Oktober 2020
Aku membayar kopi yang sudah tandas dari tadi. Setelah dua jam menunggu, aku mulai jemu. Pantatku bisa jadi melepuh. Pinggang pegal kena encok. Tanpa meminta kembalian yang hanya seribu, aku meninggalkan warung, menyeberangi jalan raya yang sepi, lalu menendang pintu gerbang dari seng itu hingga berdentam-dentam.
Tak lama kemudian seraut wajah yang letih, ngantuk, dan kumal muncul di sela-selanya. Tubuh orang itu segede gorila dan ada tato naga yang terlihat seperti cacing di dadanya. Matanya merah. Bau alkohol menyembur dari mulut, bersaing dengan aroma tubuhnya yang mungkin belum mandi selama tiga hari.
“Ada apa? Cari siapa?” Orang itu mendengkus.
“Wildan ada?” tanyaku setelah sejurus mengatur napas.
Orang itu mendongak, mata menyipit. “Wildan siapa?”
Aku mengerutkan kening. Tak yakin nama yang sekarang disandangnya. Bisa jadi orang yang sedang kuburu itu memakai nama lain.