Mei 1995
Suaminya lebih suka memancing daripada memelihara ketenangan batin istrinya dan Sri tak tahan. Pertengkaran bukanlah bumbu pemanis dalam rumah tangga, melainkan racun yang menggerogoti jiwa. Apalagi jika itu berlangsung hampir setiap hari.
Setelah resmi bercerai, Sri kembali ke rumahnya, berjalan kaki sepanjang tiga kilometer, menyusuri tepi jalan raya. Dia menggendong anak keduanya dengan jarik, tangan kanannya menggandeng si sulung, dan menjinjing tas yang berisi harta bendanya yang tak seberapa dengan tangan kiri. Dia pergi pada pagi buta, dan sama sekali tanpa air mata.
Bapak tetaplah bapak, tak bakal menolak kepulangan anak perempuannya bagaimanapun kondisinya, termasuk statusnya: janda dua kali dalam lima tahun. Bapaknya adalah orang tua satu-satunya sejak Sri berumur sepuluh tahun. Bapaknya tak pernah kawin lagi. Perempuan yang telah bersemayam di hatinya itu tak tergantikan oleh siapa pun. Laki-laki yang bekerja sebagai buruh serabutan itu cenderung pendiam; bicara seperlunya, dan justru itu menjadikan ucapannya sangat berharga:
“Sri, sepandai dan sekaya apa pun kamu, apalagi kamu tidak pandai dan tidak kaya, suami adalah kepala keluarga. Selama masih dalam batas kewajaran, hormati dan patuhi perintahnya! Jika kamu sudah melakukannya, tapi suamimu justru tidak tahu diri, segera tinggalkan!”
Sri menjadikan nasihat tersebut sebagai pegangan hidup dan kali ini tak akan melupakannya. Dia sudah banyak belajar. Menjadi orang tua tunggal tidak mudah. Kedua anaknya bukan hanya butuh makan dan pakaian. Namun, juga perlu sosok bapak yang bisa mengayomi dan melindungi mereka.
Sri sudah tahu apa yang harus dilakukan agar perkawinannya langgeng: pandai-pandai menjaga mulutnya. Tak ada satu pun laki-laki yang sudi disumpahserapahi di depan umum. Boleh cerewet, tapi ada batasan. Jangan saat suami sedang makan. Secapek apa pun, tidak boleh memasang muka cemberut. Terutama, jangan mengungkit-ungkit kelemahan mereka di atas ranjang. Konon, makin kecil ukuran kelamin seorang laki-laki, makin besar egonya.
Bujang lapuk itu lewat ketika Sri sedang menyuapi kedua anaknya di depan rumah. Tetangga yang berumah di ujung desa itu mengangguk, tersenyum, dan Sri membalas dengan suka cita. Sejak itu, keduanya rajin bersilih senyum dan bertukar kata, lalu menikah setengah tahun kemudian.
Guru honorer di sebuah SMP negeri itu rajin, sabar, dan tidak banyak tuntutan. Tinggi badan dan berat tubuhnya seimbang. Dan yang paling penting, dia sayang kepada kedua anak sambungnya.
“Wildan! Makruf! Bapak mau ke sekolah! Salim dulu!” seru Sri, pagi itu.
Kedua balita itu berhenti main kejar-kejaran, lalu gegas mendekati sosok berpakaian PSH warna hitam yang memandangi mereka dengan tatapan mata yang seakan bercahaya. Bergantian, kedua bocah mengulurkan tangan. Pak Guru Honorer menyambut uluran mereka, lalu memberikan bonus kecupan di pipi masing-masing bocah.
“Da da! Da da, Bapak!”
Kedua bocah itu melambai-lambaikan tangan, mengiringi laju sepeda motor yang sudah uzur usianya. Setelah punggung bapak sambung mereka hilang di tikungan, keduanya kembali bermain, kali ini petak umpet. Si kecil bersembunyi di balik pohon pisang yang ukuran batangnya lebih kecil dibanding tubuhnya, dan sudah barang tentu sang kakak segera menemukannya.
Sri tersenyum melihat tingkah kedua anaknya. Mereka lucu dan menggemaskan. Dia sangat bangga dan bersyukur. Perkembangan fisik dan psikis sulungnya, Wildan sangat luar biasa. Sorot matanya tajam, mengisyaratkan kecerdasan dan tekad pantang menyerah. Harapan Sri akan anak yang ditunggunya selama bertahun-tahun itu tak pernah berubah, bahkan dari hari ke hari kian bertambah. Suatu hari nanti anak kebanggaannya itu akan membuatnya bahagia saat memasuki hari tua.
Berbeda dengan si sulung yang berkulit cokelat, adiknya, Makruf berkulit putih. Bocah yang dulu diharapkannya lahir perempuan itu berwajah manis, cengeng, dan suka ngambek saat diganggu kakaknya yang suka usil. Namun, Sri optimis kelak dia akan menjadi anak yang kuat dan tegar menghadapi rintangan dunia.
Kedua anak tersebut cepat beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru. Bisa jadi karena mereka masih bocah sehingga jauh dari prasangka. Tak seperti Perumnas, rumah kakek mereka cukup besar, berhalaman luas. Pada setiap kesempatan sang kakek siap sedia menjadi teman bermain yang menyenangkan bagi kedua cucunya. Sang kakek menyediakan punggungnya untuk ditunggangi, dan Wildan serta Makruf segera berlaku seperti cowboy, lengkap dengan teriakan-teriakan mereka yang berisik.
Sepulang dari sekolah nanti, setelah makan, istirahat sebentar, lalu dilanjutkan menggarap sawah sewaan yang tidak seberapa luas, sang bapak sambung ganti meladeni mereka main gelut-gelutan. Dia membiarkan Wildan dan Makruf menghajar, menendang, menindih, dan baru melepaskannya setelah laki-laki yang murah senyum itu berteriak-teriak minta ampun.
Selama menjalani pernikahannya yang ketiga, Sri telah mempraktikkan semua nasihat bapaknya dan hasilnya terbukti. Rumah tangganya aman, tenteram, dan dia hamil lagi.
“Berapa bulan?”
Sri tak segera menjawab, justru senyum dikulum. Tadi pagi dia memeriksakan kehamilannya ke bidan yang buka praktik di dekat kantor kelurahan, untuk memastikan.