Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #3

MOSAIK TIGA

Aku mengetahui buruanku lainnya menyebut dirinya Dona Sang Primadona setelah dua hari pencarian. Dia tidak selicin belut. Namun, jejaknya berliku-liku seperti lubang cacing. Aku harus mengubernya dengan susah payah, untungnya tak sampai berdarah-darah.

      Bermula dari bangunan tua di pinggiran Jakarta, aku mengikuti jejak Dona sampai Bogor, Tangerang, Serang, dan Sumatera. Aku naik feri, menyeberangi Selat Sunda; tak peduli bau solar bercampur aroma muntahan membuat isi perutku seperti diaduk-aduk; tak hirau angin laut yang asin menampar-nampar wajahku dan membuat mata perih; tak enggan duduk di geladak sambil memeluk lutut, bertahan supaya nasi goreng yang baru dua jam kusantap tidak meloncat saat gelombang laut mempermainkan kapal seolah selembar daun.

      Turun di Bakauheni, aku numpang truk pengangkut kayu hasil pembalakan liar. Sopirnya tua, dan terus-terusan merokok, membuat abu beterbangan dan sebagian hinggap di rambutku. Selama perjalanan yang terasa sangat panjang dan melelahkan itu aku mesti merelakan kupingku panas seperti disundut bara tempurung kelapa. Pak sopir yang pulang sekali seminggu itu curhat tentang istrinya yang selingkuh dengan tetangganya yang selisih umurnya hampir separuhnya, dan aku ikut emosi mendengarnya.

      Tiba di Mesuji, aku turun. Pak sopir yang hatinya sedang remuk rendam itu menolak saat kuberi uang, dan aku tak mau memaksa. Kuanggap rezeki anak saleh.

      “Doakan saya kuat menjalani cobaan ini, Mas!” ucapnya, memelas.

      Aku mengangguk pelan, lalu menggerundel. Mestinya dia tidak perlu repot-repot minta didoakan. Kedudukannya sudah sangat ideal di hadapan Tuhan. Bukankah doa orang yang teraniaya pasti bakal dikabulkan?

      Aku melambaikan tangan ke tukang ojek yang sedang menunggu penumpang di perempatan jalan. Begitu dia datang, aku langsung menyebutkan tujuanku dan tidak menawar tarif yang dia kenakan. Kami keluar dari jalan raya utama, lalu melewati jalanan yang seperti kubangan kerbau. Lima belas menit kemudian kami tiba di sebuah desa yang dipenuhi tanaman singkong.

      Setelah puluhan kali mengumpat karena harus mendorong motor yang terjebak lumpur setinggi pinggang, alamat yang kucari akhirnya ketemu. Namun, aku harus rela menelan kenyataan yang sepahit jamu.

      “Sudah lima tahun saya tidak bertemu,” kata orang tua itu.

      Aku menghela napas panjang. Rasa letih dan lesu tiba-tiba kembali menyerang, dan lebih brutal dibanding lima menit lalu. Apalagi ketika kutanya, siapa kiranya yang tahu alamatnya, orang tua kerempeng itu tak segera menjawab. Dia justru menatapku penuh curiga. Bahkan berkali-kali melirik revolver yang kuselipkan di pinggang, di balik jaket yang sengaja kubiarkan terbuka.

      “Kalau ketemu mau diapakan?” tanyanya penuh selidik. 

      Aku tak segera menjawab. Sebagai gantinya, aku justru menatap wajahnya yang dipenuhi lipatan kulit. Dagunya mengerut seperti pantat mangga hampir busuk. Sorot matanya kuyu dan layu seperti orang yang baru saja main judi dan kalah banyak sekali: kehilangan harta, benda, serta harga dirinya.

      “Ada yang ingin kutanyakan padanya,” jawabku, akhirnya.

      “Tentang apa?”

      “Banyak hal!” Aku tersenyum masam. “Bukan urusanmu!”

      Orang tua itu menatapku tajam, lalu mendesis. “Anakku bukan penjahat. Yang dilakukannya memang dimurkai Tuhan. Tapi bukan kriminal .…”

      Aku mengerutkan kening. Tak paham maksud ucapan tersebut. Aku memang sedang memburu penjahat, tapi bukan pelaku kriminal biasa walaupun boleh juga dibunuh jika sangat terpaksa. Bahkan, kalau perlu dikutuk menjadi batu, lalu kubiarkan menangis tersedu-sedu sambil memanggil-manggil ibunya.

      Orang tua yang rambutnya dipenuhi uban itu rupanya tak mau membiarkan kebingungan melanda otakku terlalu lama. Dia mengajakku ke teras dan mengomando seorang perempuan membuatkan kopi, mungkin istrinya. Aku tak kuasa menolak. Aku belum tidur sejak kemarin. Selama perjalanan, ombak Selat Sunda telah membuatku sangat menderita. Sementara, jalan yang kulalui agar sampai di sini membuatku sangat rajin memaki. Berselonjor sambil minum segelas kopi sepertinya bisa meningkatkan staminaku yang terkuras.

      Kami duduk berdampingan. Di bawah kami, lantai tanah yang berdebu dan sepertinya jarang disapu. Di belakang kami, dinding papan dari kayu murahan yang penataannya asal-asalan. Di depan kami, meja kecil tanpa taplak. Di atasnya dua gelas kopi dan sepiring singkong rebus. Tanpa dipersilakan, kopi yang masih mengepulkan asap itu kucecap. Harumnya langsung tercium. Rasanya pas di lidahku, tidak terlalu manis. Seperti baru saja dipencet saklarnya, tiba-tiba mataku menyala.

Lihat selengkapnya