Rumah yang terlihat lebih tua daripada umur yang sebenarnya itu terletak tak jauh dari lapangan sepak bola di pelosok sebuah desa di Bekasi bagian utara. Bentuknya limasan. Dindingnya berlumut. Halamannya kotor dipenuhi rumput, daun kering, dan plastik. Penghuninya sebut saja Sri.
“Siapa kau?”
Bentakan tersebut menyambutku saat aku baru memasuki pintu. Sri melotot. Pakaian yang mirip lap kompor minyak menggenapi wajahnya yang sekeruh teh basi. Kulitnya yang putih tertutup daki entah setebal berapa inci. Rambutnya beruban dan berantakan. Tulang pipinya menonjol. Tangannya gemetar saat diam, dan lebih gemetar lagi saat bergerak.
Aku menyebutkan namaku dan sepertinya perempuan kurus kering itu tak peduli. Aku tak menduganya sama sekali dan sudah pasti merasa sangat kecewa. Acara penyambutan tersebut tidak sesuai dengan yang sejak tadi kubayangkan. Mestinya ada adegan peluk-pelukan dan tangis-tangisan. Atau setidak-tidaknya ucapan “maaf” dari mulut kami berdua.
Sri beranjak dari dipan, melangkah pelan ke arahku. Kakinya yang kurus menyeret sedikit, menimbulkan bunyi gesek halus di lantai. Tatapannya melewati bahuku, lalu mungkin menghunjam jauh di ujung sana.
“Mana Wildan?”
Aku tak segera menjawab walaupun tahu siapa yang dia maksud. Seketika hatiku berdesir. Ternyata hanya nama itu yang dia ingat. Sambil memegangi kusen pintu kamar, kuedarkan pandangan. Rumah itu lebih kotor dibanding kandang kambing. Sampah berserakan di lantai. Piring kotor di atas meja dikerubuti lalat. Dinding kayu rusak dimakan rayap. Gentingnya berlubang di beberapa tempat.
“Mana Wildan?”
Aku tak menyahut, justru segera keluar rumah, menuju motor, lalu duduk di atas sadel. Hanya nama itu yang disebut, dipanggil, dan ditanyakan. Aku tak tahu yang kurasakan, tapi sangat paham yang sedang kupikirkan. Jarum tajam seakan ditusukkan ke lubuk hatiku dan membuatnya luka meskipun tidak berdarah. Aku tidak boleh cemburu. Bukan hak aku! Tiap orang memiliki kesukaan masing-masing dan tak bisa diganggu gugat.
Aku duduk terpaku cukup lama. Gambaran yang kubayangkan ternyata tak sesuai kenyataan. Indah kabar daripada rupa. Dari melihat keadaannya, bisa kusimpulkan, walaupun masih bernapas, Sri sudah mati. Jiwanya berlubang-lubang seolah daun dimakan ulat. Ingatannya hilang sebagian besarnya kecuali hanya tersisa seuprit. Raganya tinggal tulang yang dibalut daging tipis dan kulit mengerut.
Berbagai pemikiran berkecamuk di benakku. Respon yang baru saja kudapatkan membuatku berpikir ulang dan ingin segera menjauh darinya, sejauh-jauhnya. Tak ada rindu. Tiada kenangan indah. Hubungan kami sepertinya bakal sangat toksik dan hambar. Aku ingin membiarkan dan menganggap semua yang telah dan akan terjadi pada Sri bukan urusanku. Memang itu takdir yang harus dijalaninya. Bisa jadi itu karma, hukuman, ujian, atau apa pun namanya. Namun, di sisi lain aku merasakan penderitaan yang sedang dialami Sri, yang bahkan mungkin tidak disadarinya. Dunianya mungkin sudah menciut seukuran kelereng. Dia hanya bisa mengingat apa yang ingin dia ingat, dan tak peduli lainnya.