Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #2

MOSAIK DUA

Sudah dua minggu aku melacak keberadaan residivis yang langganan keluar-masuk penjara ini, tapi belum membuahkan hasil. Jejaknya seperti fatamorgana di aspal pada siang yang terik; terlihat nyata, tapi tidak ada. Wildan sangat berbahaya. Jenis kejahatannya variatif walau seringnya perampokan. Satu-satunya tindak kriminalnya yang belum bisa dibuktikan oleh pengadilan adalah pembunuhan. Bisa jadi dia pernah melakukannya, tapi belum ketahuan.

Pada zaman media online belum merajai dunia literasi dan media sosial belum menjadi candu, Wildan pernah membuat geger kalangan penegak hukum. Bukan karena kejahatannya yang canggih. Namun, sebab kegoblokannya yang nyaris mendekati sempurna. Dia memasang iklan baris di sebuah koran dan mengaku sebagai pembunuh bayaran. Dia bersedia membunuh para koruptor dengan bayaran sekadarnya. Kalau perlu, gratis.

Iklan baris yang isinya sangat sensitif itu nyempil di antara iklan jual-beli murai, motor bekas, cabe, dan pijat panggilan. Seorang wartawan yang sepertinya sangat mendukung gagasan tersebut memberitakannya dalam bentuk naratif-deskriptif yang bombastis. Seorang pejabat yang kebetulan membaca artikel itu merah padam mukanya dan hampir tersedak kopi yang sedang diminumnya pada pagi hari. Dia menganggapnya sebagai ancaman serius, lalu menghubungi sahabatnya yang berpangkat komisaris.

“Cari dan amankan!” perintahnya.

Segera saja dua orang petugas mendatangi alamat yang tertera jelas pada iklan. Mereka menangkap Wildan yang saat itu sedang tidur telentang, mulut menganga, kaki kanan menjuntai di lantai, dan dikerubuti nyamuk. Dia diborgol bahkan saat nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Kepalanya dikarungi goni, mulutnya disumbat kaus kaki, dipukuli di sepanjang perjalanan menuju sebuah kantor di tengah kota.

Reaksi itu berlebihan, tapi punya alasan kuat, sebab ada beberapa peristiwa yang bisa disangkutpautkan dengan iklan konyol tersebut. Pada kurun waktu itu ada beberapa pejabat yang meninggal dunia meskipun bukan akibat bunuh diri gara-gara gagal menjalankan tugas negara. Ada kemungkinan mereka dibunuh secara misterius dan tak pernah diketahui siapa pelakunya. Kecelakaan lalu lintas yang pernah menimpa seorang dirjen bisa jadi hasil sabotase yang teliti dan penuh perhitungan. Mantan menteri yang meninggal dunia di rumah sakit Singapura mungkin saja karena diracun dari jenis yang saat itu belum diketahui, dan bukan akibat kena serangan jantung.

Di ruangan yang sempit, remang, dan pengap, Wildan dicecar pertanyaan yang daftarnya lebih panjang dibanding daftar belanjaan para ibu yang sedang sedikit mengurangi hasil korupsi suaminya.

“Kamu yang memasang iklan itu?” tanya seorang petugas.

Wildan nyengir. “Iya …!”

“Apa maksudnya?” desak petugas lain.

Wildan menggaruk-garuk kepalanya, lalu kembali nyengir. “Hanya iseng! Siapa tahu ada yang minat!”

“Iseng?!” Seorang petugas bertubuh kurus berteriak, lalu melayangkan tamparan sekerasnya. “Iseng seperti ini?!”

Wildan terjungkal dari kursi yang didudukinya. Pipinya seakan kena raba pantat setrika yang sedang menyala. Namun, dia tak bisa mengelus-ngelusnya, sebab kedua tangannya diborgol di belakang punggung.

“Kamu ekstremis?” desak petugas yang berkumis tebal. “Subversif?”

“Eks apa? Versif apa?” Wildan balik bertanya. Istilah-istilah itu terdengar asing di telinganya.

“Dasar budeg!” sahut salah seorang petugas.

Wildan bingung, toleh-toleh seakan monyet kena sambit sumpit. Namun, dia tak bisa sepuasnya. Sebab, sesaat kemudian sepatu lars itu mengempas jemari kakinya, dibarengi raungan yang sangat membahana:

“PKI tak boleh hidup di negeri ini!”

Wildan diinterogasi para petugas dari siang hingga malam dan sudah barang tentu sambil dimaki dan dihajar habis-habisan: ditendang, dijambak, dipukul, disetrum. Bau hangus menyebar di ruangan yang pengap; entah dari kabel yang terbakar atau daging yang gosong.  Wildan menjerit, menjerit, dan terus menjerit. Namun, pemeriksaan tak juga dihentikan.

Setelah melakukan berbagai cara dan tidak mendapatkan hasil yang diinginkan, para petugas angkat tangan. Belum lama, ada pejabat tinggi setingkat menteri yang mati secara mencurigakan dan bisa jadi Wildan otak pelakunya. Namun, alibi Wildan sangat kuat. Dia sedang di dalam penjara ketika si tua renta dan cabul itu tewas di kamar hotel akibat ditusuk selingkuhannya yang cemburu buta, dan para petugas gagal menghubungkan perempuan yang artis sinetron itu dengan Wildan yang penjahat kambuhan merangkap buruh serabutan. Apalagi profil Wildan sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai seorang pembunuh bayaran. Di dunia nyata, tidak ada hitman yang mulutnya “ember”. 

Lihat selengkapnya