Dua Puluh Mosaik Plus Satu

Dewanto Amin Sadono
Chapter #6

MOSAIK ENAM

Agustus 1990

Sri bersungut-sungut. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tak tersampaikan, dan membuat dadanya tambah sesak. Wajahnya muram. Pipinya masih menyisakan panas bekas tamparan tadi malam. Kakinya tersaruk-saruk, menyeret debu halaman yang belum sempat disapu sejak pagi.

Sri menjauhi rumah semipermanen yang sudah ditempatinya hampir lima tahun. Neraka dunia sesungguhnya di rumah itu dan dia saksinya. Tadi malam, dia menolak ketika disuruh membelikan rokok. Seketika sang ibu mertua menghunjamkan khotbahnya.

“Sorga istri terletak di bawah telapak kaki suami,” katanya.

Sri tidak membantah, tapi juga tetap tidak mau berangkat ke warung Yu Minah meskipun hanya berjarak lima rumah. Entah dari siapa ibu mertuanya mendapatkan ilmu. Kiai atau ustaznya pasti sungguh pintar berimprovisasi. Sepertinya hal itu hanya berlaku untuk ibu. Itu pun syarat dan ketentuannya berlaku. Memangnya anak tidak boleh membantah perintah ibunya yang menyuruhnya mencuri?

Suaminya yang sejak tadi sakau rokok serta-merta marah-marah dan Sri tak peduli. Salah sendiri waktu kecil ibunya sering menakut-nakutinya dengan hantu yang suka mencekik leher. Apalagi waktu juga sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tak etis mengetuk pintu warung yang sudah ditutup. Berarti pemiliknya sudah cukup mendapat untung.

Merasa dikeroyok, Sri meradang lalu balik menceramahi dan memperlakukan ibu mertuanya seperti bocah TK yang tertangkap basah sedang mencuri gula-gula milik temannya. Bahkan Sri menunjuk-nunjuk mukanya. Melihat dan mendengar hal itu, seketika suaminya meradang. Napas memburu. Rahang mengeras. Telapak tangannya seketika melayang. Plak!

“Kurang ajar!” pekiknya.

Sri terhuyung. Sesaat dunia seperti miring. Rasa asin menjalar di sudut bibirnya.

Mertua perempuan Sri memang parah. Perempuan gembrot itulah sumber malapetaka di rumah itu. Di mata ibu mertuanya, yang Sri lakukan semuanya salah. Sejak pagi dia berada di dapur dan bertindak seperti mandor. Dia berkacak pinggang, mata melotot, dan cerewetnya minta ampun. Ketika Sri merebus air, mertuanya spontan berteriak:

“Nyala kompornya jangan terlalu besar! Boros minyak!”

Saat Sri membuat kopi, lain lagi komentarnya. “Kopinya jangan kebanyakan gula! Tidak enak!”

Lihat selengkapnya