Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #4

MOSAIK EMPAT

September 2020

Kenyataan yang cukup mengejutkan itu kuketahui saat langit senja sangat bersih seperti kaca yang baru saja dilap pakai kanebo. Bapak memanggil, menyuruhku duduk di teras yang ubinnya mulai retak di beberapa bagian. Dari ruang keluarga, televisi yang tidak ditonton sejak tadi suaranya samar terdengar.

Wajah Bapak terlihat letih. Dia seperti menyimpan sesuatu yang sudah terlalu lama dipikulnya sendirian. Sejak Ibu meninggal, Bapak bagai kehilangan arah walaupun tidak sampai tersesat dan jatuh tersungkur. Pensiunan polisi yang dikenal tegas, tak kenal kompromi, dan tak mau melakukan Pungli itu kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku agama, duduk di teras berlama-lama selepas Magrib, dan sesekali berbicara dengan seseorang yang tak terlihat.

Ekspresi Bapak terlihat sangat serius. Aku merasa tidak enak hati. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Dalam benakku, dugaan konyol sempat muncul. Jangan-jangan aku akan dijodohkan dengan anak salah satu temannya yang hanya kuketahui dari cerita sepintas. Entah, Mira, Soya, atau Dara. Namun, dugaanku meleset.

Ucapan Bapak yang disampaikan pelan dan nyaris seperti bisikan itu membuatku tersentak. Sesuatu yang selama ini terkubur rapi di dalam diriku, atau bahkan mungkin sengaja kututup dalam-dalam kembali tersingkap. Bapak tidak berbicara panjang-lebar, tapi justru mampu mengetuk pintu hatiku yang selama ini kukunci rapat-rapat.

Aku diam terpekur. Namun, batinku bergejolak sangat hebat. Meskipun tidak utuh dan bulat, seperti ular berbisa yang keluar dari dalam sarang, masa lalu yang tersimpan di otakku merayap perlahan-lahan. Gambar hitam-putih itu hadir di benakku, terputus-putus seperti potongan film tua yang dipenuhi jamur: bangunan berpagar tinggi, sekumpulan bocah kurus, keriuhan saat jam makan, tangis bersahut-sahutan, bau nasi, suara piring beradu, malam-malam panjang, kipas angin rusak, serta perasaan yang sama dan datang berulang-ulang; merasa ditinggalkan tanpa benar-benar tahu oleh siapa.

Lihat selengkapnya