udara Bandung pagi itu sejuk.


Cantika dan Larasati duduk di ujung meja yang berlawanan. Jarak mereka terasa seperti jurang. Ayah Danis duduk di kursi sudut, diam mengamati tanpa banyak bicara.


“Aku sudah revisi draftnya,” kata Danis pelan. “Ini versi kompromi yang lebih matang. Renovasi struktur utama, pertahankan elemen kayu asli, tapi ada penambahan ruang komersial kecil di belakang untuk pemasukan. Bisa jadi kafe atau gallery kecil tentang sejarah kampung. Biayanya bisa ditekan dengan memanfaatkan bahan lokal.”


Ia memutar layar laptop agar keduanya bisa melihat jelas. Sketsa 3D itu menampilkan rumah yang masih berdiri gagah, dengan sentuhan modern yang halus tapi tak menghilangkan jiwa aslinya.


Larasati mendekat, matanya berbinar melihat detail ruang penyimpanan yang diubah jadi area pameran foto lama. “Ini bagus. Foto-foto Kakek bisa dipajang di sini. Kampung sekitar juga bisa ikut merasakan manfaatnya.”


Cantika menyipitkan mata, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama gelisah. “Masih terlalu sentimental. Biaya renovasi segini tetap tinggi. Tanahnya lebih berharga kalau dibersihin total dan dijual.”


Danis menjelaskan lagi, suaranya tetap tenang meski dadanya mulai sesak. “Kalau kita jual tanah kosong, nilai jualnya memang tinggi. Tapi kalau kita renovasi seperti ini, rumah bisa jadi aset jangka panjang. Bisa menghasilkan pemasukan rutin, sekaligus jadi tempat bersejarah untuk kampung.”


Cantika berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser dengan suara keras di lantai kayu. “Ini berpihak ke Laras. Kamu buat desain yang ‘kompromi’ tapi sebenarnya mempertahankan semuanya. Aku bilang dari awal — bongkar total.”


Lihat selengkapnya