Desember 1993
Biaya hidup tidak murah, pendidikan tidak gratis, bahkan terkesan sengaja diperdagangkan. Bagaimanapun juga, anaknya harus bersekolah setinggi-tingginya, kalau bisa sampai sarjana. Demi anaknya, Sri sanggup melakukan apa saja dan telah membuktikannya: menerima lamaran laki-laki yang tidak terlalu disukainya.
Semua bermula saat ingar bingar malam tahun baru. Sri ingat betul. Orang-orang berjalan-jalan sambil meniup terompet. Mereka hendak menuju alun-alun, menikmati pesta kembang api. Sri dan laki-laki itu tiba di depan kafe yang sedang ramai pengunjung, lalu berhenti.
“Kita tidak usah masuk! Banyak pemabuk!” kata laki-laki berwajah polos itu.
Sri belum pernah menjadi juara kelas dan tak lulus SMP. Namun, dia tidak akan sebodoh itu dalam membuat alasan. Tidak juga bakal bersikap kampungan. Bisa-bisanya mengintip orang-orang yang sedang merayakan tahun baru di dalam kafe lewat kaca jendela. Hingga lima menit? Sungguh terlalu! Kenapa pula waktu itu juga dia segoblok itu! Mau menungguinya di trotoar sambil selonjoran.
Lamaran yang disesali Sri itu disampaikan di antara teriakan orang-orang yang sedang menghitung detik-detik pergantian tahun.
“Tiga, dua, satu .… Happy New Year!”
Kembang api meledak-ledak di udara, warna-warni, aneka bentuk. Laki-laki itu mengangsurkan minuman bersoda yang sedari tadi dipegangnya. Matanya menyorot penuh harap.
“Maukah kamu menjadi istriku? Menjadi ibu bagi anak-anak kita?”
Tak tahu apakah karena waktu itu mulutnya sedang tidak baik-baik saja, atau gara-gara telah diguna-guna, spontan Sri menjawab:
“Mau, mau, mau!”
“Beneran mau? Aku tak punya apa-apa, lho?”
“Nggak masalah! Aku juga tak punya apa-apa! Juga janda!”
“Janda, nggak apa-apa. Aku juga bukan perjaka!”
Saat itu kegembiraannya membukit, menggunung, melayang, tapi hanya sementara, dan dia tak bisa mengubah jalannya cerita. Andai saja ada lorong waktu yang bisa membawanya kembali ke masa itu, dia pasti akan meralat keputusannya. Mestinya dia tidak meninggalkan anaknya yang baru berumur setahun dan menitipkannya ke kakeknya demi bisa kencan dengan laki-laki yang baru dikenalnya sebulan, yang ternyata jago memancing pertengkaran.